
Nara mengerjapkan matanya berulang, mengumpulkan nyawa lalu tersadar bahwa ia tengah berada di atas ranjang milik Dannis, memakai selimut sampai dada gadis ini melirik ke samping dan ternyata pria itu telah bangun terlebih dahulu.
Nara mengusap wajahnya, "Huh.... kenapa aku enggan untuk bangun, ini memalukan bagaimana bisa aku di rumah mertua tapi tidur sampai siang", gumam Nara kesal sendiri saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi, namun senyumnya mengembang saat mengingat pria itu memeluknya sepanjang malam.
Nara kembali menggelengkan kepala seraya tangannya memegang dada yang terasa berdegup kencang, "Aku tidak boleh terlena, aku mendengarnya dengan jelas semalam bahwa tuan Dannis hanya mencintai nona Naya saja, itu artinya tidak ada kesempatan bagiku untuk berharap lebih dari ini, ohh kenapa aku mulai kesal mendengar nama perempuan itu, ya Tuhan..... aku mulai cemburu", gumam Nara lalu menutup wajahnya dengan malu.
Nara bergegas bangun setelah benar-benar siap dengan hatinya pagi ini, dengan cepat ia mandi dan berpakaian, karena tidak membawa pakaian Nara segera menghubungi iparnya Sheira untuk meminjam baju.
'Oh maafkan aku sayang mama tidak boleh membangunkan kalian tadi, kami semua pergi pagi-pagi sekali untuk melihat persiapan di hotel lagipula calon suami dan mertuaku akan tiba sore nanti, jika kau mau kau bisa masuk ke kamarku Nara pakailah baju apapun yang kau suka di lemariku', jawab Sheira ditelepon.
"Tidak, aku tidak berani masuk ke kamar mu Sheira, itu tidak sopan. Lalu aku harus bagaimana? apa kakakmu juga ikut? maksudku apa hanya aku yang tertinggal di sini?".
'Tentu tidak Nara, apa kak Dannis tidak berada di sana sekarang? kami pergi saat kalian masih tidur, oh sayang maafkan aku yang masuk tanpa mengetuk pintu, sepertinya aku akan mendapat keponakan baru', jawab Sheira terkikik geli.
"Apa?", Nara menggigit bibir bawahnya dengan rona merah menghiasi pipinya.
Iya, Sheira berniat membangunkan kakak sekaligus iparnya itu, namun tidak mendapat jawaban, ia masuk karena pintu kamar yang tidak dikunci membuatnya merutuki aksinya itu dimana Dannis dan Nara masih terpejam dengan tubuh Nara menghilang dalam pelukan kakaknya.
__ADS_1
'Nara, kau jangan marah oke aku menyesal masuk kamar kalian, aku terbiasa ketika kak Dannis masih bujangan, tapi aku bahagia sekali melihat kalian sepertinya sudah menerima satu sama lain, apa itu artinya Aira akan kedatangan adik bayi darimu?', Sheira kembali terkekeh dengan raut bahagia.
Nara bingung ingin menjawab apa.
'Oke lupakan, aku tahu kau malu sekarang, baiklah sebaiknya kau gunakan kaos suamimu saja jika kau tidak mau masuk ke kamarku'.
Nara kembali hanya mengiyakan saja lalu mereka saling menutup telepon.
"Huh aku benar-benar malu sekarang, mereka salah paham lagi", gumam Nara kesal sendiri.
Gadis itu memberanikan diri membuka lemari suaminya seperti saran Sheira agar memakai kaos pria itu saja.
Nara menuruni anak tangga, berpendar mencari Dannis jika saja pria itu masih berada di rumah, namun tampak sepi kecuali hanya ada para pelayan yang sedang bekerja.
"Dia pasti pergi, aku bingung harus mengerjakan apa di sini", Nara bergumam sendiri, ia merasa beberapa pelayan menatapnya aneh.
"Nona, anda sudah bangun.... silahkan sarapan, maaf semua anggota keluarga sedang tidak di rumah saat ini", ucap salah satu pelayan dengan sopan.
__ADS_1
Nara mengangguk, namun ia penasaran dengan suaminya maka ia pun bertanya.
"Maaf apa kau melihat suamiku?".
"Oh, tuan Dannis sedang olahraga pagi nona tapi belum kembali hingga sekarang".
"Begitukah, baiklah terimakasih", Nara akhirnya pamit ingin berjalan-jalan melihat pemandangan sekitar lingkungan rumah mertuanya itu.
Nara berjalan, melihat-lihat kesana kemari ia tidak juga menemukan dimana Dannis berada, gadis itu berjalan kaki menapaki setiap jalan yang menampilkan pohon-pohon pelindung yang tinggi, udara yang sejuk nan menenangkan meski matahari mulai menampakkan diri.
Karena terlalu asyik menikmati udara segar, Nara baru tersadar ia sudah berjalan lumayan jauh dari rumah.
Nara menepuk keningnya sendiri, ia segera berbalik badan berniat ingin kembali.
Namun ia dikejutkan oleh seorang pria yang berpenampilan lain, dan tentu saja pria itu menghalangi jalannya dengan sengaja seraya menyeringai dengan raut bahagia namun menakutkan bagi Nara.
"Siapa kau?", tanya Nara takut.
__ADS_1
Dengan senyum pria itu menjawab seraya merentangkan kedua tangannya seperti menanti pelukan, "Kemarilah sayang, aku telah lama menunggu mu istriku".
"Apa??".