
Dannis pergi ke kantor dengan perasaan bercampur aduk sejak pertengkaran pagi itu.
Siapa sangka pria ini menjadi tidak fokus bekerja, ia teringat jelas kemarahan Nara.
"Permisi tuan.... ini berkas yang anda minta", Reta sang sekretaris masuk dan memberikan sebuah map pada atasannya itu.
Dannis masih tidak bergeming.
"Tuan Dannis?", panggil Reta lagi.
Reta menelan ludah kasar saat mendapat tatapan tajam Dannis di hadapannya.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun".
"Baik...", jawab Reta cepat.
Setelah perempuan itu keluar, Dannis berdiri dengan kedua tangan berada di pinggang seraya kepalanya menengadah menatap langit-langit ruangannya.
"Sial...... dia bahkan berani memarahiku", gumam Dannis saat dirinya mengingat wajah istrinya.
"Baiklah.... aku tidak akan biarkan dia meracuni pikiranku".
Gumam Dannis lagi seraya kembali duduk di kursi kebesarannya, namun ia mendengus dengan kesal lalu segera ia berdiri dan mengambil kunci mobilnya, tidak berpikir lama Dannis pun keluar dari ruangan kerja tanpa menghiraukan beberapa pegawai yang menyapanya.
*****
Nara memilih untuk menumpahkan rasa sedih dan kesalnya dengan menyiram tanaman yang berada di halaman depan rumah.
Matanya menatap kosong ke sembarang arah.
"Bagaimana jika tuan Dannis marah dan benar-benar membuang ku? bukankah aku sudah tidak punya tujuan untuk pulang? apa aku akan terlunta-lunta di jalan sedang aku tidak punya ijazah untuk bekerja".
Gumam Nara merasa sudah keterlaluan tentang percakapan mereka tadi pagi yang mana ia berani menentang Dannis tanpa takut, entah kenapa hati gadis itu sekarang mulai melunak dan menyesal.
"Meski aku jadi pembantu di sini, setidaknya aku tidak mengemis.....oh apa yang harus ku lakukan jika tuan Dannis pulang nanti? Bagaimana jika dia mengusirku?", tanya Nara pada dirinya sendiri.
Tangan cantiknya masih memegang selang air menyiram tanaman, namun matanya entah melihat kemana.
Sampai pada ia menjatuhkan selang di tangannya ketika netranya menatap ke arah seorang perempuan yang sedang bicara melalui ponsel tidak jauh dari rumah Dannis dan Nara.
__ADS_1
Segera Nara berlari ke arah perempuan itu dan memeluknya tanpa permisi.
"Ranti....", panggil Nara tersenyum.
Gadis ini tidak menyangka bahwa perempuan yang ia lihat tadi adalah saudaranya Ranti, Nara memeluk Ranti penuh kerinduan seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Ranti terdiam, lalu ia segera melepaskan Nara secara paksa seraya menepisnya dengan kuat hingga Nara terhuyung ke belakang.
"Nara? kau di sini?".
"Ranti, aku merindukanmu.... Mana ibu? kenapa kau bisa ada di sini?".
Lama Ranti terdiam, ia menatap saudara tirinya dengan seksama dari kaki hingga ke kepala.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?".
"Kau jadi pelayan?", tanya Ranti heran.
Nara terdiam, ia baru teringat bahwa penampilannya seperti seorang pelayan.
Nara mengangguk, "Iya.... aku pelayan di rumah itu", tunjuk Nara pada rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Dannis.
"Oh aku rasa itu adalah pekerjaan yang pantas untukmu", ucap Ranti tersenyum sungging.
"Mana ibu? aku merindukan kalian... aku pulang namun kalian sudah pindah dan rumah kita di jual, kenapa kalian menjual rumah kita Ranti?".
"Ck..... jika kau ingin marah tiada guna, kami menjualnya untuk pindah ke kota saja lagi pula sudah tidak ada yang bisa dilakukan di sana, asal kau tahu kami pindah di rumah yang besar itu" tunjuk Ranti pada sebuah rumah yang tak kalah besar dari kediaman Dannis itu pada Nara.
Nara tersenyum, "Aku senang mendengarnya Ranti, apa aku boleh ikut kalian? mari kita lupakan perselisihan tempo hari, aku sungguh menyesal telah berani melawan ibu waktu itu, maafkan aku Ranti".
"Apa? apa aku tidak salah dengar? enak saja kau ingin ikut, asal kau tahu saja ibu sudah menikah lagi, jadi anggap saja kita orang asing sekarang karena memang kita bukan saudara, kita bukan keluarga lagi Nara jangan mengganggu kebahagiaan ibuku bersama suami barunya".
Airmata Nara kembali jatuh mendengar Ranti menolaknya mentah-mentah.
Tanpa mereka sadari Dannis berdiri dari halaman rumah melihat bagaimana Nara sedang bicara pada perempuan yang menolak dipeluk bahkan hampir mendorong Nara.
Pria tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun ia sungguh penasaran pada siapa Nara bicara.
Ranti meninggalkan Nara begitu saja, hingga pada Nara yang kembali menangis pulang ke rumah namun langkah Nara terhenti ketika ia berhadapan dengan Dannis.
__ADS_1
"Tuan Dannis? tuan aku mohon jangan marah padaku tentang tadi pagi, aku mohon jangan usir aku dari sini, aku benar-benar tidak punya tempat tujuan untuk pulang, aku tidak ingin terlunta-lunta, tidak apa-apa aku menjadi pembantu mu saja, kau tidak perlu merasa berat akan pernikahan ini, kau boleh menceraikan ku tapi biarkan aku tetap bekerja padamu, aku mohon tuan aku tidak akan melawanmu lagi, aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu setelah ini".
"Aku sendirian tuan, aku tidak punya saudara".
Nara berucap sambil terus menangis, Dannis yang melihatnya pun menjadi heran sendiri.
Nara bahkan meraih salah satu tangan Dannis yang ia genggam untuk memohon dengan mata indahnya.
Dannis bukannya menjawab, ia melirik tangannya yang diremas oleh gadis itu.
"Masuklah.... memohon dengan benar", jawab Dannis pelan, ia menarik kembali tangannya dari genggaman Nara lalu berlalu masuk ke rumah.
Pria itu merasa sesak ketika Nara menangis seperti tadi, maka ia segera mengelak akan apa yang terjadi pada jantungnya.
Pada kenyataan Dannis lah yang berniat ingin meminta maaf pada Nara, sebab ia menjadi kehilangan fokus pada pekerjaan hanya karena gadis itu maka darinya Dannis pulang berniat meminta maaf tentang drama kalung namun apa yang ia temui malah gadis itu yang memohon-mohon padanya.
Nara mengikuti langkah Dannis.
"Aku akan memaafkan mu tapi kau harus melupakan kejadian tadi pagi, anggap saja kita impas", tawar Dannis.
"Benarkah? tuan tidak marah padaku? huh aku selamat dari bayangan mengemis sekarang", ucap Nara berbinar, pun airmatanya sudah ikut kering.
Dannis berdecak, namun senyum tipis ia sunggingkan ketika menatap wajah cantik itu kembali berseri.
"Baiklah... kau boleh meminta ku bernyanyi, aku akan senang hati melakukannya, ternyata kau masih berbaik hati padaku.... ayo kau mau aku bernyanyi satu lagu? dua lagu? atau satu album?".
"Aku tidak memintamu bernyanyi".
"Bukankah tadi pagi kau memintaku bernyanyi?".
"Sekarang tidak lagi", jawab Dannis menahan tawa ketika tangannya kembali diraih dalam genggaman tangan Nara tanpa disadari gadis itu.
"Ayolah...", rengek Nara menatap Dannis dengan senyum menggoda.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku jadi takut".
"Kenapa takut? apa aku terlihat menggoda?".
Dannis tersenyum tipis, pria itu diam saja.
__ADS_1
"Apa kita impas?", tanya Nara lagi.
"Impas", jawab Dannis.