Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Mudik


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Kondisi mama Herna yang makin membaik bahkan bisa dibilang cukup cepat prosesnya membuat Dion makin mantap mengurus semua dokumen yang akan mereka perlukan dalam perjalanan pulang ke Indonesia.


Rasa rindu pada tanah kelahiran juga membuat ia sangat bersemangat. Rasanya sudah bertahun tahun tak menginjakkan kaki di bumi pertiwi.


Rasa rindu akan sang sahabat yang telah dahulu berpulang kepada penciptanya juga menambah volume ingin segera pulang makin bertambah. Bagaimana pun, Dion belum pernah sekalipun mengunjungi rumah terakhir sahabatnya itu.


Meski begitu ia sudah bisa membayangkan ketiga makam berjejer itu tentu membuat pemiliknya bahagia disana. Bisa kembali bertemu di surgaNYA.


Dion yang diam diam juga telah berkonsultasi dengan dokternya mengenai kesehatan fisik dan reproduksinya mengingat usia yang makin tidak bisa diajak kompromi.


Tapi keterangan dokter juga yang membuatnya ingin segera memprogram untuk kehadiran junior keduanya. Dokter bilang ia masih berpeluang untuk bisa membuahi.


Dan kali ini Dion tak ingin sedikit pun melewatkan masa tumbuh kembangnya baik mulai dari masih dalam rahim maupun sudah hadir ke dunia kelak. Dion selalu berdoa dan meminta kepada Rabbnya agar di beri umur panjang.


"Agar hamba bisa menemani anak anak dan istri hamba lebih lama."


Sepenggal kalimat itu selalu terselip dalam doa doa Dion.


Hari itu langit Indonesia begitu cerah seolah tau betapa cerah juga hati dan perasaan Dion sekeluarga yang dengan ijinNYA bisa kembali menghirup oksigen yang sama dengan yang mereka hirup saat terlahir ke dunia.


Setelah melewati masa kelam nan panjang,,, oksigen ini mampu memberikan kesegaran dan semangat baru bagi mereka.


"Akhirnya kita sampai ma." ucap Dion.


"Iya Dion. Mama rasanya kangen sekali dengan suasana di sini. Kamu mau langsung antar mama pulang ke rumah mama atau ke mana?" tanya mama Herna.


"Kok antar sih ma? Mama itu akan tinggal bersama kami. Tidak ada ceritanya mama tinggal terpisah dari kami. Kami ingin selalu bersama mama. Delvara masih butuh waktu kebersamaan dengan mama. Mama mau kan tinggal sama kami?" tanya Karin.


"Apa tidak merepotkan kalian nantinya?"

__ADS_1


"Nggak dong ma. Ijinkan kami merawat mama ya." Karin meminta ijin mertuanya itu.


"Yakin kalian? Tidak risih nanti kalau mau happy happy berdua? Kalian bukannya mau honeymoon sesi kedua ini?" mama Herna sedikit tergelak mengatakannya.


"Ah mama ini. Pasti om papa deh ini yang mengajari mama bicara begini ya?" Karin mendelik ke arah Dion.


"Yeee kok om papa yang dituduh? Orang mama yang ngomong sendiri kok." protes Dion.


"Ngaku deh." sungut Karin manja.


"Nggak sayang. Bukan om papa yang ajari. Mama aja yang inisiatif ngomong begitu. Tapi Dion makasih banget lho ma,,,tau aja mama pikiran Dion tentang honeymoon kedua hehehe,,,"


Bersamaan dengan itu pukulan pukulan manja dari sang istri pun mendarat di lengannya. Delvara yang digendong di bagian lengan satunya malah tertawa tawa melihat papanya mengaduh manja.


"Tuh kan,,,anak papa aja juga dukung kan kalau papa sama mamanya mau honeymoon kedua. Iya kan Del?? Del mau dibikinin adik ya??" tanya Dion dengan logat kekanak kanakannya pada Delvara.


"Au,,au,,, auuu,,,"


"Gaaasss sayang,,,!!!"


"Addduuuhhh" detik berikutnya Dion malah mengaduh karena telinganya terasa panas dan tertarik.


"Anak sama bapak sama saja ya. Kebiasaan gak tau malu ada mama juga di sini ah." Karin menjewer telinga Dion.


Mama Herna yang melihat Dion meringis kesakitan dan malah ditertawai oleh Delvara jadi ikut tertawa juga.


"Kalian ini ya,,, Tetaplah begini ya. Bahagia selalu.Dion kamu punya tanggung jawab besar untuk menjamin kebahagiaan keluargamu. Contohlah papa,,, Lihat bagaimana bahagianya mama selama bersama papa. Mama ingin kamu memberikan kebahagiaan yang sama seperti itu kepada menantu kesayangan mama ini." ucap mama Herna.


"Dion usahakan sebaik baiknya ma."


"Rina juga ya,,, Selalu dampingi suamimu ini. Ikuti langkahnya kemana pun ia pergi selama itu mengarah pada kebaikan tapi segera ingatkan dia kalau langkahnya mulai tidak benar. Membahagiakan keluarga juga tetap harus dijalanNYA."


"Iya ma. Karin akan selalu ingat pesan mama."

__ADS_1


"Udah ah pesan pesannya. Mama ini udah kayak mau pergi ninggalin kita aja. Mama ini baru pulang dan gak akan kemana mana. Mama akan sama sama kita. Jadi Dion minta mama juga selalu bantu dan ingatkan kita kalau kita berdua mulai salah arah." pinta Dion.


"Iya Dion. Ya sudah kita jalan yuk. Mama pengen segera mainan sama Del. Biar kamu juga bisa segera mainan sama itumu itu." canda mama Herna sekali lagi membuat wajah cantik menantunya bak kepiting rebus.


Biar gak makin memerah maka Dion langsung memeluknya dengan erat. Berpelukan bertiga layaknya keluarga harmonis lainnya. Ada ayah, anak dan ibu.


"Kasihan sayangnya om papa ini. Malu ya?? hehehehe,,,"


"Udah dong candanya. Malu banget tauuuu,,," bisik Karin dalam pelukan Dion.


"Iya iya. Udah yuk kita pulang aja yuk. Kasihan juga Del."


Karin mengangguk lalu mereka saling melepaskan diri. Mobil yang sudah disiapkan untuk menjemput mereka juga sudah menunggu. Dan perjalanan pulang ke rumah pun kembali di mulai.


Sepanjang jalan baik Karin dan Dion terus saling berpegangan tangan memandang sisi sisi jalanan yang mana mungkin pernah ada kenangannya bagi masing masing.


Keduanya tak saling mencampuri masa lalu masing masing. Seperti kata Dion sebelumnya,,, Ada yang pantas untuk dikenang saja, tak perlu dibawa bawa ke masa depan.


Sesekali Dion hanya menceritakan pada Karin kenangannya bersama sahabatnya saat melewati sebuah tempat yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.


Karin terlihat antusias mendengarkan cerita Dion apalagi kalau sudah tentang Darren yang seperti tak ada habisnya. Sempat mengenal Darren sebelumnya juga membuat Karin paham betul dan mengerti kenapa suaminya begitu menyayangi sahabatnya itu.


"Kalau om papa mengunjungi makamnya, Karin ikut ya." ucap Karin.


"Iya sayang. Terima kasih mau menganggapnya penting." sahut Dion.


"Apa pun mengenai om papa adalah penting bagi Karin." sang istri menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Dion pun melingkarkan tangannya untuk merangkul bahu Karin. Mendekap Karin dan Delvara adalah kebiasaan baru yang sangat menyenangkan bagi Dion. Terasa menyejukkan jiwanya yang telah lama hampa.


Mama Herna yang duduk di kursi depan melirik lewat cermin di tengah depan dekat sopir. Beliau tersenyum melihat kebahagiaan itu.


"Setidaknya jika sewaktu waktu Engkau ingin memanggilku, aku sudah siap Tuhan. Aku sudah lega dan melihat sendiri bagaimana menantu terbaik darimu ini akan menjaga putra semata wayangku dengan baik."

__ADS_1


Mudik bersama keluarga kali ini terasa begitu menyenangkan bagi semuanya.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2