Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 52


__ADS_3

Dannis melirik gadis yang sedang mengepel lantai rumahnya dengan seragam pelayan seperti biasa, membuat pria yang sudah rapi berpakaian akan ke kantor itu menghela napas panjang dibuatnya.


Nara menoleh pada Dannis yang berjalan mendekatinya, segera ia menunduk hormat.


"Tuan..... sarapanmu sudah siap", tunjuk Nara pada meja makan dengan sopan.


"Ayo temani aku sarapan", ajak Dannis seraya melewati gadis yang masih terpaku di tempatnya.


"Baik", susul Nara.


Nara menatap Dannis dengan seksama, pria itu sarapan seperti biasa namun terlihat berbeda di mata indah gadis itu dimana ia mengingat ketika ia terbangun pagi ini dalam keadaan sudah di atas ranjangnya, itu artinya Dannis telah memperlakukannya dengan baik hingga tidak meninggalkan Nara tidur di ruang televisi semalam yang ia yakini pria itu pula yang menggendongnya menuju kamar.


Membayangkan nya saja membuat perasaan Nara menjadi berbunga, terlebih sekarang pria itu kembali minta ditemani sarapan.


"Kenapa kau tersenyum sendiri? apa kau sudah gila?".


"Mungkin tidak lama lagi akan gila", jawab Nara tersenyum manis.


Membuat Dannis menautkan alisnya heran.


"Jika kau lapar sarapanlah, jangan berhayal dipagi buta seperti ini".


"Terimakasih", ucap Nara masih dengan senyum manis nya.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Dannis datar.


"Untuk semalam", jawab Nara polos.


"Apa maksudmu?".


"Terimakasih kau tidak meninggalkan ku tidur di ruang tv sendirian", ucap Nara menjelaskan.


"Jangan GR, aku hanya sedang berbaik hati untuk tidak memberi makan nyamuk", jawab Dannis menahan senyum.


Nara berdecak mendengar nya.


Dannis menyelesaikan sarapan, pria itu meminum kopi setelahnya, Nara telah usai membereskan sisa sarapan suaminya di atas meja, ia hendak kembali ke pekerjaan sebelumnya yaitu mengepel.


Namun baru ingin berlalu dari hadapan Dannis, tiba-tiba ia dikejutkan dengan Dannis yang sengaja menumpahkan kopi pada pakaiannya.


"Aaaahh..... tuan, kau", Nara melirik Dannis dengan kesal.

__ADS_1


"Apa? kau ingin marah?", tantang pria itu.


"Aku kira kau sudah berubah baik padaku, tapi aku salah kau masih saja suka mengerjaiku seperti ini padahal aku sudah mengerjakan semuanya sesuai perintah mu", gerutu Nara dengan mata berkaca-kaca, tangannya mengibaskan bekas kopi yang menempel.


"Gantilah pakaianmu, aku rasa seragammu sudah jelek. Kau bisa berpakaian seperti biasa", ucap Dannis yang mampu membuat gadis itu menatapnya dengan heran.


"Tuan? apa maksudmu?".


"Jangan GR dulu, aku hanya sedang tidak ingin melihat pelayan di rumahku, aku rasa kau sangat ingin memakai baju yang kau beli tempo hari, bukankah kau membelinya sangat banyak akan sayang jika tidak dipakai".


"Apa itu artinya aku tidak perlu memakai seragam lagi?", tebak Nara semangat.


Dannis hanya menjawab lewat anggukan kepala santai.


"Benarkah? tuan Dannis jawab aku? Benarkah aku boleh berpakaian seperti biasa?", tanya Nara lagi.


"Apa kau ingin aku berubah pikiran?".


"Tidak.... tidak tidak, baik aku akan segera berganti pakaian", ucap Nara senang, ia segera meninggalkan Dannis berjalan menuju kamar namun ia berhenti ketika matanya melirik alat mengepel lantai masih terparkir di ruang tengah.


Nara berniat membereskan pekerjaannya terlebih dahulu, ia mengambil alat mengepel hendak meletakkannya ke belakang, di saat itu pula terdengar suara seorang pria yang memanggil nama Dannis dengan berteriak.


"Dannis..... Dannis.... Dannis keluar kau pria brengsek", teriak seorang pria yang masuk rumah tanpa permisi karena kebetulan pintu tidak dikunci.


Nara merasa lemas pada kedua tangannya, ia menjatuhkan alat mengepel yang ia pegang saat ini ketika netranya bertemu dengan mata pria yang pernah menjadi bagian dari perjalanan cintanya di masa lalu.


Nara melihat jelas kilatan amarah dimata lelaki yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan geram.


"Reno", ucap Nara pelan.


"Aku tidak menduga hal ini sebelumnya, tapi mataku melihat kebenarannya pagi ini, kemari kau pria sialan", Reno berjalan cepat menghampiri Dannis yang sedang menuruni anak tangga terakhir.


Bugh.... bugh.... Dannis menatap kesal Reno yang memukulnya secara membabi buta, pria itu memegang rahangnya yang terasa sakit.


"Kau terkejut aku datang kemari bukan? aku mengetahui pernikahan mu Dannis, aku bisa menerima jika memang kau memperlakukan wanita yang ku cintai sebagai istrimu, tapi tidak karena dengan jelas kau mengatakan dia pelayan mu tempo hari, aku menyesal baru mengetahui hari ini", ucap Reno berapi-api.


Reno menarik kerah kemeja Dannis lagi, memukulnya lagi dan lagi hingga hidung pria itu mengeluarkan darah.


Dannis mulai melawan dengan mendorong dada Reno secara kasar.


"Bisakah kau sedikit lebih sopan ketika bertamu?", ucap Dannis geram.

__ADS_1


"Sopan? apa kau tampak sopan memperlakukan istrimu seperti pelayan?", tunjuk Reno pada Nara yang terdiam mematung kebingungan di sana.


"Masih beruntung aku menjadikannya pelayan rumahku, bagaimana jika aku menjadikannya pelayan nafsuku? kemana kau pria yang mengaku mencintai gadis itu? kemana kau saat dia dijual untuk melayani nafsu pria hidung belang malam itu? kemana kau Reno? mana cinta yang kau banggakan itu?", teriak Dannis dengan marah lalu memukul Reno tanpa ampun.


Nara melihat itu, tentu menjadi panik.


"Tuan, tuan berhenti...", Nara melerai keduanya yang sama-sama dikuasai emosi.


Hingga tidak sengaja tangan Dannis menepis Nara dengan kuat hingga gadis itu terjatuh ke lantai.


"Aku tidak akan melepaskan mu Dannis", ucap Reno mendorong dada Dannis lalu menghampiri Nara dan membantu gadis itu berdiri.


Membuat Dannis berdecak kesal melirik keduanya.


"Ayo ikut aku Nara, tinggalkan saja pria jahat ini kembali padaku, aku akan melindungimu dari apapun dan yang jelas aku tidak akan pernah bersikap pengecut seperti Dannis, ayo kita bisa bertemu bibi Eliana sekarang", ajak Reno menarik tangan Nara.


Namun gadis itu menggeleng.


"Dia suamiku Reno", ucap Nara pelan dengan wajah menunduk.


"Apa? kau masih menganggap suami? suami macam apa yang memperlakukan mu seperti ini? lihatlah kau bahkan memakai seragam pelayan di rumah ini?", Reno kembali berdecak kesal melirik Dannis yang masih berdiri tanpa takut tidak jauh dari mereka.


Nara kembali menggeleng, "Maaf Reno, aku rasa aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam rumah tanggaku, maaf aku tidak bisa", jawab Nara lagi.


"Nara?", Reno memandang gadis itu penuh arti.


"Seperti yang ku katakan tempo hari, kita sudah benar-benar berakhir Reno, tolong jangan mencampuri urusan pernikahan ku apapun alasannya, tentang pagi ini aku cukup kecewa padamu tidak seharusnya berkelahi, bukankah kita bisa bicara baik-baik? tidak main pukul sana-sini", ucap Nara tegas menolak ajakan Reno.


"Apa kau menyukai pria menyebalkan itu?".


"Suka atau tidak itu urusanku, terimakasih sudah peduli padaku, ini tentang pernikahan bukan hal yang patut aku permainkan, tanpa kau ajak pun aku bisa pergi sendiri", ucap Nara lagi.


"Bukan kau tapi Dannis lah yang mempermainkannya, aku sampai kapanpun tidak akan membiarkan kau tersakiti oleh siapapun meski Dannis saudaraku sekalipun", jawab Reno mantap memegang tangan Nara penuh harap.


Dannis benar-benar kesal melihat tangan Reno yang sejak tadi menggenggam jari-jari lentik milik istrinya.


"Nara, aku tahu kau tertekan hidup di sini, lihatlah dirimu? kau memakai seragam, kau pelayan di sini kau bukan dianggap istri Nara, sadari itu.....ayo ikut aku, aku bisa melindungimu, dengan senang hati aku akan menikahimu setelah ini, kita akan bicara kenyataan pada bibi El dan paman Kemal, aku rasa suami palsumu itu akan tamat riwayatnya", sindir Reno dengan nada lantang seraya melirik Dannis yang wajahnya sudah memerah.


"Maaf Reno, aku tidak bisa ikut denganmu....", Nara menggeleng lagi.


Dannis tersenyum sungging mendengar penolakan Nara pada saudara nya itu, namun senyum itu memudar ketika Nara melanjutkan.

__ADS_1


"Tidak sampai tuan Dannis benar-benar melepasku dengan perceraian", ucap Nara pelan seiring jatuhnya butiran bening di pipi mulusnya.


Entah kenapa Dannis tercekat mendengarnya, dadanya merasa lain ketika kata perceraian keluar dari bibir mungil yang kecupannya mulai terasa candu bagi pria ini.


__ADS_2