
...Selamat membaca ...
...❤️❤️❤️❤️...
"Makan dulu Dion."
Mama Herna hanya bisa menangis dalam diam karena yang diajak bicara sama sekali tak menyahut. Melirik pun tidak.
"Jangan begini dong nak. Kamu harus semangat hidup. Besok kamu akan menikah dengan Hana. Kamu butuh tenaga. Jangan sampai kamu pingsan. Apa kamu gak kasihan sama Hana dan mama? Mama ini cuma punya kamu Dion." lirih mama Herna kemudian.
"Mama kan masih punya Hana. Kesayangan mama itu. Bahkan saking sayangnya mama sampai mau dijadikan pembantu di rumah sendiri. Saking sayangnya juga mama sampai berikan semuanya padanya. Tanpa persetujuan Dion lagi. Apa mama gak mikirin Dion juga? Anak istri Dion nanti dapat apa kalau semua mama berikan pada Hana?? Bahkan sampai urusan berkas perusahaan yang Dion rintis sendiri pun sekarang jatuh ke tangan Hana. Mikir gak mama sebelum memberikan semua itu??"
Sekalinya menjawab, Dion begitu ketus.
"Mama melakukannya justru karena mama memikirkan kondisimu. Lagipula kenapa juga masih memikirkan yang sudah gak pernah mikirin kamu? Istrimu itu juga palingan sudah menikah lagi." kilah mama Herna.
"Mama pikir dengan begitu aku bisa fokus dengan kesembuhanku?? Pernah gak mama mikir dengan begitu mama sama saja dengan menyakiti hati Dion? Mama menganggap Dion ini sudah gak bisa apa apa karenanya mama percayakan semua pada Hana. Mama mikir gak?? Pekerjaan yang seharusnya bisa membuat pikiran Dion teralihkan malah mama berikan ke orang lain. Apa itu gak makin buat Dion terpaku dengan kondisi Dion saat ini???"
Dion terus menyerang mama Herna.
"Setiap hari mama membujuk Dion untuk semangat hidup. Makan ya Dion,,,semangat ya Dion,,, sekarang Dion tanya,,, buat apa??? Kalau semua yang Dion miliki juga sudah mama rampas dan berikan pada orang."
Dion yang awalnya semangat untuk pulih memang seketika kehilangan semangatnya itu saat ia tau semua kuasa kini sudah berpindah tangan pada Hana. Semua yang berkaitan dengan pengeluaran sekarang berpusat pada Hana. Bahkan untuk membeli pisau cukurnya sendiri saja ia memerlukan persetujuan Hana.
__ADS_1
Dion kecewa pada mama Herna yang tidak meminta pendapatnya terlebih dulu. Kecewa karena mamanya terlalu cepat mengambil tindakan.
"Mama,,,mama,,," mama Herna tak mampu berkata kata lagi.
"Sudahlah ma. Sekarang mayat hidup ini hanya akan mengikuti aturan mama dan Hana saja. Besok acara pernikahan Dion dan Hana kan? Lakukan saja. Lakukan semua yang menurut mama baik. Tidak usah lagi mempertimbangkan apa Dion bahagia atau tidak. Itu sudah bukan prioritas lagi." ucap Dion datar.
"Dion,,, kalau kamu mau mama bisa bicara pada Hana agar membatalkan dulu pernikahan ini. Mama bisa bilang kalau kamu masih belum siap."
"Percuma. Sekarang pun Dion gak protes lagi kok ma. Karena sekarang, besok, lusa atau kapan pun akan sama saja. Mama akan tetap menikahkan Dion dengan Hana. Alasan tidak enak dengan pandangan dan komentar orang atau apa pun itu,,, Dion sudah tidak protes. Mayat hidup ini sudah kehilangan semuanya. Kalau tubuh lemah ini masih bisa membahagiakan mama ya silahkan gunakan saja tubuh ini."
Airmata mama Herna terus berjatuhan tanpa bisa dikendalikannya. Ucapan demi ucapan Dion itu sangat mengena di hatinya. Tidak pernah terpikir oleh mama Herna bahwa Dion malah akan merasa sangat tersakiti begini.
Tinggal di Turki dengan suasana baru dan orang orang baru di sekitar rupanya tak memberi perubahan pada kondisi psikis Dion. Ia tetap menjadi mayat hidup tanpa semangat hidup sama sekali.
"Mama akan coba bicara pada Hana Dion. Kali ini biarkan mama melakukan hal yang benar. Mama tau mama sudah banyak melakukan kesalahan. Maafkan mama Dion meski mungkin sangat berat untukmu."
"Mau bicara apa memangnya? Buruan ma kalau ada yang mau dibicarakan. Hana sibuk sekali soalnya. Ada meeting yang harus segera Hana pimpin."
Rupanya Hana yang hendak berpamitan pada Dion mendengar ucapan mama Herna tadi.
"Kebetulan kalau begitu kamu pas kesini. Begini Han,,,apa bisa kalau pernikahan kalian besok ditunda dulu?" tanya mama Herna sangat berhati hati.
"Alasannya apa?" Hana mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Mmm,,,Dion,,, Dion sepertinya sedang drop kondisinya. Mama hanya takut besok malah dia makin parah dan acara pernikahan kalian terganggu." mama Herna coba mencari alasan.
Dion hanya tertawa dalam hati dengan ucapan mama Herna itu. Dion kira mama Herna akan benar benar menyampaikan perasaannya yang sejatinya tak pernah ingin menikahi Hana lagi. Dengan kondisi seperti ini untuk apa juga menikah? Nafkah lahir batin pun tak sanggup untuk memenuhi.
"Semua sudah siap dan tinggal besok pelaksanaannya terus mama seenaknya minta dibatalkan? Dimana Hana taruh muka Hana?? Kalau kondisi kesehatan Dion yang jadi masalahnya ya segera saja panggilkan dokter agar memeriksanya dan memberikannya obat. Jangan beri alasan konyol seperti itu." ketus Hana.
Mama Herna hanya menarik napas dalam dalam karena merasa sangat tidak berdaya. Satu sisi beliau ingin menebus kesalahannya pada Dion dengan tidak lagi menjebloskan putranya pada pernikahan yang jelas jelas tak diinginkannya ini. Namun di sisi lain beliau juga tak bisa mengingkari janjinya untuk menikahkan Dion dengan Hana.
"Dion sayang,,,Makan ya. Bagaimana pun besok adalah pernikahan kita. Aku sudah atur semuanya dengan baik dan semua sudah siap. Tinggal dilaksanakan saja. Aku mohon kerjasamamu. Kamu kan sudah tidak repot urus semua, jadi aku cuma minta kamu makan biar kamu sehat besok. Besok hari bahagia kita. Aku sudah sangat lama menantikan hari itu tiba." ujar Hana.
Dion hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Hari bahagiamu tepatnya,,, bukan kita."
"Ma,,, suapin Dion dong. Mama itu yang sehat dan masih bisa bergerak. Kalau memang Dion gak mau ya paksa sedikit. Masak semua harus Hana ajarin sih? Udah Hana yang kerja cari uang buat biaya hidup kita semua masak masih harus Hana juga yang urus semua hal di rumah?? Itu kan tugas mama sekarang!!!" ketus Hana pada mama Herna.
"Iya Han. Mama usahakan Dion biar mau makan."
"Harus makan. Jangan lupa panggil dokter juga kalau masih diperlukan. Hana berangkat kerja dulu. Sudah telat nih,,," Hana langsung menyambar tasnya lalu mencium kening Dion sebentar.
"Aku berangkat dulu ya sayang."
Dion begitu membenci dirinya yang bak mayat hidup ini tiap kali Hana menyentuhnya. Ia merasa jijik namun tak bisa berbuat apa. Ia merasa telah mengkhianati anak istrinya tiap kali Hana mengambil alih hak mereka.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...