Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Menantu Terbaik


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Di ruangan VVIP itu, Karin tampak begitu telaten menyuapi mama Herna. Sesekali sambil sedikit bercerita.


"Ayo ma, lagi sedikit buburnya." Karin kembali menyuapkan sesendok bubur untuk mama Herna.


Mama Herna menurut saja dan membuka mulutnya. Terlihat beliau berusaha menelan habis semua yang ada di dalam mulutnya. Terlihat agak susah payah karena maklum masih belum begitu enak makan. Apalagi makanan rumah sakit,, se ViP VIp nya kalau sudah di rumah sakit ya makanan tidak ada rasanya.


"Sudah cukup Rina. Mama sudah kenyang." ucap mama Herna kemudian sambil menahan sesendok bubur yang sedianya akan disuapkan Karin lagi.


"Iya ma. Kalau begitu minum airnya dulu ya." Ucap Karin sembari meletakkan sendok dan mangkuknya ke atas nakas.


Tangannya beralih ke gelas berisi air putih. Dibantu oleh Karin, mama Herna meneguk habis air dalam gelas itu. Dengan telaten Karin mengusap lelehan air dan barangkali ada sisa bubur di sekitar mulut mama Herna.


"Sudah bersih. Mama masih mau senderan begini atau mau rebahan?"


"Rebahan saja lagi Rina." jawab mama Herna.


"Baik ma. Kalau begitu Karin turunkan dulu ranjangnya."


Mama Herna mengangguk mengiyakan dan terus memperhatikan Karin yang dengan sigap mengubah letak dan posisi kemiringan ranjang tempat beliau berbaring.


Dari sisinya memandang,,, tampak wanita muda berhijab itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ia juga terlihat lelah namun senantiasa menguatkan diri merawatnya. Namun meski begitu, wanita muda itu tetap begitu cantik dan meneduhkan.


"Sudah nyaman belum ma segini ini?" tanya Karin saat merasa posisi itu sudah di level yang seharusnya nyaman untuk mama Herna.


"Sudah Rina. Terima kasih."


"Sama sama ma. Mama mau langsung tidur atau mau nonton tv dulu?"


"Nggak Rina. Mama cuma mau bicara denganmu." jawab mama Herna lirih.


Wajah Karin berubah menegang sesaat. Kedua alisnya tanpa sadar pun mulai saling berdekatan. Ia berpikir. Ia penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh mertuanya itu. Entah kenapa sejumput rasa trauma diajak bicara mertuanya itu tiba tiba berkelebat. Teringat saat terakhir mertuanya itu mengajak bicara adalah memintanya menjauhi Dion.

__ADS_1


"Apa sekarang juga akan begitu lagi?" batinnya.


Tidak salah rasanya kalau Karin merasa trauma kan? Wajar kan?


"Rina. Boleh mama bicara?" mama Herna mengejutkannya dari lamunannya.


"Silahkan ma. Mama mau Bicara apa ma?" tanya Karin kemudian masih dengan perasaan tak menentu.


"Mama minta maaf."


Kalimat yang begitu Singkat namun mampu membuat perasaan Karin yang semula tak menentu tadi menjadi sebuah perasaan lega.


"Rupanya hanya permintaan maaf. Ya Tuhan,,, ampuni hamba yang sudah berburuk sangka kepada mertua hamba ini." Karin merasa bersalah dengan pemikirannya sendiri tadi.


"Mama sudah menyengsarakanmu. Menyakitimu. Memisahkanmu dengan Dion. Bahkan mama tidak mengakui Delvara itu sebagai cucu mama." mama Herna menutup wajahnya yang kini dibasahi dengan airmata penuh penyesalan.


"Ma,,,Tidak perlu meminta maaf lagi ma. Kita lupakan saja semua yang sudah terjadi. Sekarang kita mulai hidup baru. Lembaran baru. Tujuan baru. Apa pun yang pernah terjadi pada Karin, sudah Karin ikhlaskan dan terima. Sudah Karin maafkan jika ada siapa pun yang merasa bersalah. Karin tidak dendam sama sekali."


"Mungkin kamu bisa memaafkan mama. Tapi apa cucu mama kelak tidak akan membenci mama untuk semua ini?"


Bulir bulir bening terus berjatuhan membasahi wajah mama Herna. Dengan sigap Karin mengambil tisu dan mengelapnya.


"Mama kok nangis terus? Ada yang sakit? Yang mana ma? Bilang sama Karin." Karin khawatir mama Herna menangis karena ada yang terasa sakit.


"Tidak ada yang sakit Rina. Ini airmata bahagia. Mama bahagia masih diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan. Masih dibukakan mata hati mama,,, sehingga mama bisa dengan jelas melihat bidadari tak bersayap ini. Bidadari yang Dion bawa ke rumah mama. Yang seharusnya selalu mama sayangi. Kamu memang menantu terbaik yang dihadiahkan oleh Tuhan untuk mama sayang."


"Mama terlalu berlebihan memuji Karin." wajah Karin bersemu merah.


"Apa yang mama bilang itu benar kok sayang." Dion masuk dan menyela.


Dalam gendongan lengan kekarnya tampak sang putra yang makin hari makin tampan saja tengah tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang baru dua tiga tumbuh di depan.


"Delvara,,,Sini sama nenek sayang." mama Herna langsung bisa bangun melihat cucu satu satunya itu.


"Eh pelan pelan ma." Karin cemas gerakan tiba tiba mama Herna nanti bisa menyebabkan masalah baru untuk kesehatan beliau.

__ADS_1


"Mama akan lebih cepat pulih kalau ada Delvara terus di sini." ucap mama Herna sambil mencubit pipi gembul Delvara dengan gemasnya.


"Dan memang sebaiknya mama cepat sembuh. Biar bisa segera pulang kita. Mama gak tau sih seberapa menderitanya Dion." keluh sang putra dengan wajah manjanya.


"Menderita kenapa om papa?" tanya Karin.


"Menahan gejolak rindu padamu sayang. Masak sejak pertemuan kita ini,, kita sama sekali belum,,, mmmmppphhh,, Mmmppphhh,,,,"


Karin dengan cepat membungkam mulut nakal Dion yang pasti akan mengatakan hal hal berbau kemesraan di atas ranjang di depan mama Herna. Karin sambil menahan malu terus membungkamnya meski Dion terus berusaha melepaskannya.


Delvara hanya melongo melihat aksi kedua orang tuanya. Wajah polosnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Lain dengan mama Herna yang senyum senyum simpul saja mengerti apa yang akan dikatakan Dion tadi.


"Kok dibungkam sih sayang. Om papa jadi susah napas lho." protes Dion begitu Karin melepaskan tangannya.


"Kalau gak gitu om papa akan bablas aja ngomongnya." gerutu Karin.


"Memangnya kenapa??" protes Dion.


"Malu sama mama dong." Karin mendelik.


"Gak apa apa. Gini gini mama juga pernah muda kok. Mama juga pernah di tahap seperti kalian. Masih gencar gencarnya. Mama malah senang kalau kalian begini. Siapa tau akan segera ada Dion junior kedua kan." lirik mama Herna pada Dion.


"Naaahh betul itu. Ayo kita bikin anak lagi sayang. Del udah cukup besar kok untuk jadi kakak. Tapi kita musti ubah posisi ya. Jangan kayak kemarin. Biar kali ini jadinya cewek anak kita." Dion semangat di dukung dan makin jauh ngomongnya.


"Om papaaaaaa!!!!" wajah Karin seperti kepiting rebus.


"Iya benar. Mama juga pengen lho punya cucu perempuan. Pasti akan secantik menantu terbaik mama ini. Cucu perempuan mama akan cantik hati dan parasnya seperti mamanya." Mama Herna memuji Karin.


"Ma,,, Terima kasih sudah menempatkan Karin di posisi seistimewa itu." ucap Karin.


"Kamu memang berhak sayang. Mama akan dengan bangga mengatakannya kepada dunia bahwa kamu adalah menantu terbaik di dunia."


...❤️❤️❤️❤️...


...Para menantu,,,jangan iri sama Karin yaaa😆...

__ADS_1


__ADS_2