
...Selamat membaca 🌸...
...❤️❤️❤️...
"Loh kamu kok tau tau sudah di rumah aja Dion?" seru mama Herna yang terkejut melihat Karin sudah menggandeng Dion keluar dari kamar mereka.
Tadi saat pulang memang mama Herna dan papa Hengki tengah berolahraga pagi jalan santai keliling komplek perumahan mewah, salah satu aset milik keluarga ini di Singapura.
"Memangnya aneh kalau Dion pulang?" Dion bertanya balik.
"Ya bukan begitu. Maksud mama itu kok kamu malah pulang? Hana ditinggal sendirian dong di sana. Nanti kalau kenapa kenapa lagi kan kamu juga yang repot toh. Ingat Hana itu tanggung jawabmu lho Dion." mama Herna menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.
"Dion paham dan belum lupa kok ma kalau Hana memang jadi tanggung jawab kita sekarang. Tapi Dion juga gak lupa kalau Hana bukan sepenuhnya tanggung jawab Dion. Ada Karin yang lebih wajib Dion jaga baik hati,,perasaan maupun raganya."
Mama Herna terdiam. Dion membimbing Karin yang tengah tersenyum mendengar ketegasannya itu. Ajakan Dion untuk berjuang bersamanya telah disetujuinya tadi dan kini ia melihat sendiri bentuk dari perjuangan Dion mengutamakan rumah tangga mereka.
"Duduklah sayang." ujar Dion sambil menarik kursi untuk Karin.
"Oh ya ma,,,Masalah Hana Dion tinggalin itu mama jangan khawatir. Dion udah suruh dua perawat menjaga dan menemaninya. Hana sendiri juga tau kalau Dion sibuk hari ini. Dia akan baik baik saja."
"Kamu yakin?" tanya mama Herna.
"Untuk lebih meyakinkan,,, nanti kita ke rumah sakit saja ma. Kita bareng bareng temani mbak Hana. Boleh kan om papa kalau Karin ikut ke rumah sakit?" Karin langsung melempar pertanyaan untuk Dion.
Dion paham apa yang dilakukan karin itu adalah bentuk perjuangannya juga untuk menegaskan pada mama Herna bahwa dirinya sebagai istri Dion juga akan mensupport jika Dion ingin bertanggung jawab pada Hana.
Karena menurut Karin dan Dion bentuk tanggung jawab itu sendiri tak melulu harus menikahinya. Banyak hal lain yang bisa dilakukan selain itu.
"Boleh sayang tapi kalau bisa kamu jangan lama lama ya di sana. Kalau merasa lelah langsung telepon om papa biar om papa jemput dan antar kamu pulang." Dion menunjukkan sikap sayangnya pada Karin di depan mama Herna dan papa Hengki.
__ADS_1
Sebenarnya itu hal biasa tapi sejak timbul keinginan mama Herna untuk menikahkan Dion dengan Hana,,,Dion juga ingin menunjukkan bahwa hati dan cintanya,,, bahkan raganya hanya milik Karin seorang.
"Iya sayang. Bagaimana ma? Bisa kan kita berangkat bersama ke rumah sakit?" tanya Karin.
"Iya ma barengan saja sama Karin. Mama kan selalu mengingatkan Dion kalau Hana itu tanggung jawab kita sekarang. Jadi bolehkan kalau Dion minta tolong mama sama papa yang gantiin Dion jagain Hana?? Kan juga mama selalu bilang kalau Hana itu putri mama. Gak akan berat dong bagi seorang ibu menjaga anaknya?"
Halus tapi menyindir. Mama Herna merasa dipermainkan oleh Dion.
"Mmm,,,Apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja Rina?" mama Herna keberatan mengajak Karin.
"Kan sekalian juga hari ini jadwal untuk cek kandungan Karin juga lho ma. Mama gak lupa kan? Urusan cucu mama mana boleh dilupakan? Benar kan?" Karin makin membuat mama Herna terpojok secara halus.
"Oh iya mama baru ingat." mama Herna malu malu mengakuinya. Harus diakuinya memang ia malah lebih mencemaskan kandungan dan keadaan Hana saat ini hingga lupa ada calon cucu yang sebentar lagi hadir menyapa.
"Wah mama nih udah makin tua aja kayaknya pa. Jadwal cek cucu sama susu buat cucu aja pagi ini dilupakan. Hmm gimana nih baby D,,, Sana ngambek sama oma. Oma belum belum udah mengabaikan kamu aja tuh."
Dion meledek namun bagi mama Herna itu bukan sekedar ledekan melainkan pukulan keras baginya.
Papa Hengki sedari tadi memang hanya senyum senyum simpul saja melihat mama Herna disindir halus oleh anak dan menantunya. Papa Hengki sepertinya memahami maksud dan tujuan Dion berlaku demikian.
Beliau bersyukur melihat kekuatan cinta Dion dan Karin,,, kekompakan mereka dalam mempertahankan kesucian rumah tangganya. Papa Hengki sendiri sudah lelah juga menasehati istrinya agar tak terus menanamkan pikiran "Harus Menikahi Hana" di otak Dion.
"Sudah sudah jangan meledek mama terus. Biar mama buatin dulu susu buat Rina." mama Herna langsung beranjak.
"Papa senang melihat kalian akur kembali. Meski kemarin tidak ada pertengkaran secara langsung tapi papa paham hubungan kalian sedang tidak baik baik saja. Pagi ini papa lega melihat cinta di mata kalian berdua." ujar papa Hengki dengan lembut.
"Doakan kami berdua ya pa. Biar kami selalu seiya sekata dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Langgeng sampai maut memisahkan. Inshaallah." ucap Karin.
"Aamiin." baik Dion dan papa Hengki langsung menyahut.
__ADS_1
"Yang penting kalian berdua harus ingat bahwa dalam berumah tangga,,, mendung atau bahkan badai itu pasti ada.Tidak melulu akan cerah ceria. Tapi selama kalian kompak berjalan bersama,,, tidak ada yang namanya hujan berkepanjangan. Matahari akan kembali tersenyum."
"Iya pa. Kami akan selalu ingat kata kata papa." jawab Dion mewakili istrinya.
"Rina,,, ini susunya. Minum dulu mumpung hangat." mama Herna muncul kembali dengan segelas susu hangat.
"Terima kasih ma." sambut Karin dan langsung meneguk habis susu itu.
"Ayo sarapan dulu semuanya. Kemarin malam kita sudah melewatkan makan malam bersama. Jadi pagi ini jangan sampai melewatkan sarapan bersama juga." ajak papa Hengki.
Mama Herna tampak manyun mendengarnya. Ia menyalahkan perkataan suaminya itu dalam hati. Ia tidak setuju kalau makan malam yang terlewatkan itu dinilai merupakan kesengajaan. Karena faktanya itu terjadi karena Dion harus menjaga Hana.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mama Herna enggan menyela karena pagi ini tampaknya baik anak maupun menantunya kompak menyudutkan dirinya.
"Kok ngelamun ma? Ayo sarapan. Nanti Dion keburu terlambat ngantor loh gara gara nungguin mama selesai sarapan." tegur papa Hengki.
"Memangnya kita berangkat bareng Dion?" tanya mama Herna.
"Loh kan selama ini tiap cek kandungan meski Dion gak bisa ikut menemani tapi Dion selalu mewajibkan dirinya sendiri yang mengantar ke rumah sakit. Hmmm mama lupa lagi ya?? Kurang makan ikan nih kayaknya mama. Udah gak cemerlang lagi tuh ingatannya." seru papa Hengki.
Dion dan Karin jadi tertawa mendengarnya ditambah lagi melihat mama Herna yang bersungut sungut dibuatnya.
"Iya iyaaa,,, Mama emang udah tua."
"Gak anak, gak menantu, gak papa,,, semua kompak mengerjai aku hari ini." batin mama Herna.
...❤️❤️❤️...
...Udah hari kamis aja nih. Yang masih punya jatah vote boleh dong kasi author aja. Daripada hangus yaa kaaan 🤭...
__ADS_1
Jangan lupa hadiah, like dan komen juga yaaa 😀 author banyak maunya 😆