Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Seutas Doa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Mama Herna terduduk lemas saat melewati sebuah taman kota yang menyediakan kursi kursi kayu panjang untuk para pengunjung taman beristirahat dan menikmati keindahan taman itu.


Mama Herna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Beliau menangis. Dalam sekejap beliau kehilangan semuanya. Bukan hanya harta dan tahta,,, melainkan kebahagiaan putra satu satunya yang semula jadi tujuan awal mempercayakan semuanya pada si ular berbisa.


"Mama baik baik saja?" tanya Dion lembut.


"Maafkan mama Dion. Ini semua akibat kebodohan mama. Mama bisa bisanya percaya pada Hana untuk mengurus semuanya. Dan sekarang dia mengambil alih semua milik kita Dion. Kita gak punya apa apa. Semuanya hilang Dion. Bahkan tempat untuk tidur malam ini pun kita tidak punya. Uang untuk makan esok hari pun tidak ada. Bagaimana dengan baju ganti?? Ya Tuhan Dion,,,apa yang sudah mama lakukan??? Huhuhuhu,,,," tangis mama Herna kembali tak terbendung.


"Ma,,, sudah jangan terus meratapi itu. Anggap saja apa yang sudah menimpa kita ini adalah teguran dari Tuhan. Mungkin selama ini kita lupa banyak sedekah,,, mungkin secara tidak sadar kita telah mengambil hak orang lain. Hingga akhirnya Tuhan murka dan mengambil semua titipanNYA."


Mama Herna heran bagaimana bisa putranya yang setau beliau hanya pandai bekerja itu kini bisa memilih untaian kata bijak seperti itu.


"Dion,,, mama gak sangka kamu bisa punya pemikiran seperti itu nak. Mama bahkan sebagai orang tua merasa tidak pernah mengajarimu seperti itu. Mama malu sekaligus bangga padamu Dion." ucap mama Herna dengan perasaan campur aduk.


"Dion banyak belajar dari Karin dulunya ma." sahut Dion dengan wajah sedih mengingat momen kebersamaannya dengan sang istri tercinta.


"Entah di mana dia berada sekarang. Dion rindu sekali padanya. Dion merasa sangat bersalah padanya dan Delvara." lirihnya kemudian.


"Dion,,, bukannya Karin itu tidak sebaik itu? Dan Delvara itu juga bukan,,,,"


"Delvara darah daging Dion ma. Dan Karin,,, terlepas dari masa lalunya yang sekelam apa, dia tetap bidadari Dion. Dion sudah tahu semua cerita masa lalunya jauh sebelum mama tau tapi Dion menerimanya dan berusaha menutupinya bukan karena Dion ingin membuat dia terlihat baik di mata mama dan mendiang papa. Tapi karena masa lalunya adalah miliknya sendiri yang tidak berhak kita aduk aduk. Bagi Dion yang terpenting adalah masa kini dan kedepannya. Bukan masa lalunya." tegas Dion.

__ADS_1


"Kamu yakin Delvara itu darah dagingmu Dion?" mama Herna masih belum terima.


"100 % yakin. Sekarang Dion balik tanya pada mama,,, setelah seperti ini perlakuan Hana pada kita, apa mama masih saja percaya atas semua yang pernah dikatakannya pada mama? Hana itu melakukannya hanya untuk satu tujuan yang sekarang sudah dicapainya,,, harta kita ma." Dion mencoba membuka mata mama Herna.


"Mama,,, Mama bingung Dion." mama Herna sungguh masih belum bisa menerima mentah mentah semua perlakuan Hana.


Beliau masih punya rasa sayang yang sangat besar kepada wanita itu meski setelah semua yang terjadi.


"Dion paham mama menyayanginya dengan setulus hati mama. Tapi Dion minta mama juga belajar untuk menerima kenyataan bahwa putri kesayangan mama itu sudah berubah. Dia bukan lagi gadis manis yang Dion bawa ke rumah kita dan Dion jadikan permaisuri. Sekarang dia tak lebih dari wanita gila kuasa dan harta ma. Buka mata dan hati mama,,, bidadari tak bersayap yang sebenarnya adalah dia yang sudah mama usir dan jauhkan dari Dion." ujar Dion.


"Kamu,,, Kamu tau mama yang mengatur kepergian Karin Dion??" tanya mama Herna takut takut.


"Tentu saja Dion tau."


"Apa Darwin dan Mela sempat memberitahumu?" selidik mama Herna hendak menyalahkan dua orang itu.


"Lalu? Dari mana kamu tau?" mama Herna penasaran.


"Dari hati Dion sendiri ma. Dion sangat paham dan percaya pada Karin. Ia tidak akan meninggalkan Dion begitu saja apalagi kalau dia tau kondisi Dion saat ini. Dia itu berhati lembut dan tidak akan tega menelantarkan Dion saat sedang terpuruk begini. Dia akan makin dekat dan jadi kaki Dion ma. Kecuali ada yang memaksanya pergi. Dan orang itu pasti mama mengingat mama lah yang paling tidak bisa menerimanya dan Delvara di saat itu. Apa tebakan Dion benar??" tanya Dion.


Mama Herna tertunduk mengingat semua momen itu. Hampir setahun berlalu dan beliau baru tau bahwa dalam diamnya selama ini rupanya putranya itu tau hal buruk yang dilakukannya.


"Maafkan mama Dion." tangis mama Herna kembali menghiasi malam yang dingin itu.


"Jangan minta maaf pada Dion ma karena inshaallah Dion sudah memaafkan mama dan paham saat itu mama pasti melakukannya karena sedikit banyak tidak luput dari hasutan wanita gila harta itu. Kalau mama mau minta maaf,,,cukup pada Tuhan dan Karin." ucap Dion dengan tersenyum meyakinkan mama Herna bahwa ia telah memaafkannya.

__ADS_1


"Dan jangan lupa pada satu lagi,,," tambah Dion.


"Siapa Dion? Almarhum papa??" tanya mama Herna.


"Delvara. Darah daging Dion,,, cucu mama satu satunya. Anak yang sudah lama Dion nantikan kehadirannya ma."


Mama Herna terdiam dengan perasaan berkecamuk antara belum bisa percaya begitu saja namun hatinya membenarkan ucapan Dion.


"Seharusnya mama menggendongnya waktu itu agar mama bisa melihat kemiripannya dengan Dion. Dia persis dengan Dion waktu bayi dulu ma." Dion masih bisa mengingat dengan baik wajah bayi polos itu meski ia tak tau seperti apa saat ini wajah putranya itu.


Mama Herna kembali menangis.


"Ya Tuhan,,,apa yang sudah hambaMU ini lakukan selama ini? Hamba membauang permata dan bidadari tak bersayap yang telah Engkau titipkan pada hamba melalui putra hamba. Hamba bahkan menyangkal jati diri cucu hamba. Huhuhu,,, Ampuni hamba Tuhan. Ampuuun." ratap mama Herna pilu.


“Setidaknya mama sudah merasa bersalah dan mau meminta maaf saja dulu. Dion yakin Tuhan mendengarnya dan siapa tau Tuhan juga akan sangat berbaik hati pada kita dan mempertemukan kita Kembali dengan bidadari tak bersayap kit aitu.” Kata Dion kemudian.


“Semoga saja demikian Dion.” Sahut mama Herna.


“Baiklah kalua begitu mala mini kita tidur di sini saja dulu ya ma. Mama gak apa apa kan?” tanya Dion.


Mama Herna mengangguk meski airmatanya terus menetes membasahi wajah rentanya. Menjadi gelandangan seperti ini sungguh di luar bayangannya. Apalagi sampai menyeret sang putra kesayangan. Sungguh,, mama Herna sangat merasa menyesal atas semuanya. Namun kini beliau bisa apa selain sabar menerima dan belajar membiasakan diri.


“Ya Tuhan,, meski hamba ini hina tapi kalau boleh hamba ingin memohon kepadaMu satu hal saja,, Sebelum ajal menjemput hamba,, perkenankan hamba bertemu dengan menantu dan cucu hamba sekali saja. Hamba ingin meminta maaf kepada mereka. Hamba ingin pergi meninggalkan dunia ini tanpa beban. Terlepas dari apakah mereka masih mau memaafkan hamba setelah semua yang hamba perbuat kepadanya,, hamba akan tetap meminta maaf.”


Mama Herna menutup malam perdana sebagai gelandangan dengan seutas doa dan harapan.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2