Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Untuk Apa


__ADS_3

...Hai,,, Selamat membaca ya πŸ€—...


...Maafkan typo yang bertebaran πŸ€­πŸ™...


...🌸🌸🌸...


"Maaf kalau saya baru sempat menemui ibu. Tadi bapak meminta saya menemani beliau untuk bicara dengan kepala cabang. Ada sedikit kendala di cabang yang saya juga harus tau."


Megha menjelaskan kenapa dirinya yang sangat ingin menemuinya terlebih dulu tapi terhalang dengan kendala di cabang perusahaan.


"Sedekat apa kalian berdua??" lirih Karin.


"Maaf bu." Megha tidak jelas dengan pertanyaan lirih Karin.


"Aku cuma tanya,, Kamu sama,,,"


"Haiii,,, Di sini rupanya kalian. Sayang,,, Kamu sudah kenalan kan sama Megha. Ini dia Megha sekretarisku yang sering kita repotin buat beli nasi goreng kesukaanmu itu."


Dion datang menghampiri dan membuat pertanyaan Karin terpotong. Karin tersenyum meski dengan sedikit terpaksa dan hatinya merasa terluka dengan ucapan Dion yang sebenarnya tidak bermaksud apa apa.


Tapi bagi Karin yang tengah teracuni pikirannya,,,Kalimat seperti itu seakan menjelaskan seberapa berartinya hal yang dilakukan Megha bagi dirinya dan Dion sendiri.


"Hanya belikan nasi goreng saja sudah dibesar besarkan. Kalau begitu mulai sekarang aku gak mau minta beli nasi goreng itu lagi. Memangnya hanya nasi goreng itu saja yang enak?? Aku juga bisa buat sendiri yang lebih enak dari itu." batin Karin kesal.


"Bapak,,,Tidak usah dibesar besarkanlah. Hanya beli nasi goreng saja.Itu pun juga sudah jadi pekerjaan saya sedari dulu bukan??"


Pas,,, Niat hati Megha merendah malah makin membuat Karin merasa kesal.


"Iya iyaaaa,,,Memang kamu yang sedari dulu mengurus suamiku. Bukan aku!!!" ketus Karin.


Dion melongo mendengarnya. Bahkan tidak bereaksi saat Karin langsung pergi meninggalkannya keluar gedung itu.


"Pak,,,Sepertinya ibu salah paham. Apa perlu saya yang jelaskan??" Megha menyadarkan Dion.


"Hah,,, Mmm,,, Gak,,,Gak usah. Biar aku sendiri. Kamu handle semua di sini ya. Aku susul ibu dulu."


Dion langsung pergi dan mengabaikan kalimat "baik pak" dari Megha. Dion berlari menyusul Karin yang sudah menerobos beberapa tamu undangan yang memandangnya heran.

__ADS_1


Megha menghela napas berat. Tidak menyangka bahwa istri atasannya yang masih muda itu selabil itu. Begitu cepat menyimpulkan tapi salah.


"Heran juga kenapa gadis itu yang dipilih pak Dion ya???"


Suara Sandra mengejutkan Megha.


"Hah?? Maksudnya apa San??" tanya Megha.


"Ya heran aja. Abg labil gitu kok dinikahi. Lihat tuh,,,semua yang datang jadi berbisik bisik membicarakan ulahnya yang kekanakan itu. Ngambek kok di pesta akbar begini. Gak bisa ditahan apa untuk nanti saja?? Setidaknya kan jaga nama baik pak Dion biar gak jatuh di depan anak buahnya ini." Sandra mencaci.


"Emang cuma kamu aja Gha,," Dewi menimpali.


"Aku??Kenapa aku??" Megha gak paham.


"Ya emang cuma kamu aja yang cocok buat pak Dion.Jadi sekretaris cocok karena kamu pandai dan cantik. Penampilanmu jauh lebih modis daripada bu Karin yang cuma pakai gaun lebar dan kerudungnya itu. Kamu juga lebih pandai tentunya dengan gelar mastermu itu." Dinda menjelaskan.


"Dan yang lebih penting kamu yang lebih matang daripada bu Karin. Kamu lebih bisa menjaga emosi dan menjaga nama baik pak Dion di depan semua kolega maupun di depan siapa saja." Dewi bicara lagi.


"Ini maksudnya apa sih kalian bicara begitu???" Megha jadi risih.


"Intinya,,, Kamu yang lebih cocok jadi pendamping pak Dion. Mau itu dampingi di kantor atau pun dalam hidupnya pak Dion. Bukan bu Karin." Sandra to the point.


"Masak kamu kalah sih sama bocil kayak bu Karin itu?? Itu kan cuma lalat kecil yang lupa dari mana tempat asalnya saja." Dinda memanasi.


"Sudah cukup.Cukup kalian ngaconya. Kalian kebanyakan minum champagne ya?? Mabuk kalian tuh,,," Megha menoyor kepala Dinda.


"Eh kita gak mabuk kali,,, Gha,,, Yang kita bilang itu benar lho. Semua yang kerja di sini juga pada tau kalau lo yang jauh lebih pantas buat pak Dion." Sandra mengelak dibilang mabuk karena memang tidak mabuk.


Hanya sedang bersandiwara.


"Gue sama pak Dion itu gak pernah ada apa apa. Kita sama sama profesional kerja. Kalian aja yang mikir macam macam." tegas Megha.


"Saking profesionalnya sampai begituan aja bisa di ruangan pak Dion." cibir Dinda.


"Begituan apa ya?? Gue gak ngerti." tepis Megha.


"Udah deh,,, Jangan ngelak lagi. Bukan hanya kita kok saksi matanya. Ada beberapa karyawan yang lihat juga lho. Lo ngaku aja sama kita napa sih Gha?? Kita ini kak teman lo,,,Kalau sama yang lain boleh aja ngeles. Tapi kalau sama kita bertiga,,,Janganlah." ucap Sandra.

__ADS_1


"Ngaku apa sih San?? Kalian makin lama makin ngaco deh!!! Udah gue mau kesana dulu. Ada tamu penting datang tuh." tunjuk Megha ke arah sekumpulan orang berdasi yang baru tiba.


Segera Megha mewakili Dion berbaur dengan tamu undangan itu. Menjelaskan pada mereka bahwa Dion masih ada urusan di luar saat ini.


🌹🌹🌹🌹


"Cillll,,,, berhenti dong. Kamu kenapa sih sayang???" Dion akhirnya berhasil menghela lengan Karin yang sedari tadi membuatnya lelah mengejar.


"Lepasin!!!" ketus Karin dengan sikap memberontaknya.


"Karina Saswita,,,, Aku bilang berhenti." suara Dion terdengar tegas.


Tapi suara tegas itu malah membuat bidadari kecilnya itu tersedu sedu.


"Astaga,,,, Maafin om papa ya. Bukan maksud om papa bentak atau marah sama kamu sayang. Om papa cuma ingin tau apa masalahnya kok kamu ngomongnya kayak tadi itu." Dion meraih kepala istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Om papa jahat." ucap Karin di sela tangisnya sambil memukul mukul dada Dion.


"Iya pukul sayang,,,Pukul yang kuat kalau itu bisa buat semua kekesalan kamu terlampiaskan. Pukul terus biar kamu bisa maafin om papa. Om papa minta maaf kalau ada salah sama kamu ya sayang." Dion sama sekali tak mengelak atau melawan.


Baginya juga tidak ada artinya pukulan pukulan kecil seorang wanita apalagi itu bidadari pilihan hatinya. Pukulan tak membuatnya sakit tapi airmata Karinlah yang meremukkan hatinya.


"Karin gak suka om papa dekat dekat Megha. Katanya kalian punya hubungan special." seru Karin masih memukuli Dion.


"Siapa yang bilang sayang??" tanya Dion lembut sambil mendorong pelan tubuh Karin agar ia bisa melihat mata bidadarinya itu.


"Sandra,,, Dewi,,, Dinda juga bilang hal yang sama."


"Kamu percaya itu?? Kalau om papa bilang itu gak benar,,,Apa kamu tetap lebih memilih percaya mereka???" Dion menghapus airmata Karin.


"Kalau benar om papa ada hubungan dengan Megha,,, Sudah dari dulu sejak enam tahun lalu saat Megha bergabung di perusahaan sudah om papa nikahi dia. Untuk apa mengejarmu lagi?? Untuk apa memohon pada papamu untuk merestuiku??"


Karin terdiam. Isakan tangisnya juga terhenti.


...🌸🌸🌸🌸...


...Pikirin sendiri tuh Rin,,, πŸ˜‚...

__ADS_1


...Masih slow up ya πŸ˜·πŸ€’πŸ€’...


Dukung author dengan vote, like dan komen ya 🌸❀️🌹


__ADS_2