Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Kamar Sebelah


__ADS_3

...Selamat membaca 🍭...


...🧁🧁🧁...


Malam itu sepulang dari rumah sakit mama Herna berpapasan dengan Dion yang mengambil air minum. Mama Herna meminta Dion besok meluangkan waktu untuk menjemput Hana di rumah sakit dan membawanya pulang ke rumah.


"Dion gak bisa ma." tolak Dion.


"Jangan pilih kasih begini Dion. Bagaimana pun juga Hana juga berhak dapat perhatianmu kan? Dia calon istri kamu." mama Herna mengingatkan dengan lembut.


"Baru calon saja kan? Jadi belum berhak sepenuhnya. Daripada Dion mencurahkan perhatian Dion pada wanita yang statusnya masih calon itu pun bukan keputusan Dion yang menjadikan dia calon istri,,, Bukankah lebih baik Dion memperhatikan Karin? Istri sah Dion,,, Menantu sah mama."


Dion menegaskan kata "Sah" itu. Mama Herna terdiam. Bukan merasa kalah tapi lebih gak mau ribut dengan Dion.


"Dion balik kamar dulu kalau mama udah gak ada yang mau diomongin. Istri Dion udah nunggu tuh."


Mama Herna hanya menggeleng pertanda tak ada yang mau dibicarakan lagi dan mengangguk mengiyakan saat Dion pamit balik kamar.


"Anak itu gak boleh dipaksa. Aku tau dia memang saya sama Karina tapi bagaimana pun juga Hana juga membutuhkannya. Biarlah seperti ini dulu. Yang penting Hana bisa dan diterima di rumah ini saja dulu. Nanti juga seiring waktu mereka akan kembali terbiasa dan cinta yang pernah ada itu akan muncul lagi. Aku yakin mereka masih saling mencintai. Dion pernah sebegitu terpuruknya karena kehilangan Hana. Ya masak iya sih kalau tidak sedikit pun sisa cinta di hatinya? Aku hanya perlu membantu keduanya menyemaikan cinta itu lagi."


Mama Herna manggut manggut sendiri lalu dikejutkan oleh papa Hengki yang menepuk bahunya.


"Mikirin apa lagi mama ini? Jangan bilang lagi menyusun rencana licik buat nyakitin perasaan Karin ya." tuduh papa Hengki.


"Papa ini selalu saja buruk sangka sama mama. Kapan sih mama ini menyakiti perasaan Karina? Mama ini sayang sama dia. Mama juga ingin selamanya dia menjadi menantu mama. Bagaimana pun juga dia ibu dari cucu kita."


"Tapi masih ada tapinya kan?" pancing papa Hengki.


"Maksudnya apa sih papa ini?"

__ADS_1


"Ya kalimat mama itu kan belum selesai. Masih ada kata tapi setelahnya. Bagaimana pun Karina itu ibu dari cucu kita tapi mama juga ingin Hana menjadi menantu kita lagi karena bagaimana pun mama sayang sama Hana dan Dion harus bertanggung jawab. Begitu bukan?" papa Hengki menebak isi pikiran mama Herna.


Mama Herna mengangguk polos.


"Mama mama,,, Pernah gak sih mama berpikir seandainya ini papa yang menikah lagi sama mantan papa dulu. Apa mama gak sakit hati?"


"Itu sih gak mungkin karena papa sudah tua." sahut mama Herna cepat.


"Tentu tidak akan terjadi hal demikian karena selain papa sudah tua, papa ini juga hanya sayang sama mama. Papa gak mau sakiti hati mama dengan cara hanya menjadikan mama satu satunya istri papa. Tapi bukan itu yang ingin papa dengar dari mama,,,Papa bilamg seandainya papa menikah lagi,,, gimana perasaan mama?? Itu saja jawab."


"Tergantung apa alasan papa menikah lagi. Kalau cuma buat senang senang saja ya mama sakit hati. Tapi kalau papa menikah karena ingin bantu wanita lain ya mama bisa mengerti sepertinya."


"Sepertinya saja bukan? Tidak seyakinnya?" papa Hengki terus mendesak.


"Papa ini apa sih kok menyudutkan mama terus. Sudah ah mama mau istirahat. Besok harus jemput Hana karena anak kesayangan papa gak mau jemput tuh." sungut mama Herna.


"Ya bagus kalau begitu." sahut papa Hengki.


"Salahnya di mana coba? Coba mama jelaskan ke papa."


"Ya harusnya Dion itu tetap jemput Hana. Kalau Dion gak menabrak mobilnya juga Hana gak akan perlu dijemput sama Dion. Ini bukannya menyadari imbas dari kelalaiannya malah asyik mengurus keperluan diri sendiri. Ujungnya,,,mama juga yang direpotkan begini."


Mama Herna terlihat kesal.


"Oh jadi ceritanya mama juga gak rela nih jemput Hana besok? Mama merasa ini merepotkan mama gitu?"


"Lha iya dong pa. Ini kan tugas Dion." sengit mama Herna.


"Nah yang maksa memutuskan biar Hana tinggal di rumah siapa? Mama kan? Ya sudah toh. Jadi ini kewajiban mama. Terus masalah Dion malah ke kantor bukannya jemput Hana,, Ya yang dilakukan putra kita sudah benar. Tanggung jawabnya sebagai suami kan kerja cari nafkah. Bukan jemput wanita lain ke rumah sakit."

__ADS_1


Mama Herna hendak menyela tapi didului papa Hengki bicara.


"Intinya ini semua bukan maunya Dion tapi maunya mama. Jadi mama yang urus semua. Papa kalau bisa bantuin kalau gak ya maaf. Papa sejujurnya tidak setuju dengan ide membawa Hana ke rumah kita tapi papa masih ok untuk alasan kemanusiaan."


Papa Hengki tak menunggu lagi jawaban apa pun dari mama Herna. Dialog percakapan antara keduanya orang tua itu pun diakhiri dengan helaan napas berat mama Herna.


"Semua orang gak ada yang mikirin perasaanku. Gak ada yang tau sesayang apa aku pada Hana dan seberapa besarnya aku merasa bersalah karena putraku dulu menyakitinya. Tidak ada yang paham bahwa aku hanya ingin menebus kesalahan terdahulu keluarga ini. Semua egois dengan pikiran masing masing. Malah seakan menempatkan aku di posisi paling jahat. Seakan aku menyakiti Karina."


Mama Herna sedih. Tapi malam makin larut dan beliau harus beristirahat.


"Jangan lupa kunci pintu dan semua jendela ya mbak. Oh ya,, kamar buat bu Hana sudah disiapkan belum?" tanya mama Herna pada asisten rumah tangga mereka.


"Sudah nyonya. Di lantai atas kan? Di kamar tamu."


"Loh jangan di sana. Di lantai bawah saja. Sebelah kamar Karina biar dekat sama Dion. Kalau ada apa apa kan bisa cepat bertindak. Lagipula kamu kan tau kalau bu Hana lagi hamil kok malah kamu suruh naik turun tangga sih."


"Oh maaf nyonya. Setelah ini segera saya siapkan kamar bawah." asisten tak ingin membantah apa apa lagi meski otaknya berpikir keras seperti ada yang salah dengan keputusan nyonyanya itu.


Tapi dirinya hanya bawahan yang punya batasan jadi dia hanya melaksanakan apa yang diperintahkan nyonya besarnya yang sudah masuk ke kamarnya. Segera ia periksa ulang pintu dan jendela sudah di kunci lalu menyiapkan kamar untuk Hana di sebelah kamar Karin.


"Belum tidur mbak? Jam berapa ini kok masih beres beres?" tanya Karin yang terbangun dan keluar kamar mendengar masih ada suara suara di kamar sebelah.


"Ini mbak Karin,,, sama nyonya di suruh siapin kamar buat bu Hana di sini."


Karin yang meminta dirinya tidak dipanggil nyonya atau bu itu hanya mengangguk lalu menyarankan pada si mbak untuk melanjutkan besok pagi saja karena sudah waktunya si mbak istirahat.


"Iya mbak Karin. Ini juga sudah selesai kok." kata si mbak.


...🧁🧁🧁...

__ADS_1


...Sengaja sih ini mama Herna naruh kamar Hana sebelahan hmmm,,,,Besok udah minggu loh,,, yang masih punya saldo vote mending kasih author aja ya daripada hangus....


Jangan lupa tetap dukung author dengan vote, hadiah, komen dan like ya 🌹🌸❀️


__ADS_2