Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 14


__ADS_3

Nara kembali dari toilet setelah sekian menit, gadis dengan rambut terurai ini berjalan ke meja yang telah menunggu teman barunya di sana, penampilan sederhana Nara membuat ia terlihat jauh berbeda dari Sheira yang berdandan cantik bak seorang artis seperti biasa kesehariannya.


"Maaf nona Sheira apa aku terlalu lama?".


"Iya kau terlalu lama, padahal tadi ada kakak sepupuku ingin berkenalan denganmu", jawab Sheira santai sambil mengunyah kembali makanannya.


"Benarkah? apa kakakmu juga di sini? mana dia?".


"Dia sudah pergi, ada urusan mendadak jika tidak mungkin dia akan makan bersama kita di sini, asal kau tahu saja ini restoran milik kakeknya, sayang sekali kau tidak menyukai makanan ini padahal semua ini gratis untuk kita sayang".


Ucap Sheira tersenyum menggenggam tangan Nara.


Nara menjadi tidak enak hati mendengarnya.


"Ayolah Nara aku tidak menyinggungmu, santai saja aku tidak akan memaksamu untuk makan di sini", ucap Sheira lagi setelah melihat wajah sendu teman barunya itu.


"Iya nona, aku tidak tersinggung.... ayo lanjutkan saja makanmu, aku akan minum jus ini saja", jawab Nara tersenyum.


Sheira mengangguk dan melanjutkan makannya, namun sekian detik kemudian ia terdiam dan berhenti mengunyah seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ah..... Nara, kau ini cantik dan baik kenapa aku baru teringat sekarang....", ucapan Sheira menggantung sambil menggelengkan kepala nya sambil tersenyum aneh membuat Nara mengernyitkan dahi heran.


"Ada apa nona melihatku seperti itu? apa ada yang salah denganku?", tanya Nara heran.


"Iya kau itu terlalu cantik untuk dianggurin, kau tahu Nara? dalam keluarga ku ada dua pria yang sedang patah hati, pertama kakak sepupuku tadi yang gagal menikah, kedua adalah kakak kandungku sendiri yang juga gagal menikah karena tunangannya meninggal dunia".


Nara tercengang mendengarnya.


"Ya Tuhan, kenapa aku baru mengingatnya sekarang. Jika bertemu dengan gadis seperti mu apa mereka bisa move on? ah aku begitu penasaran", ucap Sheira tersenyum sendiri membayangkannya.


"Nona?", Nara masih tidak mengerti.


"Hei..... kenapa kau tegang begitu, aku serius Nara akan aku kenalkan kau pada kedua kakakku itu, gadis muda cantik lagi... siapa yang berani menolakmu bukan?", Sheira berkata sambil menatap wajah Nara penuh arti.


"Aku rasa kak Reno lebih mudah move on jika bertemu denganmu, tapi aku ragu dengan kakakku Dannis karena dia begitu terpukul ketika tunangannya meninggal satu hari sebelum pernikahannya, menyedihkan sekali memang tapi orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi bukan? jadi tidak ada alasan lagi jika kak Dannis menolak berkenalan denganmu, siapa tahu kau bisa menggeser perempuan itu di hatinya", ucap Sheira panjang lebar sambil membayangkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa? Reno? Dannis?", tanya Nara tercengang.


"Kenapa begitu Nara? iya nama kedua kakakku itu Reno dan Dannis, apa ada yang salah dengan itu?".


'Apa nama Reno dan Dannis itu begitu pasaran di kota ini? huh kenapa kebetulan sekali, tapi bukankah ada banyak nama yang sama terlebih ini kota besar, kenapa jadi terbayang wajah Reno dan tuan Dannis ya?', Nara bergumam dalam hati.


"Hei.....", Sheira melihat Nara termenung segera ia melambaikan tangan tepat depan wajah gadis itu.


"Ah iya nona Sheira, maafkan aku".


"Aku harap kau tidak menolak jika ku ajak berkenalan denganmu kakak-kakak ku itu nanti", genggam Sheira pada tangan temannya itu.


"Tentu aku senang ajakanmu nona, tapi aku merasa tidak percaya diri berkenalan dengan orang kaya seperti kalian, lagipula tidak mungkin kakak nona tertarik padaku yang hanya gadis desa berpendidikan rendah sepertiku, terlebih aku hanya pekerja kebersihan", jawab Nara merendahkan diri.


"Hei..... tidak ada yang salah dengan itu Nara, kita tidak bisa memilih ingin lahir sebagai orang kaya atau bukan, kau tahu keluargaku tidak pernah memandang siapapun sejauh itu", Sheira merasa tidak enak hati.


"Aku senang mendengarnya nona, terbukti nona Sheira mau berteman denganku, aku yakin keluarga nona pun baik sepertimu, maaf aku meragukannya tadi".


"Baiklah, kita bisa bicara lagi nanti.... tenanglah Nara jangan berpikir yang bukan-bukan apalagi merendahkan diri, aku tidak menyukainya, kita semua sama di sini".


"Sudahlah, ayo habiskan minumnya kita akan pulang setelah ini".


Nara hanya mengangguk.


Baru saja akan berdiri berniat akan pulang, langkah Sheira terhenti ketika berhadapan dengan seseorang.


Lama gadis yang berpenampilan sama dengannya itu menatap Sheira lalu menatap wajah dan penampilan Nara yang berada di samping Sheira.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?", tanya Sheira dengan nada tajam, membuat Nara menjadi heran sekaligus terkejut.


"Ah..... tidak ku sangka kita bertemu di sini Sheira, sudah lama sekali kita tidak bertemu, ayolah kenapa kau menyapa teman lama mu begitu?", ucap salah satu gadis itu tersenyum mengejek.


"Ck.... kau tidak pantas disebut teman di dini", jawab Sheira kesal.


Lalu gadis itu menatap Nara lama.

__ADS_1


"Oh siapa ini? apa dia asisten pribadimu? aku baru tahu kau punya pelayan sekarang, apa kau sudah tidak memiliki teman selain berteman dengan seorang pelayan?", ucap perempuan itu mengejek setelah menatap penampilan Nara.


Tanpa berkata-kata Sheira mengambil gelas jus Nara yang masih tersisa, lalu menyiramnya pada baju wanita itu.


"Apa yang kau lakukan Sheira?", bentak wanita itu.


"Nona?", ucap Nara tercengang.


"Itu karena kau berani menghina temanku", jawab Sheira kesal, kemudian gadis Kemal itu menyiram jus itu lagi untuk yang kedua kalinya.


"Itu untuk mantan teman yang tidak tahu malu menampakkan wajahnya di hadapanku, beruntung aku tidak membunuhmu kali ini Angel", ucap Sheira geram.


"Sheira", bentak wanita itu lagi dengan kilatan marah pada matanya, ia melayangkan tangan ingin menampar Sheira, namun segera ditepis gadis itu.


"Kau pikir kau bisa menyentuh pipiku?", Sheira mendorong wanita itu hingga terjatuh ke lantai.


Semua adegan itu disaksikan banyak pengunjung di sana, suasana menjadi hening ketika semua orang tercengang.


Sheira menarik tangan Nara ingin segera pergi dari sana, namun langkah mereka kembali terhenti ketika seorang perempuan lain menghampiri dan membantu Angel berdiri.


"Ranti?", ucap Nara.


"Aku tidak mengenal mu", jawab gadis yang Nara yakini itu adalah saudara tirinya.


"Oh, bukankah Ranti itu nama saudara tirimu Nara?", tanya Sheira pada Nara lalu menatap wajah Ranti dengan kesal.


Nara hanya mengangguk polos.


"Ck.... dua perempuan yang tidak tahu diri berani berhadapan denganku hari ini", ucap Sheira dengan menyeringai kemudian ia mengambil lagi gelas jusnya yang masih tersisa di gelas lalu menyiram wajah Ranti.


Membuat Nara terkejut dan tercengang tanpa bisa berkata-kata lagi.


Belum juga Ranti ingin bersuara, Sheira dengan sudah lebih dulu menarik tangan Nara dan meninggalkan kekacauan itu di sana.


"Urus mereka, jangan sampai restoran kakekku kotor oleh dua wanita rendahan seperti mereka", ucap Sheira pada dua orang satpam yang baru saja datang.

__ADS_1


__ADS_2