Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 61


__ADS_3

Tangis mama Clara dan Naura pun kembali pecah ketika Alea memberitahu kondisi terkini papa Agung, dua perempuan itu berdiri dan berjalan cepat menuju ruang ICU, Alea diberitahu oleh seniornya bahwa boleh masuk lebih dari dua orang agar semua keluarga bisa melihat pasien yang tengah berada di ujung maut, meski harus tetap menjaga etika agar tidak ribut atau meraung-raung menangis yang akan mengganggu pasien lain, mama Clara dan Naura pun masuk mereka berdiri di samping Arkan sambil terus tersedu meredam suara tangis.


Mereka semua menyaksikan dua orang perawat yang memberi napas bantuan dan seorang dokter jaga yang tengah melakukan pijat jantung sebagai usaha terakhir untuk bisa menyelamatkan pasien, dimana layar monitor tidak bisa diajak kerjasama lagi, nilai-nilai yang menjadi tolak ukur keadaan pasien itu pun perlahan menghilang, yang semula hilang timbul namun di menit-menit terakhir semuanya hanya bergambar garis lurus, sudah hampir setengah jam tenaga medis itu berusaha maksimal namun pada kenyataannya papa Agung telah menyerah.


Perawat dan dokter itu pun menghentikan tindakannya yang akan menjadi sia-sia jika terus dilanjutkan, Abrar dan Arkan melihatnya sendiri bahwa dada yang semula tersengal dan bernapas satu-satu kini telah diam selamanya, tangan yang terus mereka genggam semula panas karena demam, sekarang berubah menjadi sedingin es.


Dokter jaga itu pun menyuruh semua keluarga untuk menunggu di luar, karena akan dilakukan perekaman jantung yang akan memberikan keputusan tentang kondisi akhir papa mereka.


Alea dan Melati hanya bisa mengusap punggung suaminya masing-masing yang terduduk menunduk lesu, entah bagaimana perasaan mereka melihat wajah pria tua yang menjadi teman bermain mereka ketika kecil, setelah dua puluh tahun terpisah siapa sangka malam ini mereka baru membuka hati untuk datang yang ternyata hanya untuk bertemu dan mendampingi pria tua itu menuju penghujung hidupnya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


Abrar maupun Arkan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka terhadap diri sendiri sebab sudah sepuluh hari ayah mereka dirawat dan beberapa hari lalu mereka juga datang ke rumah sakit namun tidak jua membuka hati hingga baru semalam mereka datang hanya untuk bertemu terakhir kalinya, alangkah menyesalnya mereka andai saja ketika beberapa hari lalu bisa mengalahkan ego, mungkin bisa menghabiskan waktu mendampingi papanya hingga hari ini, namun apalah daya penyesalan memang selalu datang di akhir cerita.


Mama Clara dan Naura masih tersedu-sedu menangis sambil memeluk satu sama lain, semuanya hening sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing sampai pada dokter jaga memanggil mereka kembali untuk masuk.


Abrar dengan cepat berlari diikuti oleh yang lainnya, mereka semua menghadap dokter jaga yang merupakan senior Alea tersebut, dokter perempuan itu memegang kertas hasil rekam jantung di tangannya yang isisnya hanya berupa garis lurus saja.

__ADS_1


"Saya mohon maaf pada keluarga harus menyampaikan ini, seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa tuan Agung memang sudah berada pada kondisi terbawahnya sejak di rawat disini, dan beberapa saat lalu keluarga juga sudah melihat tindakan kami sebagai petugas yang sudah berusaha maksimal sesuai prosedur yang ada namun lagi-lagi kita hanya bisa berusaha pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan, tuan Agung telah menyerah pada sakitnya Tuhan lebih menyayangi beliau, sekarang saya menyatakan bahwa tuan Agung telah meninggal dunia pada pukul 6.45 pagi ini, kami turut berduka, semoga keluarga bisa ikhlas dengan ini, keluarga boleh kembali menunggu diluar karena petugas akan melakukan perawatan jenazah, silahkan selesaikan administrasinya" ucap dokter itu sopan sambil menunjukkan kertas rekam jantung ditangannya.


Tangis mereka kembali pecah mendengar pernyataan dokter tersebut, semuanya berduka, mereka kembali menunggu di luar Abrar dan Arkan hanya diam menunduk dengan penyesalan, inilah yang mereka inginkan sejak lama namun kenapa pagi ini terasa berbeda, ingin rasanya mereka menarik ucapan jahat yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang anak yang terus mendoakan sang ayah tiada hanya karena sebuah kesalahan di masalalu yang membekas dihati mereka.


Menyesalpun tidak ada gunanya sekarang, Tuhan sudah mengabulkan doa mereka, namun daripada itu Abrar maupun Arkan masih merasa bersyukur bisa bertemu meski untuk terakhir kalinya yang hanya beberapa jam saja hingga bisa mendampingi dan melepas papa mereka menuju akhir hayatnya.


"Aku akan mengurus administrasi papa, kalian tunggulah disini" ucap Alea pada mereka yang terus saja diam dalam hening.


Abrar mengangguk, Alea pun berlalu dari sana menuju ruang administrasi untuk menyiapkan pemulangan jenazah papa mertuanya.


Alea memberi kabar duka itu pada mama dan papanya serta keluarga mama Bella dan papa Ricko, hingga mereka pun datang untuk memberi penghormatan terakhir pada sosok yang berada pada masa lalu mereka.


Abrar dan Arkan ikut memandikan jenazah ayahnya di sebuah rumah kontrakan sederhana yang sangat kontras dengan kehidupan dua pria itu selama ini yang bergelimang harta, tampak pula kedua orang tua Vina yang datang melayat karena mereka bertetangga, namun tidak ada Vina disana entah kemana mantan istri dari Arkan itu.


Inilah yang Alea inginkan, meski dipenghujung namun semuanya terasa damai dimana suami dan iparnya sudah memaafkan papa Agung dan sekarang dua pria itu memberikan pelayanan terbaik dan penghormatan sebagai anak untuk terakhir kalinya pada jenazah yang sudah pergi dengan tenang itu, hanya menunggu jenazah siap dimandikan mereka akan segera menuju ke pemakaman, Alea bahagia bahwa konflik antar anak dan ayah itu berakhir dengan baik.

__ADS_1


Alea memeluk mamanya, ia sungguh merasa bersyukur memiliki orang tua lengkap sampai hari ini dimana papanya masih gagah dan sehat serta perempuan yang ia peluk masih cantik dan awet muda, doa terbaik untuk kedua orangtua akan selalu ia panjatkan, karena tidak semua bernasib baik sepertinya contoh saja Abrar suaminya.


Di pemakaman, semua menangis haru melihat Abrar dan Arkan benar-benar turun langsung menyambut dan menguburkan jenazah ayahnya hingga kemeja mereka kotor karena tanah.


Setelah semuanya usai, hanya ada mereka yang masih betah memandangi pusara yang sudah di taburi banyak bunga diatasnya, Alea masih memeluk papanya sejak tadi yang berdiri disamping mama Eliana, Melati terus mendampingi mama Clara dan Naura, mama Bella dan papa Ricko pun masih terlihat disana.


Abrar melangkah ke arah Naura berdiri yang masih terisak dengan tangisnya, pria ini meraih tubuh gadis itu lalu mendekapnya, dimana semua mata menangis menyaksikan itu terlebih Alea yang kian membenamkan wajahnya di dada papa Kemal yang kian tersedu, papa Kemal senantiasa mengusap punggung putri sulungnya dengan sayang, sambil satu tangannya tetap merangkul sang istri.


"Mulai sekarang, kau akan menjadi tanggung jawabku.....aku yang akan menggantikan sosok papa untukmu Naura, kau adikku sama seperti bang Arkan" ucap Abrar singkat namun penuh arti membuat Naura menjadi pecah tangisnya didada sang kakak lelaki yang sudah benar-benar menerima kehadirannya itu.


Mama Bella mengusap airmatanya dalam dekapan sang suami, perempuan paruh baya itu tersenyum bahagia melihat bahwa ia telah berhasil mendidik Abrar dengan baik.


####


Rip papa Agung.....

__ADS_1


Author nangis sumpah.....


__ADS_2