
...Selamat membaca 🍭...
...❤️❤️❤️...
"Assalamualaikum mbak Hana."
Baik Hana maupun mama Herna yang masih saling berpelukan terkejut. Lebih terkejut lagi karena yang mengucap salam itu adalah istri Dion.
"Ma,,, Kok ada dia?" bisik Hana.
"Iya tadi dia yang minta ijin sama Dion untuk ikut menjagamu di sini." jelas mama Herna.
"Dan Dion mengijinkannya?" selidik Hana dengan nada tidak suka.
"Aku kesini sebenarnya bukan dengan tujuan asli menemani mbak Hana. Tapi bertepatan dengan jadwal periksa kandunganku dan kebetulan dokternya ada di rumah sakit ini juga. Jadi aku menawarkan diri untuk sekalian jenguk dan ikut menjaga mbak Hana." Sebelum mama Herna menjawab pertanyaan Hana itu lebih dulu Karin angkat bicara.
"Ma,,," Hana menyenggol tangan mama Herna seolah meminta wanita itu melakukan sesuatu.
"Tamunya kok gak disuruh duduk Han? Salamnya juga gak kamu jawab. Apa begitu tata krama dalam menerima tamu dengan niat baik?" papa Hengki bertanya membuat Hana gelagapan.
Memang sih nada pertanyaan papa Hengki diucapkan dengan intonasi yang tidak ada bedanya dengan gaya bicara papa Hengki sehari harinya tapi kalau ditelaah lebih dalam ada makna terkandung dalam ucapan itu.
Semacam sindiran atau penegasan bahwa Karin datang dengan niat baik.
"Eh iya,,,Waalaikumsalam. Silahkan masuk Rin,,, Papa juga silahkan." setengah kikuk Hana mengatakannya karena sumpah itu tidak tulus dilakukannya.
"Terima kasih mbak."
Hana mengangguk terpaksa karena tak mau tampak buruk di mata mama Herna dan papa He gki yang sudah menegurnya terutama.
"Bagaimana keadaan mbak pagi ini? Apa kata dokter?" tanya Karin lembut.
__ADS_1
"Aku baik. Sudah bisa dikatakan sehat malah. Kemungkinan paling lambat besok pagi aku juga sudah diperbolehkan pulang." jawab Hana datar.
"Alhamdulillah kalau begitu." Karin tulus mengucap syukur untuk kesembuhan Hana.
Tapi lain Karin lain pula Hana. Ia merasa wanita muda itu tengah mengibarkan bendera perang padanya. Wanita muda itu menantangnya untuk membuktikan siapa yang paling layak menjadi satu satunya pendamping Dion.
"Mama akan atur semuanya besok untukmu Han. Kamu pulang ikut kami saja. Ke rumah kami. Tinggal bersama kami saja. Kamu kan juga sudah tidak punya siapa siapa lagi di sini. Belum lagi dengan kondisi hamil muda begini, kamu akan sering butuh bantuan."
"Sudah dibicarakan sama Dion belum ma?" sela papa Hengki.
"Kan rumah itu juga rumah kita pa. Kenapa minta ijin Dion? Aneh aneh saja papa ini."
"Tetap saja bicarakan dulu sama Dion. Bukan masalah itu rumah siapa tapi ini tentang siapa saja yang ada di rumah itu. Semua perlu dibicarakan dulu." tegas papa Hengki.
"Oh bila perlu si mbak juga harus ditanya gitu pendapatnya apa??" intonasi bicara mama Herna meninggi.
"Om papa akan setuju pa. Nanti Karin yang akan bicara padanya. Mama minta tolong atur saja semuanya ya. Biar Karin yang menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Bagaimana pun juga mbak Hana ini tamu spesial kita."
"Kamu belum tau saja kalau kamu itu sebentar lagi akan kusingkirkan." batin Hana.
"Hana bukan tamu Rina. Kalau tamu itu bisa sehari dua hari saja. Hana gak gitu ya. Dia akan selamanya menetap dengan kita." ucap mama Herna menghindari kesalahpahaman di awal.
Beliau tidak mau kalau nanti Karin protes kenapa Hana masih saja di sana.
"Oh kalau itu nanti biar Karin bicarakan juga sama om papa ma." jawab Karin.
"Mama rasa bukan itu saja yang harus kamu bicarakan sama Dion. Tapi sekalian juga bicarakan kapan akan menikahi Hana. Mama yakin kamu dari awal juga sudah tau ini konsekuensi yang harus ditanggung Dion setelah kecelakaan itu. Tidak bisa kita biarkan Hana tanpa pendamping begini. Jadi kamu sebagai sesama wanita meski seperti yang kamu bilang kemarin bahwa kamu gak sesial Hana,,, Tetap saja meski kamu gak merasakan pedihnya hati Hana, kamu tetap harus mau berbagi suami dengannya." mama Herna begitu terang terangan di depan Karin tanpa sensor.
"Mama!!" ketus papa Hengki kesal hingga beliau langsung beranjak dari duduknya. Mendekati istrinya ingin menariknya pergi dari sana biar tidak terus bicara macam macam.
"Tidak apa apa papa. Papa duduk saja lagi." Karin menahan papa Hengki agar tak bersikap kasar pada mama Herna.
__ADS_1
"Sial,,, Selain sok manis dan lemah lembut ternyata wanita cilik ini berani bilang tidak sesial aku. Lihat saja nanti sampai di mana kesialanmu setelah Dion menikahiku." sungut Hana dalam hati melihat Karin dengan lembut membimbing kembali papa Hengki ke sofa.
"Kalau masalah pernikahan itu sih Karin rasa tidak perlu dibahas sekarang." Karin meneruskan dengan tenang.
"Lebih cepat lebih baik Rina. Mumpung perut Hana belum besar." mama Herna tidak sabar.
"Kenapa mama begitu terburu buru?" tanya Karin.
"Pertanyaan yang sebenarnya itu malah kenapa kamu kesannya mengulur ulur waktu? Kamu mau suamimu lari dari tanggung jawabnya?" mama Herna bak mengerti apa isi hati Hana dan mewakilinya bicara begitu.
"Ma,,, Karin berada di sini ini adalah salah satu bentuk bahwa Karin sama sekali tidak pernah ingin om papa kabur dari tanggung jawab. Makanya sebagai istri sahnya Karin menggantikan dia menjaga mbak Hana saat dia harus bekerja. Sebagai suami sah Karin om papa sedang melakukan kewajibannya mencari nafkah dan itu tidak bisa diwakilkan. Tapi tanggung jawab sebagai penyebab kecelakaan mbak Hana sekeluarga, bisa diwakilkan ke Karin."
Hana tidak menyangka istri kecil Dion itu pandai bicara. Ia diam saja menahan sikap agar tak terlihat kesal meski ia mulai merasa posisinya terancam dengan keberadaan Karin.
"Masalah mengulur waktu,,, Oh ya tentu saja harus diulur. Karena apa? Karena pertama,,, bayi yang mbak Hana kandung itu bukan anak om papa jadi tidak perlu buru buru agar anak ini bisa segera dinasabkan pada om papa. Kedua ayah si bayi itu meninggal yang artinya ibunya masih dalam masa iddah yang panjangnya adalah hingga sang ibu melahirkan. Jadi untuk apa kita membicarakan hal yang masih sekitar sembulan lagi baru kemungkinan dilaksanakan?"
Mama Herna dan Hana berpandangan. Mereka merasa kalah.
"Karin tegaskan sekali lagi ya mbak,,, Hanya kemungkinan dilaksanakan. Karena baik Karin dan suami merasa bentuk tanggung jawab itu tidak hanya dengan cara menikahi mbak. Karena suami Karin bukan ayah biologis bayi itu."
"Karina!! Di mana hati kamu sebagai sesama wanita??" kecam mama Herna.
"Hati Karin tetap ditempatnya ma. Justru di mana perasaan mama sebagai sesama wanita ingin menjerumuskan wanita lain dalam kehidupan poligami?? Karin mau tanya sama mama,,, Mama sendiri apa bisa dipoligami?"
Mama Herna kesal bukan main namun ia hanya hisa diam.
"Tidak apa apa ma. Hana bisa terima kalau memang istri Dion tidak bersedia menerima Hana yang hanya parasit ini." lain di bibir lain pula ucapan di hati.
"Awas kamu anak kecil!!!"
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Dukung author dengan vote, like dan komen 🍭❤️🌸🌹