Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Cuti Lagi


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Rasa cinta yang senantiasa membara dalam hati dua insan yang tengah melakukan penyatuan jiwa dan raga secara sempurna itu membuat keduanya bersemangat dan tanpa lelah meski keringat sudah membanjiri tubuh keduanya.


Kalau sudah menyatu begini mana terasa dinginnya Ac? Mana dengar meski ponsel sudah berkali kali berdering? Mana peduli meski mama Herna mungkin kewalahan dengan Delvara di lantai bawah?


Pokoknya dunia hanya milik berdua. Yang lain ngontrak.


"Aaarrggghh aaaww" pekik Karin ketika Dion menekannya lebih dalam.


Karin memegangi perut bawahnya yang terasa sakit. Dion menghentikan gerakannya karena melihat wajah istrinya yang kesakitan.


Dengan segera ia mencabut benda pusaka kebanggaannya yang seketika layu melihat mangsanya kesakitan apalagi ketika Dion melihat ada cairan kental kemerahan di ujung pusakanya itu.


Cairan merah itu ternyata juga meleleh di sekitar paha Karin. Dion langsung menepuk jidatnya sendiri menyesali tindakannya tadi. Dion lupa kalau dulu saat mengandung Delvara juga sama begini.


Karin tidak memungkinkan untuk diajak aktifitas suami istri.


"Sayang kita ke rumah sakit sekarang."


Dion segera berlari ke kamar mandi membersihkan diri sedikit lalu menyambar pakaiannya.Sementara itu Karin dengan menahan sakit di perutnya berusaha memakai kembali pakaiannya. Tidak mungkin kan kalau dia harus pergi ke rumah sakit dengan kondisinya saat ini.


Dion berlari menuju pintu. Membukanya dan berteriak kencang.


"Maaaaa!!! Minta Darwin siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!!!"


"Apa?? Rumah sakit?? Ada apa???" mama Herna jadi panik ditambah lagi Delvara malah menangis karena mengira teriakan Dion tadi adalah marah marah.


"Udah pokoknya suruh Darwin gerak cepat!!!" sahut Dion yang segera berlari ke kamar lagi membantu Karin berjalan.


"Om papa gendong aja sayang biar cepat."ucap Dion dan tanpa menunggu jawaban istrinya lagi ia segera menggendong Karin menuruni satu persatu anak tangga.


"Ya tuhan kenapa lagi ini?? Kamu apain sih Rina Dion???!!!" mama Herna makin panik melihat gaun Karin yang sudah terkena darah yang tembus di gaunnya.

__ADS_1


Dion tidak menjawab dan hanya langsung membantu Karin naik ke mobil. Mama Herna menyusul lewat pintu samping. Delvara ditinggalkan dulu di rumah bersama Mela yang juga mencemaskan keadaan Karin.


"Cepat Win!!!" titah Dion pada Darwin.


Darwin mengangguk cepat dan tancap gas. Bagaimana pun saat ini kemampuan mengemudinya yang paling menentukan keselamatan Karin. Untungnya jalanan sudah agak lengang karena jam kantor sudah lewat.


Dijalan ponsel Dion terus berdering. Panggilan dari Megha yang pasti menunggu kedatangannya. Setelah sekian kalinya suara ponsel mengganggu telinganya akhirnya Dion menjawabnya.


"Batalkan semua jadwalku hari ini. Nyonya masuk rumah sakit."


Tanpa basa basi lagi Dion mengakhiri dan Megha sendiri tak bisa protes apa pun. Dia paham betul karakter bosnya yang selalu berprinsip bahwa sepenting pentingnya urusan bisnisnya, masih lebih penting urusan anak istrinya.


Megha pun melakukan perintah bosnya itu. Meski pembatalan jadwal itu mungkin akan berimbas buruk untuk perusahaan tapi Megha yakin Dion akan bisa meluruskan semuanya kembali seperti yang sudah sudah.


Mobil Dion sudah tiba di rumah sakit dan Karin pun segera mendapat penanganan. Dion mondar mandir selama Karin ditangani.


"Duduk Dion!! Mama pusing lihat kamu begini." sungut mama Herna.


"Dion cemas ma. Wajar kan??"


"Iya mama juga cemas tapi mondar mandir begitu juga gak akan membantu apa apa. Lagian ya,, kamu itu pasti lupa kan sama pantangan dokter dulu?? Ditahan dong Diooonnn ditahaaaan. Gemesss deh mama."


"Aduuuuh maa sakit." Dion mengusap ngusap telinganya yang panas akibat tumben tumbenan kena jewer.


"Biarin. Habisnya kamu sih nakal. Gak bisa tahan diri. Ngalah dong demi keselamatan anak istrimu. Ini menyangkut menantu dan calon cucu mama juga. Jadi satu jeweran dari mama ini belum seberapa ya." Mama Herna yang sama sekali tidak pernah sekalipun menjewer Dion sebelumnya, sama sekali tak merasa bersalah.


"Demi mereka mama sampai tega jewer anak kesayangan mama ini????" Dion memastikan.


"Iyaaa!! Kenapa?? Kamu gak terima??" mama Herna galak.


"Hehehe,,, terima banget ma. Terima kasih malahan sama mama karena itu artinya mama menyayangi mereka juga seperti Dion."


Melihat putra kesayangannya malah cengengesan begitu pun mama Herna jadi sebal lagi. Dijewernya telinga Dion yang sebelah lagi.


"Aww kok dijewer lagi sih ma???" Sekali lagi Dion mengusap usap telinganya.

__ADS_1


"Karena kamu malah bisa bisanya nyengir gak jelas gitu. Istri kamu gimana nih keadaannya?? Mana dokter lama sekali periksanya. Kamu sudah minta dokter yang biasanya kan??" mama Herna memastikan Dion sudah memberikan yang terbaik bagi Karin.


"Sudah dong ma. Untuk urusan anak istri, Dion gak akan sembarangan memilih dokter."


Bersamaan dengan ucapan Dion itu pun dokter keluar. Dokter yang sama dengan dokter yang menangani Karin saat mengandung Delvara itu tersenyum begitu Dion dan mama Herna menghujaninya dengan banyak pertanyaan yang saling sahut menyahut.


"Tenang tuan dan nyonya. Satu persatu tanyanya ya." dokter menenangkan.


Mama Herna menyenggol Dion memberi isyarat dia saja yang tanya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Dion paham dengan kode yang diberikan mama Herna.


"Sudah membaik. Baik ibu dan bayinya sama sama kuat. Pendarahannya sudah berhenti. Sudah bisa dibawa pulang juga. Tidak perlu dirawat inap. Tapi saya minta tolong agar kondisinya dijaga. Istri anda harus bedrest dulu setidaknya dua atau tiga hari. Hindari dulu aktifitas berat dan aktifitas suami istri ya tuan. Trimester pertama ini masih rawan. Takutnya aktifitas suami istri yang dilakukan terlalu berlebihan." pesan dokter.


"Alhamdulillah,,," Dion sangat bersyukur.


"Syukurlah. Tuh Dion,,, dengerin kata dokter! Ditahan!! Udah tua juga masih aja demen gangguin istri hamil." ketus mama Herna.


"Iya iya ma. Bawel ah mama." Dion malu diomeli di depan dokter yang hanya senyum senyum saja.


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu. Ada pasien lain yang menunggu." pamit dokter.


Dion mengiyakan dan kemudian bersama mama Herna menemui Karin di dalam sana. Karin terlihat lebih baik dan tidak lagi kesakitan seperti yang disampaikan dokter tadi meski masih dalam kondisi rebahan.


"Sayang. Maafin om papa ya. Tadi terlalu kencang ya om papa dorongnya??" tanya Dion begitu mereka duduk di samping ranjang Karin.


"Astaga masih saja bahas yang itu." mama Herna sebal.


"Iya nih masak ada mama malah pertanyaannya begitu sih. Kan gak enak juga." Karin jadi malu.


"Mama kan juga sudah paham. Jadi gak apa apa sayang." Tanpa malu Dion mengatakannya.


"Haduuuhhh,,, kok malah jadi mama yang mual lihat tingkahmu Dion. Ayo sudah kita pulang saja. Mama mau rawat Rina di rumah."


Dion terkekeh melihat mama Herna mengomel terus. Setidaknya ia tenang karena Karin dan calon bayinya baik baik saja.

__ADS_1


"Sabar ya Jon. Kamu cuti lagi." Dion mengusap usap miliknya.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2