Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
One More Episode Yaa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Tanpa kedua anaknya,Lisa bukanlah apa apa. Valdy tidak bisa dihubungi, Celia pun entah kemana perginya. Ponselnya masih bisa dihubungi namun anak itu tidak pernah menjawab panggilan dari Lisa.


"Kemana kalian berdua?? Mommy kangen." ratap Lisa sembari mengusap usap layar ponsel yang menampilkan foto foto mereka bertiga.


Dari sana Lisa baru sadar, Valdy tidak pernah tersenyum. Hampir di semua posenya, wajah anak pertamanya itu selalu datar. Tidak ada raut kegembiraan, kesedihan, atau ekspresi apa pun itu. Hanya wajah yang tidak bisa ditebak.


Semakin mencari cari foto Valdy, Lisa baru sadar juga bahwa anak itu tersenyum terakhir kali hanya saat masih ada daddy bersamanya.


"Salahku,,, Ini semua salahku."


Lisa menyalahkan diri sendiri menyadari hal itu. Ia rindu sosok Valdy yang dulu selalu ceria, tumbuh bahagia bersama daddy. Ditambah sekarang malah tanpa sengaja ia menghancurkan kebahagiaan Valdy dengan membangun hubungan yang buruk dengan Karin.


"Maafkan mommy sayang."


Lisa menjambaki rambutnya sendiri. Lisa tak habis pikir apa yang kurang dari lelaki yang dipanggil daddy itu hingga ia malah menghabiskan waktunya tidur dengan puluhan lelaki di luaran.


Termasuk yang akhirnya memberikannya benih Celia.


"Celia,,,Kamu di mana?? kembali sama mommy. Mommy kesepian. Maafkan mommy sudah mengecewakan kamu dan kakakmu."


Lisa merekam suaranya sendiri lalu mengirimnya sebagai voice note di aplikasi online berwarna hijau. Ia berharap Celia akan membuka dan mendengar penyesalannya itu.


Namun lagi lagi tidak ada balasan dari Celia. Ponsel Valdy juga tetap tidak bisa dihubungi. Lisa bagai orang tua tanpa anak.


Dua minggu sendirian dalam kehampaan membuat Lisa akhirnya jatuh sakit. Timbunan kekayaan yang ia dapat rupanya tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi sebenarnya mungkin uang itu bisa membeli kesehatannya hanya saja Lisa tak melakukannya.


Ia bukan sakit fisik melainkan sakit batin dan jiwanya. Ia butuh obat yang bukan berupa butiran atau kapsul maupun serbuk. Ia hanya butuh anak anaknya.


"Celia,,, Mommy sakit sayang. Pulang ya."


"Valdy,,, mommy sakit. Pulang ya."


Lisa dengan suara lirihnya kembali mencoba mengirim voice note ke kedua anaknya masih tetap dengan harapan besar keduanya menerima voice note itu.


Seminggu berlalu, tidak ada yang datang. Sakit Lisa makin parah. Ia tak ke dokter karena ia sudah bagai hidup enggan mati pun tak mau. Hampa. Hanya kehampaan yang dirasakannya.

__ADS_1


"Ternyata karma itu benar benar ada. Aku mengambil sedikit kebahagiaan orang dan sebagai balasannya aku harus membayar mahal dengan kehilangan anak anakku." otaknya terus terpusat pada apa yang sudah dilakukannya pada Karin.


Lisa ingin menemuinya sekali lagi.


Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, Lisa pergi ke rumah Karin dengan menumpang taksi. Sepanjang perjalanan ia hanya bersandar lemah di sandaran jok taksi.


Namun sesampainya di depan rumah Karin, ia menguatkan diri kembali. Ia benar benar harus menemui wanita itu.


"Biar saya yang buka pintu mbak." seru Mela ketika mendengar suara bel pintu.


Karin yang sedang berada di ruang tengah bermain bersama Delvara dan Zoya hanya mengangguk mengiyakan meski ia penasaran siapa tamunya. Hampir dua minggu ini tidak pernah ada yang datang.


"Mau apa lagi anda kesini?? Bukannya urusan kalian di sini sudah selesai???" ketus Mela saat melihat siapa yang datang.


"Ijinkan aku menemui nyonyamu." Lisa yang begitu kacau penampilannya berkata lirih.


"Tidak ada!!" jawab Mela berbohong.


Ia hanya ingin melindungi Karin dari orang orang seperti Lisa. Sudah cukup ia melihat tumpahan airmata Karin. Dua minggu ini, nyonya mudanya itu sudah lebih sering tersenyum dan Mela tak ingin ada tangis lagi di sela senyuman itu.


"Kalau begitu tolong sampaikan padanya, aku minta maaf. Dan ini,,,tolong berikan padanya."


"Aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya jadi miliknya dan anak anaknya."


Mela tertegun mendengarnya. Ia memang bukan orang dengan pendidikan tinggi namun ia tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Lisa.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Jangan lupa sampaikan permohonan maafku." Lisa mengingatkan poin kedatangannya kemari.


Mela hanya mengangguk dan membiarkan wanita berpenampilan kacau itu meninggalkan rumah itu. Mela mengingat ingat terakhir kalinya melihat wanita itu, begitu angkuh dan jahat.


"Kenapa dengannya ya?? Kenapa beda sekali??"


"Siapa yang beda mbak? Siapa tamunya tadi? Kok gak disuruh masuk?" tegur Karin yang menyusul ke pintu depan.


"Eh,,, itu sudah saya usir tamunya. Males banget menerima tamu seperti dia."


"Loh memangnya siapa kok kamu usir mbak? Gak baik lho,,,"


"Itu lho mbak. Si nenek sihir yang datang datang minta bagian harta tuan. Tidak tau malu dan rakus itu."

__ADS_1


"Oh. Mau apa dia kesini lagi? Bukannya sudah dapat yang dia mau." gumam Karin.


"Nah itu dia mbak anehnya. Dia datang ingin meminta maaf katanya sama mbak."


"Hah?? Maaf??" Karin heran.


Mela mengangguk memastikan bahwa yang ia dengar dari Lisa tadi benar.


"Oh ya. Ini. Dia menitipkan ini. Katanya dia ingin mengembalikan milik mbak dan anak anak. Coba mbak baca. Saya gak paham yang begituan." Mela menyerahkan berkas yang diberikan Lisa tadi pada Karin.


Karin menerimanya dan duduk membacanya. Wajahnya berubah ubah. Dahinya berkerut.


"Apa isinya mbak?" Mela kepo.


"Beliau mengembalikan seluruh yang diambilnya kepadaku. Beliau juga mengembalikan seluruh hak pengelolaan atas bagian Del dan Zoya. Ada apa dengannya?? Datang menggebu gebu meminta bagian, lalu datang lagi mengembalikan semuanya? Aku gak ngerti,,,"


"Sudah mendapatkan hidayah mungkin mbak. Oh ya,,,dia tadi tampilannya memprihatinkan lho. Datang sendiri tanpa anak anaknya. Dan kelihatannya sakit deh. Lemas gitu mbak." Mela menggambarkan kondisi fisik Lisa tadi.


"Semoga apa pun yang terjadi dan menimpanya saat ini,,,beliau diberi kekuatan dan kesehatan. Semoga niat dan perbuatan baiknya mengembalikan yang bukan haknya ini juga mendapat balasan yang baik dari tuhan."


"Ih mbak Karin ini masih mau saja mendoakan orang seperti itu. Orang seperti itu tuh harusnya segera dimusnahkan saja dari muka bumi ini." gerutu Mela.


"Hustt,,, gak boleh ngomong gitu mbak Mel."


"Habisnya kesal sih saya."


"Semua orang itu berhak untuk dimaafkan dan didoakan. Semua juga punya kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri dan kesalahannya. Kita tidak boleh menghujat atau mendoakan yang buruk kepada siapa pun termasuk yang pernah melukai kita."


"Duh mbak,,, Mela mah nggak bisa begitu. Susah berusaha seperti mbak Karin. Kalau mbak Karin kan emang bagai bidadari tak bersayap." Mela memuji Karin.


"Bisa saja kamu mbak. Sudah ayo tutup pintunya. Kita main lagi sama anak anak."


"Siap mbak."


"Aku terima niat baikmu ini tante Lisa. Semoga bisa jadi amalan baik yang akan meringankan dosamu. Semoga semua baik baik saja. Aku atas nama suamiku, telah memaafkanmu walau kamu tak mengembalikannya."


Karin menatap berkas itu lalu menyimpannya baik baik.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2