
Dannis dan Nara menjadi canggung satu sama lain setelah mama El meninggalkan mereka di kamar.
Nara yang semula merasa sangat lapar sekarang mendadak kehilangan selera, ia membereskan nampan dan makanan yang sudah tidak layak untuk dimakan lagi karena sudah basah semua oleh air yang tumpah, tangan cantiknya begitu telaten membersihkan meja lalu ia mengangkat nampan berniat akan menaruhnya di dapur.
"Biar aku saja, kau tidak boleh keluar", ucap Dannis pelan sambil tangannya mengambil alih nampan yang berada di tangan istrinya itu.
Nara menunduk hanya bisa mengangguk saja tanpa berani menatap Dannis.
Pria itu segera keluar kamar berniat ingin menaruh nampan itu dan menggantikan dengan makanan baru, ia mengambil sendiri di dapur tanpa seorang pun tahu kecuali salah satu pelayan yang melihat langsung tuan muda mereka mengambil makanan yang ia tata kembali di dalam nampan lengkap dengan minumnya di sana yang mana Dannis tentu saja tidak pernah melakukan itu sebelumnya.
"Tuan Dannis? ada yang bisa ku bantu?", tawar pelayan itu.
"Iya, kau bisa membantuku untuk diam dan berpura-pura tidak melihatku melakukan ini semua", jawab Dannis tajam pada pelayan yang menelan ludah tersebut.
"Ba baik....", jawab sang pelayan tergagap dan segera menunduk takut akan tatapan tajam anak majikannya.
Dannis meninggalkannya tanpa basa basi, ia membawa nampan itu kembali ke kamar yang istrinya berada di sana.
Dannis kembali dibuat kesal ketika sampai di kamar ia melihat Nara sudah meringkuk di atas sofa dengan mata yang terpejam.
"Huh..... apa ini? baru beberapa menit aku tinggal dia sudah tertidur, kau memang menyebalkan", kesal Dannis meletakkan nampan itu di atas meja disertai hentakan kesal.
Pria itu memutuskan untuk kembali ke ranjang tanpa menghiraukan Nara, namun sudah berapa puluh menit kemudian pria ini terus memandang Nara dari tempatnya, ia melirik makanan itu bergantian dengan wajah gadis yang berhasil membuat jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya hanya karena sebuah tatapan mata indah milik Nara, tentu saja Dannis menyangkal akan hal itu.
"Dia benar-benar tidur? aku tidak percaya ini, dasar tidak tahu terimakasih sudah ku bantu bawakan makanan sekarang dia tidur tanpa bersalah, awas saja kau", gerutu Dannis kesal melihat Nara seperti sudah terlelap dengan mulut mungilnya yang terbuka.
****
Keesokan harinya seperti biasa Dannis bangun lebih awal dengan pakaian olahraga bersiap untuk lari pagi, ia rutin melakukan itu setiap libur akhir pekan.
__ADS_1
Entah kenapa Nara selalu tidur dengan lelap hingga hari inipun gadis itu masih kesiangan, membuat Dannis tersenyum devil menatapnya berniat mengerjai gadis itu.
Pria ini turun ke bawah dimana masih sepi kecuali para pelayan yang berada di sana.
"Tuan Dannis?", ucap salah satu pelayan yang terkejut kehadiran majikan mereka dipagi buta seperti ini.
"Berikan aku satu buah lemon!", perintah Dannis.
Karena takut dan tidak ingin banyak bertanya pelayan itu memberikannya pada Dannis.
"Aku ingin separuhnya saja".
Segera pelayan tersebut membelah jeruk lemon yang diminta Dannis dan memberikannya.
Dannis menerima lemon di tangannya dan pergi begitu saja dari dapur.
Dannis kembali ke kamar, benar saja gadis yang masih terbuai mimpi itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan bangun, membuat Dannis tersenyum puas bahwa rencananya akan berhasil.
Dannis memeras jeruk lemon itu tepat di mulut Nara yang memang terbuka ketika tidur.
Hanya sedikit namun efeknya mampu membuat mata gadis berkulit putih itu membesar sempurna, kemudian langsung menyipit kembali ketika asamnya lemon mulai mengenai indera perasa.
Nara menggelengkan kepala berulang dengan menjulurkan lidahnya keluar untuk menetralisir rasa asam lemon.
Setelah beberapa saat matanya melirik tajam Dannis yang tertawa akan hal itu.
"Ah aku sangat puas", ucap Dannis membalas tatapan Nara seraya menantang.
"Kenapa kau jahat sekali", gumam Nara pelan, ia berdiri berniat ke kamar mandi untuk menghindari Dannis, sungguh ia enggan meladeni pria itu.
__ADS_1
"Mau kemana kau?", Dannis mencegah dengan memegang lengan Nara.
"Mau ke kamar mandi", jawab Nara datar, ia tidak melawan ataupun meladeni Dannis hingga membuat Dannis yang semula tertawa karena merasa berhasil mengerjai gadis itu sekarang berubah kesal karena sikap Nara yang terlihat tidak acuh.
"Kenapa kau tidak melawan?", pertanyaan konyol itu muncul saja dari bibir Dannis.
"Aku tidak akan berani melawan mu tuan Dannis yang terhormat".
"Baiklah.... sekarang kau makan lemon itu, bukankah kau tidak akan melawanku? itu artinya kau akan menuruti perintah ku".
"Baik", jawab Nara singkat, entah kenapa Dannis justru bertambah kesal dibuatnya.
Nara melirik Dannis dengan tatapan mata sayunya, gadis itu mengambil kembali lemon yang tersisa di atas meja membuat Dannis merasa heran bahwa Nara benar-benar bodoh menuruti perintah nya tanpa banyak bicara seperti biasa.
"Tuan ada kecoa di atas kepalamu", tunjuk Nara dengan cepat.
Karena tidak fokus oleh pikirannya sendiri Dannis mengikuti arah telunjuk Nara mengarah ke atas kepalanya.
"Apa?", disaat kata inilah Nara mengambil kesempatan ketika mulut Dannis terbuka dengan mata mengarah ke atas.
Segera Nara memasukkan lemon itu ke mulut suaminya yang mana lemon itu ia peras sedikit airnya, berhasil membuat Dannis membesarkan matanya dan segera menyipit karena asamnya lemon menguasai lidahnya.
"Satu sama", ucap Nara tersenyum manis seraya mengejek pada pria itu, Nara segera berlari menuju kamar mandi sebelum Dannis membalasnya lagi.
Dannis terbatuk-batuk karenanya, ia menggeram ketika ekor matanya mengikuti langkah Nara yang berlari ke kamar mandi.
"Awas kau", ingin sekali Dannis membalas gadis itu lagi namun urung karena bunyi ponselnya berdering.
Setelah menerima telepon, Dannis menatap pintu kamar mandi.
__ADS_1