Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S2 Part 41


__ADS_3

Selama berada di kantin Zameer sebisa mungkin menciptakan suasana agar tidak canggung, beruntung ada dua bocah lucu yang menyertai mereka sehingga tercipta kehebohan tersendiri.


"Apa kau menyayangi mereka Zameer?" tanya Shopia sambil terus menyuapi Alea makan es krim.


"Tentu saja.....mereka seperti anakku sendiri, selama ini aku hidup di luar jauh dari keluarga ketika kembali ke sini mereka lahir dan mengubah semuanya...kami lebih sering menghabiskan waktu bersama dirumah"


"Aku bahkan tidak bisa tidak bertemu mereka hanya dalam sehari saja, keluarga ku selama ini sibuk dengan urusan masing-masing bahkan kami sangat jarang bertemu apalagi berkumpul....aku bersyukur kakakku menikah dan berubah menjadi lebih baik sampai kedua bocah ini hadir menyatukan kebersamaan kami"


Ucap Zameer sambil memberi beberapa kecupan di pipi Dannis yang masih sibuk memainkan es krimnya.


hopia tersenyum "Aku bisa melihatnya, maaf aku sebelumnya mengira Eliana adalah mahasiswa yang dihamili pacarnya ketika datang kesini"


Membuat Zameer mengernyit heran.


"Maksudmu?"


"Iya.....karena Eliana datang diantar ketiga teman sesama mahasiswanya dan salah satu dosennya, aku mengira dia perdarahan akibat hamil yang di sembunyikan, kau tahu sendiri mahasiswa sekarang seperti apa, aku sudah banyak mendapat pasien seperti ini datang dengan perdarahan karena ia sengaja meminum obat untuk menggugurkan kandungan karena dihamili pacarnya....aku minta maaf sudah berburuk sangka pada kakak ipar mu, dia jauh lebih muda dari ku jadi aku benar-benar mengira jika dia memang hanya mahasiswa biasa"


"Iya....dia baru bisa berkuliah sekarang, jadi wajar saja jika kau mengira begitu....dia perempuan yang baik Shopia, aku bersyukur kakakku bertemu dengannya di waktu yang tepat, aku berharap juga bisa mendapatkan perempuan seperti kakak iparku" jawab Zameer tersenyum.


"Memang kau belum memiliki kekasih?"


"Sudah putus, lantas bagaimana denganmu? Kau sudah jadi dokter yang sukses sekarang, apa pacarmu tidak keberatan jika kau menemaniku disini?"


"Hmmmm tidak....aku tidak punya pacar, kalau bisa aku langsung punya suami saja, ha ha ha...."


Shopia tertawa canggung, karena memang ia tidak pernah memiliki kekasih lagi setelah berpisah dari Zameer di akhir sekolah mereka. Ia hanya fokus dengan cita-cita nya saja.


"Zameer....bobo" ucap Dannis yang sudah sayu, ia memeluk sang paman dengan manja, mata nya kian menyipit ingin terpejam.


"Astaga.....kau sangat menggemaskan sayang" Shopia mencubit pelan pipi Dannis.


"Kau juga mengantuk Alea?"


Alea mengangguk, karena memang sudah jam nya tidur siang bagi kedua bocah itu.


"Baiklah....sini kau bisa berbaring di pangkuan bibi" Ucap Shopia sambil meraih tubuh mungil Alea dalam dekapannya.


Zameer tersenyum melihat keponakannya yang mudah akrab dengan Shopia.


"Boleh aku menyimpan nomor ponselmu?" Zameer bertanya dengan gugup.

__ADS_1


"Iya...tentu tentu saja bisa" jawab Shopia cepat.


Mereka bertukar nomor ponsel sebelum kembali ke ruangan Eliana.


******


Setelah kembali kerumah, Kemal memang tidak meninggalkan istrinya barang sehari pun. Ia memutuskan untuk bekerja secara virtual saja dari rumah.


Sudah beberapa hari El beristirahat, ia sudah mulai jenuh di layani seperti seorang putri yang hanya di kamar saja, kondisinya sudah semakin membaik bahkan Eliana sudah merasa sehat untuk melakukan aktivitas rumah, namun tentu saja di larang mertuanya apalagi sang suami yang tidak boleh Eliana melakukan apapun selain hanya tiduran saja di ranjang.


"Sayang....ayolah aku bosan di kamar terus, aku janji tidak akan melakukan pekerjaan berat, aku hanya ingin ke bawah saja...." El masih merengek membujuk suaminya agar boleh keluar kamar.


"Tidak.....kau masih harus beristirahat sayang, aku tidak mau kau kembali sakit"


"Aku sudah tidak sakit, aku sudah merasa sangat sehat....sayang ku mohon"


"Tidak....."


"Astaga.....kau memperlakukan ku seperti sedang sakit parah saja" El mengerucutkan bibirnya kedepan.


Menghembus napas kasar, Kemal akhirnya mengalah karena ia tidak ingin istrinya merasa tertekan dan stress.


El tersenyum, ia mengecup pipi Kemal dengan sayang.


Keesokan sore nya, Eliana tengah berada di dapur membantu bi Min membuat cemilan untuk majikannya yang berkumpul bermain bersama si kembar di ruang keluarga.


"Nona.....bibi tinggal sebentar ke toilet"


El mengangguk "Silahkan bi, buah ini biar aku saja yang potong" tunjuk El pada buah semangka.


"Baiklah jika nona memaksa"


Mereka tertawa, setelah bi Min meninggalkan dapur Eliana tampak kesusahan memakai pisau untuk memotong buah semangka yang lumayan besar.


"Huh....kenapa pisaunya tumpul begini? astaga sepertinya sudah lama tidak di asah"


Pisau yang ia gunakan itu berukuran besar namun tumpul karena jarang digunakan.


Sedang asyik mengamati mata pisau, Kemal turun dari arah tangga ia mendapati sang istri sedang memegang pisau besar dan memperhatikan mata pisau itu seraya mengusap-usapnya.


"Bahkan tanganku tidak akan terluka karena ini sudah sangat tumpul, kenapa tidak di asah...ini sangat berguna untuk memotong buah yang besar" El masih menggerutu sambil mengarahkan pisau itu ke tangannya.

__ADS_1


Tanpa di duga Kemal berlari ke arah Eliana berdiri, dan menepis tangan istrinya itu kuat hingga pisau tersebut terpental.


"Sayang ku mohon jangan seperti ini, itu berbahaya....astaga untung aku melihatmu, kau membuat ku cemas"


Kemal mendekap tubuh istrinya erat, ia merasa cemas ketika melihat Eliana bermain dengan mata pisau.


El terkejut dan masih mencoba mencerna maksud Kemal.


"Sayang ada apa?" Tanya El heran.


"Ku mohon, aku tahu kau tidak mudah melewati fase-fase ini. Percayalah aku akan ada untukmu....jangan pernah berbuat konyol seperti tadi, aku tidak bisa memaafkan diriku jika sampai kau terluka"


Kemal berucap dengan sendu, ia menangkup wajah El dengan kedua tangannya, El masih belum mengerti arah pembicaraan Kemal.


"Sayang....kau kenapa?" tanya El kembali, ia merasa bingung dengan sikap Kemal yang tiba-tiba itu.


Belum Kemal menjawab, bi Min kembali ke dapur dengan raut heran dan bingung.


"Bi.....jauhkan benda-benda tajam itu dari istriku"


Bi Min mengikuti arah mata Kemal, ia segera memungut pisau yang terjatuh, ia masih kebingungan.


"Sayang....sudah ku katakan kau hanya boleh berjalan di dalam rumah saja, tidak berarti kau juga ke dapur....biarkan bibi yang melakukan semuanya, jangan berbuat konyol lagi.....aku bisa gila jika itu terjadi" Kemal kembali mendekap kepala Eliana di dadanya.


El menatap bi Min mencoba mencari jawaban, namun bi Min sama bingungnya, perempuan paruh baya itu hanya bisa geleng kepala sambil mengangkat pisau tersebut.


Tidak lama, bunda dan ayah Kemal menghampiri karena mereka mendengar suara gaduh dari dapur.


"Kemal ada apa ini?"


"Huh......bunda tidak akan percaya jika melihatnya, istriku hampir saja melukai diri sendiri dengan pisau sialan itu" tunjuk Kemal pada bi Min.


"Apa?" El melepas pelukan menatap heran wajah suaminya, ia baru mengerti arah sikap Kemal yang tiba-tiba itu.


"Ayo....kau harus beristirahat.....aku tidak akan meninggalkan mu" bukannya menjawab Kemal malah menggendong istrinya berlalu dari sana menyisakan tanda tanya bagi orang tuanya.


El merasa geli sendiri, ternyata Kemal salah arti tentang pisau tersebut.



__ADS_1


__ADS_2