Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 32


__ADS_3

Dannis menatap lama seorang perempuan yang masih terlelap dan masih meringkuk dengan tidurnya di sofa, pria itu heran dan merasa lucu ketika tahu bahwa Nara tidur dengan mulut terbuka.


Pria yang sudah berpakaian rapi untuk ke kantor itupun geleng kepala seraya bergumam, "Apa tidak kering tenggorokannya tidur dengan mulut terbuka? huh..... aku sudah bersiap ke kantor jika tidak akan ku masukkan air lemon ke dalam mulutmu".


Dannis bergidik sendiri membayangkan rasa asamnya lemon jika benar ia mengerjai Nara saat ini, melihat perempuan itu menggeliat ia menjadi terkejut dan segera pergi dari sana.


Menuruni anak tangga, bersamaan dengan Baim yang juga ikut turun dengan pakaian yang juga sudah rapi dengan tas ranselnya seperti biasa akan ke kampus.


Baim melewati Dannis tanpa basa basi, membuat pria itu mengernyit heran bahwa adiknya tidak seperti biasa.


"Kenapa kau pergi pagi-pagi sekali? bukankah kau paling suka terlambat ke kampus?", tanya Dannis menghentikan langkah adiknya.


"Aku ada kerja kelompok", jawab Baim singkat dan melanjutkan jalannya.


Dannis menatap punggung adiknya heran, ia menghembus napas dan melanjutkan niat ke dapur untuk sarapan sebelum ke kantor.


"Mama sudah pulang?", tanya Dannis heran ketika mendapati mamanya yang menyiapkan sarapan di dapur.


"Mama pulang subuh tadi sayang, kenapa terkejut apa mama mengganggu pengantin baru ini?", goda mama El mengusap pundak Dannis yang mendudukkan dirinya di kursi.


Dannis hanya geleng kepala saja, ia melirik Baim yang sudah memakan sarapannya dengan cepat tanpa banyak bicara, hal itu membuat Dannis heran.


"Bagaimana kabar Alea?", tanya Dannis mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik, besok juga sudah bisa pulang.... ", jawab mama El lagi.


"Baim, makanlah pelan-pelan", ucap mama El menuangkan air minum putra bungsunya.


Baim hanya diam saja.


"Dannis kenapa kau pagi-pagi sekali ke kantor? kenapa tidak libur saja, kau bisa mengajak Nara berkencan bukan? ayolah sayang jangan lupa kalian pengantin baru".


Baim mengentikan makannya dan melirik Dannis dengan tatapan sulit diartikan.


"Aku sibuk ma, tidak punya waktu untuk hal begituan", jawab Dannis cuek.


"Mana boleh seperti itu Dannis, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan mulai sekarang kau juga harus memperhatikan istrimu, apalagi banyak yang harus dipersiapkan menjelang resepsi, jadi kalian harus lebih banyak waktu untuk berdiskusi".


"Ayolah ma, pekerjaanku sangat banyak jadi biarkan otakku fokus dahulu pada pekerjaan bukan pada hal lain".

__ADS_1


"Huh.... mama rasa kalian butuh waktu berlibur agar meregangkan otakmu yang sok sibuk", ucap mama El lagi.


"Mama....", ucap Dannis dengan nada kesal.


"Baiklah terserah kau saja, mana Nara kenapa kau sendiri yang turun?".


"Dia masih tidur", jawab Dannis singkat.


Kata itu membuat mama El tersenyum sendiri.


"Kenapa mama tersenyum?", tanya Dannis heran.


"Tidak..... mama hanya merasa pasti istrimu kelelahan, ayo lanjutkan makanmu... mama harap kalian terus berbahagia", ucap mama El mengusap punggung Dannis lembut seraya terkekeh geli.


Membuat Baim yang diam sejak tadi pun menyela.


"Aku sudah selesai, aku pergi dulu ma.... temanku sudah menunggu", ucap Baim seraya berdiri dan menghampiri mamanya mencium pipi Eliana.


"Kenapa kau tergesa-gesa Baim? kau tidak menghabiskan makanmu?".


"Aku sudah kenyang", jawab Baim seraya melirik kakaknya dengan tatapan dingin.


"Apa kau merasa adikmu terlihat berbeda? kita semua tahu bahwa dia tidak pernah ke kampus sepagi ini apapun alasannya".


Dannis hanya menghardikkan bahunya dan menyelesaikan sarapan sebelum berpamitan pada sang mama.


*****


Khinara menggeliat, ia menguap dan mengerjapkan matanya beberapa kali seraya mengambil napas dalam dan meregangkan ototnya duduk dari baringnya.


Ia terkejut ketika melihat sinar mentari masuk di sela jendela yang telah terbuka, ia melihat sekeliling dan tidak mendapati siapapun di sana.


Nara menatap dirinya yang memakai selimut.


"Hum.... aku rasa dia masih seorang manusia, jika tidak aku bisa mati kedinginan", gumam Nara menyadari bahwa semalam ia tidur tidak memakai selimut, tentu Dannis lah yang memberikannya.


Nara berdiri, berjalan menuju kamar mandi.


"Tuan, tuan Dannis apa kau di dalam?", tanya Nara yang tidak berani masuk ke kamar mandi, ia mengira pria itu di dalam sana.

__ADS_1


Tidak mendapat jawaban akhirnya Nara berani untuk masuk, benar saja tidak ada siapa-siapa di sana.


"Kemana dia? apa dia sudah pergi pagi buta ini?", Nara bergumam sambil melirik jam dinding.


"Ha? ini sih bukan pagi buta tapi sudah menjelang siang, ah.... kenapa aku bisa bangun sesiang ini? ini benar-benar memalukan, aku menumpang di rumah mertua mana boleh bangun se siang ini, jika ini di rumahku mungkin ibu dan Ranti sudah menyiramku dengan air es".


Nara terus merutuki tidurnya yang sangat pulas hingga baru terbangun sekarang.


"Tentu saja aku kesiangan, mungkin otakku lelah dan butuh istirahat banyak setelah menghadapi suami tampan yang kejam itu", Nara menggerutu kesal mengingat perlakuan Dannis kemarin.


Beberapa menit kemudian, Nara keluar kamar mandi dengan wajah yang sudah segar dan cantik mengenakan dress di atas lutut yang memancarkan aura kecantikan luar dalam.


Nara tidak pernah berdandan, ia hanya memakai pewarna bibir yang tampak alami saja itupun juga pemberian Sheira.


Ia menatap dirinya di cermin, ia merasa canggung dengan pakaian yang ia pakai.


"Ini terlalu pendek, aku malu ingin keluar kamar, nona Sheira benar-benar ingin aku mengurung diri saja di kamar, semua baju yang dia berikan tidak ada yang terlihat sopan bagian bawahnya selalu terbuka", gumam Nara seraya berputar di depan cermin.


Kemudian gadis ini dibuat terkejut ketika seorang mengetuk pintu kamarnya. Segera ia membuka pintu yang ternyata pelayan di sana.


"Maaf mengganggu nona Nara, aku ingin membereskan kamar ini", ucap pelayan itu sopan.


"Oh tidak perlu, biar aku saja yang membereskannya.... mulai sekarang kau tidak perlu membersihkan kamar ini, biar menjadi tugasku sekarang", jawab Nara lembut.


Pelayan itu tersenyum dan mengangguk, "Baiklah nona, terimakasih sudah meringankan tugasku, oh ya nyonya Eliana berpesan padaku jika nona Nara sudah bangun turunlah untuk sarapan".


"Ah.... kau membuatku malu saja, maaf aku kesiangan, apa mama El ada di bawah? tuan Dannis?".


"Nyonya dan tuan Kemal sudah pergi lagi ke rumah sakit, tidak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali kami para pelayan saja nona, tuan Dannis sudah ke kantor pagi-pagi sekali".


"Oooh... begitukah, hmm baiklah sepertinya aku malu untuk keluar kamar, lihat pakaianku apa tidak terlalu pendek?", tanya Nara meminta pendapat.


"Nona cantik mengenakan apapun, turunlah tidak ada siapa-siapa di bawah, pelayan pria hanya bertugas di luar rumah, jadi nona tidak akan bertemu pria jika nona merasa malu", ucap pelayan itu sopan namun matanya melirik sofa dengan selimut dan bantal masih di sana, kemudian ia menatap dinding yang masih terlihat jelas beberapa bingkai photo kekasih Dannis terdahulu masih terpajang rapi.


"Baiklah, aku akan menyusul nanti", jawab Nara.


Pelayan itu mengangguk dan segera pergi dari sana seraya menatap Nara dengan wajah sulit diartikan.


"Selimut dan bantal di sofa apa mereka tidur terpisah? tuan Dannis juga tidak menyimpan photo kenangan nona Naya, bukankah itu terlihat aneh, mereka sudah menikah seharusnya tidak lagi menyimpan apalagi memajang photo mantan, apa nona Nara tidak keberatan akan hal itu? ya sudahlah.... bukan urusanku juga".

__ADS_1


"Tapi..... aku rasa ini bisa jadi gosip kami para pelayan bukan?", gumam pelayan itu terkekeh.


__ADS_2