Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 14


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu sudah sampai di kota tempat mereka berdomisili, mereka tampak seperti pasangan lainnya, setelah memberi oleh-oleh untuk dua keluarga mereka memutuskan segera untuk pindah ke rumah yang telah disiapkan Abrar.


Alea tertegun melihat rumah bergaya klasik dengan dua lantai, tidak terlalu besar namun tampak indah dan menyenangkan untuk tinggal disana, dimana dikelilingi pagar dan dihiasi taman mini dan kolam renang yang tidak terlalu besar.


Di kawasan itu pula terdapat sebuah taman tempat rekreasi warga sekitar dan lapangan untuk berolahraga, sungguh tempat strategis untuk bersosialisasi sesama masyarakat Alea merasa ia akan senang tinggal disana dan tidak kesepian ada banyak tetangga dan anak-anak kecil.


"Ayo masuk, kau menyukainya?"


"Sangat menyukainya, terimakasih bang Abrar" Alea mencium pipi Abrar.


Pria ini tertegun, ia merasa senang jika melihat Alea tersenyum seperti itu.


"Dimana kamarku?" tanya Alea kembali.


Abrar memudarkan senyumannya mendapat pertanyaan tersebut.


"Disana, kamar kita berdampingan jika ada sesuatu kau bisa memanggilku dengan jarak yang tidak terlalu jauh"


Alea mengangguk, ia segera masuk ke kamar yang ditunjuk oleh Abrar, lagi-lagi Alea berbinar bagaimana Abrar menyiapkan segalanya sesuai kesukaan gadis itu.


*****


Keesokan harinya mereka masih menghabiskan hari libur yang tersisa satu hari sebelum memulai aktivitas masing-masing.


Alea bangun dan mandi, ia turun tangga bersamaan dengan mencium aroma masakan yang berasal dari dapur.


Alea kembali dibuat tertegun ketika melihat punggung Abrar yang sedang membuat sarapan, senyumnya terbit kian mengembang seiring perasaan kagum bahwa Abrar benar-benar merupakan sosok suami idaman setiap wanita selain tampan ia juga pandai di dapur.


Alea merasa lain di hatinya ketika Abrar berbalik dan mereka saling menatap dan Abrar menampilkan senyum terbaiknya pagi ini dimana siapapun melihatnya akan mendapat energi positif dari senyum tulus itu, wajah gadis ini memerah.


Alea mendekat dengan canggung, entah kenapa ia merasa gugup sendiri.


"Ayo kenapa melamun...sarapannya sudah siap, maaf ini seadanya saja...besok akan ada pelayan yang membantu kita dirumah ini, kau tentu tidak suka di dapur kan?" ucap Abrar diakhiri tawa mengejek.


"Apa abang meremehkan ku? aku memang tidak pandai memasak, tapi aku bisa mengurus rumah ini tanpa pelayan" cebik Alea.


"Benarkah?" Abrar tersenyum mendengarnya, Alea memang pantang diremehkan.


"Iya....tidak perlu pakai pelayan, aku bisa belajar memasak dari google, tentu saja mudah bukan?"


"Aku hanya tidak ingin kau repot nantinya, belum lagi kau harus menjalani koas mu, kau pasti sibuk tidak ada waktu untuk mengurus rumah"


"Tidak....aku sanggup, aku akan menjadi istri idaman, awas saja abang jatuh cinta padaku nantinya, tidak ada yang tidak bisa ku kerjakan" bangga Alea.

__ADS_1


Abrar lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar gadis ini bicara.


"Bagaimana jika aku memang jatuh cinta padamu nantinya?"


"Iya tentu aku harus jatuh cinta padamu juga bukan? agar kita bisa saling mencintai nantinya, jadi kita tidak perlu repot bersandiwara lagi, beres kan?" jawab Alea enteng seraya bercanda.


"Bagaimana jika itu memang terjadi?" tanya Abrar kembali dengan tatapan sulit diartikan.


"Memangnya apalagi, kita akan memiliki anak yang banyak seperti orangtuaku, ha ha ha astaga.....bang Abrar berhenti bercanda, ayo aku lapar" Alea kembali fokus ke makanan yang di meja.


Abrar tersenyum seraya mengusap gemas rambut Alea, tentu di dalam hati pria ini mengaminkan ucapan Alea.


*****


Seminggu pun berlalu tanpa kendala, Abrar dan Alea kembali keruntinitas masing-masing, belum ada tanda-tanda kemajuan dari hubungan tersebut.


Alea masih bersikap biasa, meski sesekali ia merasa gugup sendiri jika harus berhadapan dengan Abrar, ia juga belum bisa mengartikannya.


Alea benar-benar menepati janjinya, ia berusaha mengurus rumah tanpa pelayan dan belajar memasak dari google dan sering menelepon mamanya hanya untuk menanyakan resep, hal ini tentu menambah kekaguman bagi Abrar, ia tidak menyangka gadis manja itu mau belajar menjadi lebih baik.


Meski masakannya belum sempurna, Abrar selalu menghargainya dengan menghabiskan apa yang Alea masak meski itu hanya berupa telur dadar.


Alea merasakan hal lain ketika Abrar kian sibuk dikantor, pria ini selalu berhubungan dengan sekretarisnya Gina yang selalu membantu dalam setiap pekerjaan.


*****


Suatu pagi Abrar berlari ke kamar Alea karena mendengar gadis itu berteriak.


"Alea ada apa?"


"Bang Abrar, ada kecoa" Alea memanjat meja riasnya karena takut.


"Astaga Alea....ini hanya serangga" Abrar mengusir kecoa tersebut.


"Ayo turun"


"Apa sudah pergi? aku takut, kenapa ada kecoa padahal kamar ini selalu bersih"


"Turunlah...." perintah Abrar.


"Gendong" rengek Alea.


"Astaga....." Abrar meraih tubuh gadis yang hanya memakai jubah mandi itu.

__ADS_1


Abrar memejamkan matanya ketika Alea memeluk erat tubuhnya karena takut, jubah handuk yang menampilkan paha mulus Alea kembali membuat Abrar menahan panas di dadanya ditambah wangi tubuh Alea yang menyeruak dibalik leher jenjang gadis ini.


Bahkan Alea dengan sengaja melingkarkan kedua kakinya dipinggang Abrar layak anak kecil, sungguh tersiksa pria ini dimana tangannya digunakan untuk menumpu berat badan gadis itu, tentu saja posisi Alea benar-benar menggoda imannya.


Alea pun merasa gugup ketika menyadari posisinya, bagaimana ia menempel sempurna pada tubuh suami yang belum pernah menyentuhnya.


Biar bagaimana pun Alea gadis dewasa, ia juga calon dokter yang tentunya tidak tabu dengan hal berbau seksual.


Alea turun dari gendongan itu dengan canggung.


"Maaf pasti aku berat?" ucap Alea gugup, entah kenapa selalu gugup jika berhadapan dengan Abrar akhir-akhir ini.


"Tidak....sekarang kau sudah bisa bersiap, aku juga akan bersiap ke kantor" jawab Abrar tak kalah canggung, pria ini ingin segera lari dari Alea yang terlihat seksi dengan jubah mandi itu.


Abrar kembali ke kamarnya, Alea menatap punggung itu dengan perasaan lain.


"Apa bang Abrar tidak pernah tertarik padaku? dia pria dewasa, apa sama sekali tidak tergoda akan kecantikan tubuhku?" gumam Alea menghadap cermin, ia melihat sendiri bagaimana penampilannya saat ini yang cukup menggoda.


Alea memegang dadanya.


"Astaga.....apa yang ku bicarakan, apa aku mengharapkan bang Abrar menyentuhku?" Alea kembali menggeleng dan menutup wajahnya malu.


*****


Alea baru saja akan masuk mobilnya, namun ada seorang tetangga yang melintas di depan rumah mereka.


Alea tentu menyapa dengan ramah.


"Hallo cantik kau pengantin baru itu kan?" tanya seorang ibu muda yang tampak pandai bergosip hanya dari raut wajahnya.


Alea mengangguk sambil tersenyum.


"Kita harus berhati-hati disini, kau lihat rumah diseberang itu? disana baru saja pindah seorang janda kembang, dari gosipnya dia suka menggoda para suami-suami disini, kau harus berhati-hati apalagi suami mu tampan tiada tara pasti akan menjadi incaran utama janda itu" dengan lihainya ibu muda tersebut menghasut Alea.


Alea menjadi panas seketika, ia langsung membayangkan Abrar tergoda sang janda kembang itu, namun ia menggeleng dengan cepat.


"Terimakasih atas informasinya, permisi aku sudah mau terlambat"


Pamit Alea yang langsung berlalu dengan mobilnya.


"Astaga.....apa yang aku pikirkan, aku tidak mau bang Abrar tergoda janda itu, awas saja jika janda sialan itu berani menggoda suamiku" Alea menyetir dengan menggigit bibir bawahnya geram.


Alea bahkan tampak kesal meski ia sudah sampai di rumah sakit, wajahnya merah dan moodnya terganggu dari gosip yang ia dapatkan pagi ini, tanpa disadari bahkan Alea belum melihat wajah si janda yang menjadi tetangga baru mereka namun ia sudah merasakan cemburu yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2