Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 4


__ADS_3


Dannis menghembus napas kasar ketika mendengar suara dering ponselnya tanda panggilan masuk.


Pria gagah ini tengah berada pada sebuah hotel tempatnya menginap, Dannis punya cara tersendiri agar hidupnya tetap berlanjut tanpa seorang perempuan yang ia cintai, yaitu dengan menyibukkan diri bekerja dan menangani beberapa proyek bersama teman karibnya Alan.


"Ada apa kau menghubungi ku pagi-pagi buta seperti ini?", tanya Dannis pada orang yang sedang berada di seberang sana.


'Dannis, bangunlah ini sudah siang bodoh.... katamu kau ada pertemuan? setelah itu cepat kembali, mama mengkhawatirkanmu', jawab Alea, ternyata Alea lah yang menelepon saudara kembarnya ini.


"Ya ampun, aku baru meninggalkan rumah selama dua hari, seperti nya mama masih menganggapku anak-anak", jawab Dannis geleng kepala.


'Tentu saja mama khawatir, kau terlihat seperti mayat hidup sejak calon istrimu tiada, ayolah Dannis segera pulang'.


"Baiklah.... katakan pada mama besok aku pulang setelah pekerjaanku selesai", Dannis tidak membantah lagi, ia tidak pernah bisa mengabaikan permintaan sang mama meski tengah sibuk sekalipun.


Pria ini mematikan ponselnya dan melanjutkan untuk tidur kembali, karena Dannis hanya bisa memejamkan mata pada saat pagi saja sebab jika malam ia selalu terjaga oleh sebuah mimpi yang ingin sekali ia hindari.


Namun kembali ia merasa kesal oleh panggilan masuk pada ponselnya lagi, segera ia terima setelah matanya menatap nama pemanggil itu.


Setelah berbicara di telepon, akhirnya Dannis bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, sekretarisnya lah yang menghubungi agar segera bersiap jadwal pertemuan akan dimajukan oleh kliennya.


******



Khinara terus menangisi nasib buruknya yang mengantarkan dirinya tinggal di kota, perlakuan istri paman Heru sungguh tidak manusiawi, Nara dikurung dalam kamar tidak diberi makan dan minum sejak kejadian semalam.


Gadis ini tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan, untuk meminta tolong seseorang bahkan ponselpun ia tidak punya.


Selain pasrah tidak ada lagi cara lain, tubuhnya lemah karena belum diberi makan, ingin rasanya ia lari saja dari sana tapi tentu saja tidak bisa karena saat ini ia terkurung dalam kamar seorang diri.


Nara menatap wajahnya pada cermin, airmatanya kembali menetes sambil tangannya meraba luka pada sudut bibir mungilnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka ibu dan Ranti tega melakukan ini padaku, oh jika saja ayah masih ada nasibku setidaknya tidak akan seburuk ini", gumam Nara pada bayangannya sendiri.

__ADS_1


Kemudian ia kembali ke ranjang dan meringkuk di sana, ia begitu lapar dan dahaga, tidak seorang pun yang membuka pintu untuk memberinya makan dan minum, akhirnya Nara pun tertidur dengan sendirinya.


*****


Nara mengerjapkan mata dan terheran saat dirinya merasa bahwa ia tengah berada pada sebuah mobil yang tengah berjalan.


"Bibi?", panggil Nara sesaat setelah ia terjaga dan menyadari ia sudah berada di mobil bersama istri paman Heru dan tiga orang lelaki asing yang belum ia temui.


"Kau sudah bangun sayang?", seringai istri paman Heru.


"Bi, kita mau kemana? bi aku mohon lepaskan aku", Nara memohon ketika tangannya dipegang oleh dua orang asing yang membatasi pergerakannya.


"Tenanglah Nara, kau bahkan akan berterimakasih padaku karena hal ini, kau tentu bosan hidup di desa bersama ibu dan saudara tiri yang menusukmu dari belakang bukan?, sebentar lagi kau akan bebas sayang... bebas sebebas bebasnya", jawab istri paman Heru dengan senyum khasnya.


"Aku mohon bi, lepaskan aku... aku tidak mau, aku mau kembali ke desa saja bi tolong lepaskan aku", kembali Nara memohon sambil menangis, ia sudah mengira jika ini pertanda tidak baik bagi dirinya.


Istri paman Heru tidak menggubris lagi melainkam hanya tertawa seram dengan seringai bibirnya yang menakutkan.


Mereka sampai pada sebuah hotel mewah yang berada di tepi kota, Nara hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki istri paman Heru dengan dikawali dua orang lelaki yang sejak tadi membatasi pergerakannya.


"Bibi?", rengek Nara geleng kepala memohon pada istri paman Heru yang tidak jauh darinya berada.


Istri paman Heru tidak menjawab melainkan fokus pada percakapannya dengan wanita itu.


"Dia masih pure, tentu saja harganya berbeda dari yang lain", ucap istri paman Heru pada wanita itu.


Nara mengernyitkan dahi mendengarnya.


"Bibi menjualku?", tanya Nara heran, gadis ini tidak bisa berkutik setelah dipegangi kedua tangannya oleh lelaki yang menjadi penjaganya sejak tadi.


"Lebih tepatnya membebaskanmu pada dunia penuh kenikmatan Nara, kau akan menjadi primadona nanti. Tenanglah, bukankah kau juga tidak diinginkan lagi oleh ibumu dan Ranti", jawab istri paman Heru santai.


"Bibi aku mohon jangan lakukan ini padaku", rengek Nara lagi.


Tidak ada yang menyelamatkannya dari takdir yang menyakitkan ini, Nara ketakutan dan hanya bisa pasrah tanpa perlawanan karena ia tahu itu akan sia-sia saja.

__ADS_1


Masih menangis sesegukan, Nara dipaksa memakai pakaian seksi tanpa lengan, menampilkan bahunya yang mulus sempurna, lekuk tubuh yang ditampilkan oleh pakaian itu membuat Nara tidak nyaman.


Setelah didandani oleh wanita tadi Nara pun diantar pada sebuah kamar yang diyakini tempatnya akan menjual diri, lebih tepatnya dijual. Ia tidak berani berontak karena wanita itu tidak segan memukulnya hingga berdarah jika melawan, tubuhnya kian lelah selain pasrah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.


Nara dipaksa masuk pada kamar vip diantar oleh wanita itu dan salah seorang petugas hotel yang memberinya akses masuk kamar sebelum penghuninya kembali.


"Kau akan ketagihan nanti sayang..... selamat menikmati malam panjang bersama bos besar yang menyewamu dengan harga yang sangat mahal, layani dia dengan baik", ucap wanita itu sambil menyeringai menepuk-nepuk pipi Nara.


Nara tidak berhenti menangis dan cemas kala berada di kamar itu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika pria yang menyewanya tiba nanti.


Benar saja, dadanya kian berdegup kencang saat bunyi pintu kamar dibuka pertanda penghuninya telah kembali dan siap untuk memangsanya.


Tanpa basa basi Nara langsung bersujud di hadapan seorang pria yang bahkan wajahnya belum ia tatap sama sekali karena rasa takut yang masih menguasainya.


"Ampun tuan, ampun.... aku mohon lepaskan saja aku, aku bukan wanita jalang tuan, aku dipaksa, ampun tuan lepaskan saja aku", ucap Nara sambil menangis tersedu di sela sujudnya.


Membuat pria itu mengernyit heran.


"Siapa kau? kenapa bisa ada di kamarku?", tanya sang pria dengan nada tajam.


Nara terdiam, ia mengangkat wajah berani menatap lawan bicaranya yang ternyata pria tampan berdiri tapat di hadapannya.


"Bukankah tuan yang menyewaku?", tanya Nara heran, matanya kian sipit oleh tangis yang baru saja berhenti.


"Apa?"


bersambung.....



Alan



Reno

__ADS_1


__ADS_2