
"Apa kau lelah?".
"Tidak, aku bahagia", jawab Nara tersenyum lalu perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
Semua mata tertuju pada Dannis dan Nara, pengantin yang sedang berbahagia tentu saja.
Papa Kemal menepuk pundak putra bungsunya seraya berkata, "Jaga tatapanmu, buang rasa yang kau punya untuk Nara lihatlah dia milik kakakmu seutuhnya".
Baim menoleh pada pria yang menjadi panutannya itu seraya tersenyum kesal.
"Jika kak Dannis mati aku akan menggantikannya di sana".
Papa Kemal membalas tatapan Baim penuh tanya.
"Aku hanya bercanda, papa terlalu serius", sambung Baim lagi seraya terkekeh.
Papa Kemal hanya bisa geleng kepala dibuatnya, lalu ia menunjuk pada seorang gadis yang cantik tidak jauh dari mereka berdiri.
"Kau lihat dia, ajaklah mengobrol mana tahu kalian berjodoh. Papa ingin kau tidak mengikuti jejak papa dan Dannis dalam hal menikah".
"Maksud papa?".
"Papa ingin kau menikah muda, jadi jangan sia-siakan waktu percuma, kau akan tahu betapa menyenangkannya memiliki seorang istri", jawab papa Kemal yang matanya masih tertuju pada gadis itu.
"Papa jangan bercanda", ucap Baim tidak percaya akan keinginan papanya itu.
"Ajaklah dia mengobrol, papa lihat dia melirikmu beberapa kali", ucap papa Kemal mendorong tubuh Baim pelan.
"Papa ayolah, kak Alea sudah jadi menantu paman Ricko, apa papa juga ingin aku menjadi menantu paman Andra? suka sekali berbesan dengan teman sendiri, aku tidak mau", jawab Baim kesal.
__ADS_1
"Mau atau tidak sekarang pergilah sapa dia, bukankah kalian lama tidak bertemu", papa Kemal kembali mendorong tubuh putra bungsunya menuju gadis cantik yang sedang mengobrol sesama perempuan di sana.
Di lain sisi terdapat pria yang sedang menarik tangan seorang gadis berjalan sedikit lebih cepat menuju jalan keluar dari ball room hotel tempat resepsi pernikahan Dannis dan Nara.
"Reno hentikan, kenapa kau kekanakan seperti ini ayolah pestanya belum usai", rutuk Naura kesal sejak tadi ia terus saja mendampingi teman yang susah move on dari mantan tunangannya itu.
Langkah mereka terhenti saat bertepatan dengan Arkhan dan si kembar milik Abrar Azzam dan Eza yang entah dari mana datangnya.
Naura segera melepas genggaman tangan Reno saat mata abang keduanya itu menatap penuh tanya.
"Bang Arkhan", sapa Reno dan Naura berbarengan, entah kenapa mereka menjadi canggung satu sama lain.
Terlebih Azzam tiba-tiba bertanya, "Paman Reno dan bibi Naura berpacaran?".
"Apa?", wajah Naura memerah oleh pertanyaan itu.
"Naura kakakmu melati mencarimu sejak tadi, ayo kita ke sana", ajak Arkhan dengan raut sulit dimengerti, pria yang menjadi saudara satu ayah Naura ini pun menarik tangan Naura menjauh dari Reno yang masih terdiam mematung diikuti Eza di belakang mereka.
"Apa paman Reno sudah menyatakan cinta pada bibi Naura? sepertinya kalian terhalang restu".
"Diam kau bocah nakal, tahu apa kau tentang cinta", jawab Reno menutup mulut keponakannya itu.
"Paman hentikan kau merusak dasi kupukupu ku", ucap Azzam meronta.
*****
Nara membangunkan Dannis tengah malam ketika ia kembali dari kamar mandi.
"Dannis, ayo bangun".
__ADS_1
"Hmmm".
"Sayang ayolah bangun sekarang", tepuk-tepuk Nara pada pipi suaminya.
Tidak mendapat respon Dannis kembali Nara berkata, "Sayang aku ingin melahirkan".
"Apa?", mendengar itu Dannis langsung terjaga meski kepalanya menjadi pusing.
"Nara jangan bercanda".
"Aku tidak bercanda, aku melihat ada darah ketika di kamar mandi perutku juga mulai mulas sesekali sejak sore".
Dannis membesarkan matanya, pria itu bangun namun terlihat bingung.
"Jadi kita harus bagaimana? kenapa tidak bilang".
"Aku juga tidak tahu, bukankah dokter mengatakan kita harus ke rumah sakit ketika mulasnya sudah lebih sering".
"Tidak tidak, kita ke rumah sakit saja sekarang", bantah Dannis yang segera bangun dari ranjang.
"Apa tidak terburu? bagaimana jika kita hubungi mama dulu", ucap Nara.
"Ide bagus", Dannis tidak berkata lebih lagi, dadanya mulai merasa cemas menghadapi situasi ini meski ia telah siap sejak lama menunggu hari kelahiran sang buah hati.
Dannis berjalan ke sana kemari menunggu orangtuanya mengangkat telepon, karena tentu tidak mudah terlebih ini masih tengah malam.
Nara mulai mengatur napas dalam jika rasa mulasnya muncul, ia belajar banyak tentang menghadapi proses persalinan dari kelas hamil yang rutin ia ikuti meski ia merasa dadanya berdegup kencang, irama nadinya tidak beraturan tangannya mulai gemetar menahan sakit yang perlahan lebih sering muncul.
Namun yang menjadi mengkhawatirkan adalah satu bulan terakhir ia mengalami tekanan darah tinggi atau keracunan kehamilan yang biasa terjadi pada beberapa ibu hamil terlebih Nara sulit mengontrol nafsu makannya yang sembarang mengkonsumsi jajanan tidak sehat yang bisa menyebabkan ia mengalami hal itu.
__ADS_1
Dokter telah menyarankan agar ia melakukan persalinan melalui operasi sesar untuk meminimalkan risiko, namun entah kenapa Nara menolaknya meski Dannis memaksanya sekalipun, tentu menjalani persalinan secara normal adalah impian setiap wanita begitupun Nara terlebih umurnya yang terbilang sangat muda.