
Nara menangis dalam pelukan bibi Tina, mereka telah berada dalam perjalanan pulang yang mana Reyhan duduk di bangku kemudi di dampingi ayahnya, sedang Nara dan bibi Tina duduk di belakang.
"Berhenti menangis, kenapa kau jadi cengeng", ucap Reyhan sambil fokus mengemudi.
Nara malah bertambah menangis.
"Aku malu suamiku tidak berlaku baik di awal pertemuan, huh Dannis memang menyebalkan dia selalu saja main pukul, ini tidak sekali setiap ada lelaki bersama ku selalu dipukul, seharusnya bertanya dulu bukan", umpat Nara kesal.
Bibi Tina terkekeh, perempuan paruh baya ini tidaklah marah atas apa yang terjadi bahkan putranya cukup mendapat banyak pukulan dari Dannis, ia melihatnya sendiri.
"Itu tandanya Dannis mencintaimu, pria itu tidak rela istrinya disentuh siapapun", jawab bibi Tina mengusap kepala Nara dengan pelan.
"Aku setuju", jawab Reyhan.
"Kakak tidak marah?".
"Kenapa marah, aku hanya kesal saja untung saja aku akan menikah minggu depan jika tidak aku akan malu dengan wajah yang membiru di pelaminan", jawab pria itu enteng.
Reyhan melirik ayahnya yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa.
"Kakak berhenti sebentar, aku mual aku ingin muntah", ucap Nara tiba-tiba yang mendudukkan diri dan melepas pelukan bibinya dari posisi semula.
Reyhan menghentikan mobilnya dan menepi, Nara segera keluar dari mobil benar saja perempuan itu memuntahkan seluruh isi perutnya.
Bibi Tina menyusul mengusap punggung Nara agar membantu.
"Sayang kau mabuk perjalanan?".
"Sepertinya begitu bi", jawab Nara setelah selesai muntah.
"Sudah lebih baik?".
Nara mengangguk, mereka pun kembali masuk mobil.
"Sejak kapan kau mabuk perjalanan?", tanya Reyhan heran.
"Entahlah, tapi aku akan muntah jika mobilnya mengebut".
"Apa aku mengemudi terlalu cepat? aku rasa tidak kita bahkan tidak sampai-sampai sejak tadi".
"Mungkin Nara masih syok dengan kejadian tadi, terlalu banyak menangis juga bisa begitu, apa perlu ke rumah sakit?", sahut paman Harun.
"Tidak perlu ke rumah sakit, aku hanya mabuk perjalanan, paman berlebihan", jawab Nara geleng kepala.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, lagi lagi Nara minta berhenti karena ingin muntah lagi, dan itu berulang hingga beberapa kali sampai pada semua panik melihat Nara memucat dan lemas.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang!", perintah paman Harun.
Reyhan mengangguk, bibi Tina terus memeluk Nara dengan cemas.
Setelah sampai rumah sakit Nara segera di periksa melalui IGD, Reyhan dan orangtuanya menunggu di luar, tidak lama seorang dokter lelaki datang mengatakan bahwa Nara baik-baik saja, perempuan itu hanya lemas dan bisa beristirahat di rumah tanpa harus dirawat.
Semua bernapas lega.
"Sudah ku bilang aku hanya mabuk perjalanan mungkin diperparah karena belum makan saja, ayo pulang", ucap Nara mendudukkan dirinya dibantu bibi Tina.
"Paman hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu, syukurlah kau baik-baik saja. Jika begitu ayo pulang, biar kau bisa istirahat dengan nyaman", jawab paman Harun.
Nara mengangguk, namun ketika ia ingin turun dari brangkar untuk menjejakkan kakinya ke lantai, kepalanya pusing dan benar saja Nara kehilangan pijakan yang membuat tubuhnya limbung lalu terjatuh tidak sadarkan diri.
"Nara", teriak Reyhan dan bibi Tina.
Membuat paman Harun yang sedang bicara dengan dokter itupun menoleh.
"Dokter, kau bilang adikku baik-baik saja tapi apa ini kenapa Nara bisa pingsan?", Reyhan sudah terlihat menarik jas dokter itu dengan geram.
Paman Harun mencegahnya lalu menggeleng kepala membuat Reyhan menarik napas dalam, lalu pria itu segera menggendong Nara kembali dibaringkan di atas brangkar.
"Biarkan dokter memeriksanya lagi, jangan buat keributan ini tempat orang sakit", jawab bibi Tina.
"Maaf saya ingin bertanya apa nona ini sudah bersuami?", tanya dokter setelah memeriksa Nara kembali.
"Iya, dia sudah bersuami", jawab paman Harun setelah berpikir beberapa detik.
"Baiklah tuan, mungkin pasien akan dilakukan beberapa pemeriksaan agar diketahui sakitnya, setelah pasien sadar akan di suruh buang air kecil untuk pemeriksaan urin sebelum memastikannya lewat USG, jika benar mungkin pasien sedang mengandung sekarang", ucap dokter menjelaskan kepada keluarga Nara setelah menanyakan beberapa pertanyaan terkait muntah yang dialami oleh Nara saat ini.
Semua tercengang mendengarnya, terlebih paman Harun, pria melirik Nara yang masih terpejam lalu mengambil napas dalam pria paruh baya itu mengangguk pada apa yang dijelaskan oleh dokter.
Bibi Tina menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa aku tidak berpikir seperti itu, bukankah Nara tidak pernah muntah-muntah hebat seperti ini meski mabuk perjalanan sekalipun, hei tenanglah.... kita akan mendapat cucu, seharusnya bahagia bukan", goda bibi Tina pada suaminya yang masih berwajah datar.
"Huh.... aku saja belum menikah kenapa Nara yang punya anak duluan", gumam Reyhan mencubit pipi adiknya itu.
"Semuanya belum tentu benar", jawab paman Harun lagi.
Setelah sadar Nara melakukan serangkaian pemeriksaan agar diketahui pasti penyebab sakitnya, perempuan ini terpaksa harus dirawat untuk pemulihan tenaganya.
"Bibi, bagaimana aku sakit apa? apa dokter mengatakan sesuatu?", tanya Nara cepat setelah bibinya datang dari ruang dokter yang menjelaskan lagi hasil dari pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan tadi.
Bibi Tina tidak menjawab melainkan memeluk keponakannya itu dengan sumringah.
__ADS_1
"Sayang apa kau merasa aneh akhir-akhir ini?".
Nara menggeleng.
"Tidak, hmmm maksudku tidak terlalu aneh aku hanya lebih sering pusing saja apa itu termasuk aneh? bukankah hal biasa jika pusing? apa aku sakit? bibi ayo jawab apa ada masalah dengan kepalaku?".
Bibi Tina tertawa pelan.
"Sayang apa kau sudah menstruasi bulan ini?".
"Belum, ini sudah dua minggu telat dari tanggalnya, mungkin karena itu juga aku sering pusing sekarang", jawab Nara polos namun ia tiba-tiba berpikir sejenak, Nara lama terdiam seakan mulai mengerti dengan keadaannya.
Bibi Tina mengulum senyum mengerti akan raut Nara.
"Bibi, ayo jawab aku apa aku hamil? ya Tuhan kenapa aku baru sadar sekarang".
Nara menggenggam tangan bibinya berbinar, tentu saja bibi Tina memecahkan tawanya lalu mengangguk semangat.
"Bibi aku serius, apa aku hamil?".
"Iya sayang, kau hamil kami akan menjadi nenek dan kakek Nara, Reyhan akan menjadi paman", jawab bibi Tina melirik paman Harun dan putranya.
Nara memeluk bibinya terlalu bersemangat.
"Nara pelan-pelan, kau masih harus istirahat", sela paman Harun yang sejak tadi diam namun tidak kehilangan momen tentang berita kehamilan Nara, tidak dipungkiri pria itu turut bahagia.
"Tidak, aku sudah sehat sekarang bahkan jauh lebih sehat, bibi mana ponselku aku harus memberi tahu suamiku hal ini".
Bibi Tina melirik suaminya.
"Biar lain waktu saja, istirahat untuk saat ini itu yang dikatakan dokter", jawab paman Harun mencegah.
Nara terdiam, ia baru tersadar mengingat beberapa waktu lalu tentang kejadian di bandara.
"Baiklah", jawab Nara tidak ingin merusak suasana.
"Sebaiknya ayah kembalikan Nara pada suaminya, lagipula tidak ada catatan buruk tentang Dannis bukan? adikku sedang hamil seharusnya bersama suaminya, apa ayah mau memanjat mangga jika Nara mengidam nanti? biar itu menjadi tugas suaminya", celetuk Reyhan mengerlingkan mata pada Nara.
Paman Harun diam. Bibi Tina tertawa pelan dibuat putranya.
"Ibu setuju, agar tidak ada lagi korban-korban pemukulan lagi karena salah paham, Dannis sepertinya tipe pria pencemburu", sahut bibi Tina lagi.
"Iya, namun Dannis punya catatan buruk pada Nara", jawab paman Harun datar.
Nara hanya memajukan bibirnya ketika mendapat tanggapan dingin oleh paman Harun.
__ADS_1