
...Selamat membaca 🌹...
...❤️❤️❤️...
"Om papa mana ma?" tanya Karin begitu mama Herna dan papa Hengki tiba di rumah.
Setaunya yang janji akan segera pulang itu adalah Dion. Kenapa malah mereka yang muncul?
"Suamimu gak bisa pulang. Mama,,,,"
"Dion kami minta menggantikan kami malam ini menjaga Hana Rin. Maafkan kalau kami tidak minta ijinmu dulu. Tapi papa benar benar tidak bisa kalau malam ini harus menginap di rumah sakit. Kondisi Hana masih sangat lah dan beresiko untuk ditinggal sendirian. Papa harap kamu tidak berpikiran macam macam ya Rin. Dion hanya memikirkan kami."
Papa Hengki cepat menyela ucapan mama Herna sebelum istrinya itu bicara macam macam.
"Oh begitu ya pa. Iya tidak apa apa. Karin mengerti. Kasihan juga mbak Hana dalam kondisinya seperti saat ini tapi dia harus kehilangan suami dan anaknya. Jiwanya pasti sangat terpukul." ucap Karin merasakan kesedihan Hana.
"Anak baik. Kamu memang baik hati nak. Papa bangga punya menantu sepertimu. Kalau begitu papa sama mama istirahat dulu ya." pamit papa Hengki.
"Iya pa. Selamat beristirahat."
"Mumpung dia bilang begitu kenapa papa gak sekalian saja bahas masalah rencana mama menikahkan kembali Hana dan Dion sih pa??" sungut mama Herna begitu mereka masuk ke kamarnya.
"Pertama,,, Hana itu masih dalam masa iddahnya jadi membahas pernikahan itu belum diperlukan. Kita belum tau apa keadaan Hana akan berubah atau tidak. Kedua,,, itu bukan hak kita. Itu tugas Dion mengajak istrinya bicara. Papa harap mama hormati putra kita."
Mama Herna mengerucutkan bibirnya dan membuat gerakan bibir seolah menirukan bicara papa Hengki.
...🌹🌹🌹...
"Han,,,?" Dion menggerak gerakkan tangannya tepat didepan mata Hana untuk memastikan wanita itu masih tidur dan hanya mengigau saja atau dia sudah bangun dan benar benar meminta Dion untuk tidak meninggalkannya.
"Aku sudah bangun dan aku sadar dengan apa yang aku katakan. Aku mau kamu tetap bersamaku. Tidak hanya sekedar menemaniku malam ini tapi untuk selanjutnya juga." tanpa ekspresi apa pun Hana berbicara seperti itu.
__ADS_1
Lain Hana lain pula Dion.
Dion terkejut setengah mati dengan ucapan Hana itu. Apa dia tidak salah dengar? Tapi ia berharap dirinya memang salah dengar. Siapa tau aktifitasnya seharian ini membuat telinganya penuh dengan sampah dan membuat pendengarannya berkurang.
"Dulu kamu juga bisa melakukan hal seperti ini padaku kan? Dulu aku ada di posisi istrimu yang sekarang. Aku ingin mencoba apa enak di posisiku seperti sekarang. Menjadi yang kedua." ucap Hana lagi.
"Han,,, kamu cuma sedang sedih. Kamu gak tau dan gak paham apa yang kamu katakan ini. Istirahatlah. Aku tidak akan meninggalkanmu malam ini." Dion ingin meyakinkan bahwa Hana tidak serius mengatakannya.
"Bukan malam ini saja Dion. Kamu dengar kan apa yang kukatakan tadi?" sela Hana.
"Hana jangan ngelantur. Ayo kembalilah istirahat." Dion sama sekali tak ingin menanggapi serius ucapan orang yang sedang goyah jiwanya itu.
"Kenapa Dion?? Apa rasa cintamu padaku yang bertahun tahun tersimpan di hatimu sudah lenyap?? Tidak pernahkah kamu menginginkan aku lagi?? Tidakkah kamu rindu aku?? Apa benar gadis kecilmu itu benar benar bisa menggantikan posisiku?? Apa kamu sudah tanyakan pada hati kecilmu??" Hana mengatakannya tanpa melirik sedikit pun pada Dion.
Ia yakin Dion pasti gundah ditanya seperti itu. Ia bisa bayangkan wajah Dion saat itu karenanya ia tak perlu menatap langsung. Cukup lama kebersamaan mereka dulu hingga Hana paham setiap ekspresi Dion. Paham dan masih ingat tepatnya.
"Sudah malam Han,,," sekali lagi Dion hanya mengingatkan tanpa menjawab.
"Hana!!" Dion mengeraskan suaranya.
"Jangan membentakku. Aku tidak minta banyak kan? Hanya minta kamu jadi pengganti ayahnya saja. Apa itu tidak sepadan dengan dampak yang kutanggung akibat kelalaianmu??" Hana sengit.
"Hana,,,Aku tau aku salah. Tapi aku sungguh tidak sengaja. Dan aku tetap rendah diri minta maaf atas segala ketidaksengajaanku itu Han." ucap Dion.
"Lalu apa permintaan maafmu itu bisa membuat calon bayiku ini punya ayah?? Apa bisa membawa kembali ayah dari bayiku?? suamiku?? Atau mungkin bisa membawa anakku kembali padaku?? Bisa?? Kalau memang bisa maka aku memaafkanmu."
"Han,,, Aku punya istri." Dion melemah suaranya.
"Memangnya kamu pikir aku amnesia? Aku masih ingat kok yang mana istrimu tanpa perlu kamu tegaskan sekali lagi. Tapi memangnya kenapa kalau kamu sudah punya istri?? Aku sudah tidak terkejut. Ini bukan pertama kalinya kan aku mendapati kenyataan bahwa kamu sudah punya istri??" kecam Hana.
Dion menghela napasnya berat seakan tak ingin mengenang masa lalunya itu. Kenapa semesta serasa mempermainkannya. Saat ia bisa lupa,,, takdir membawa bagian terpenting dari masa lalunya kembali padanya dan terus mengungkit semuanya.
__ADS_1
Semua ingatan masa lalu langsung terbayang di benak Dion. Nama Ratna istri pertamanya yang ia nikahi secara siri lalu ia telantarkan,,, Lalu ingatan akan bagaimana tiba tiba takdir mempertemukan mereka kembali saat Dion telah menikahi Hana secara sah.
Kenapa tuhan sepertinya belum puas mempermainkan nasibnya?. Kenapa mesti kejadian serupa terulang lagi? Kenapa Hana musti dimunculkan kembali dalam hidupnya saat ia tengah berbahagia menyambut kelahiran putranya dari rahim Karin.
Lalu haruskah ia kehilangan Karin setelah kemunculan Hana?? Seperti ia kehilangan Hana saat muncul Ratna.
Tidak!!
Ini tidak boleh terjadi dan terulang lagi. Karin telah begitu sempurna menjadi istri. Ia juga tengah mengandung anak pertamanya.
"Dulu aku marah dan terluka saat tau kamu sudah terlebih dulu menikahi Ratna,,, Istrimu yang dulu. Aku juga sakit saat kamu berikan rumah hadiah pernikahan kita padanya. Aku sakit saat semua milikku kamu berikan padanya. Tapi sekarang aku tidak akan sakit lagi Dion meski aku tau kamu punya istri lagi."
"Han,,, Aku mohon jangan bicara seperti itu." Dion kembali dari ingatan masa lalunya.
Hana bangun dari rebahannya. Meski Dion melarangnya tapi ia tetap memaksa. Akhirnya Dion menuruti kemauannya. Dion hanya membantu memposisikan sebuah bantal untuk Hana bersandar.
"Aku gak butuh bantal ini Dion. Aku butuh sandaran hidup. Dan itu kamu." Hana langsung memeluk Dion yang berdiri di samping tempat tidurnya.
Dion yang dipeluk jadi serba salah dan kikuk.
"Om pa,,,pa,,,"
Dion tersentak ketika tiba tiba Karin masuk ke ruangan itu dan memergoki Hana memeluknya meski ia tak menikmatinya.
"Sayang,,," Dion berusaha melepaskan diri dari Hana.
"Maaf Karin ganggu." Karin langsung keluar.
...❤️❤️❤️...
Dukung author dengan vote, like dan komen ❤️🌸🌹
__ADS_1