
"Lo mau tau gimana caranya nyari cewek yang bisa bantu lo?"
"iya gimana?"
"Mending kita cari di club malam atau di madam yura. Gimana?"
"Lo gila ya?? maksud lo nyari ******* buat jadi calon istri?! ogahh... nama baik gua yang akan dipertaruhkan."
"Terus lo mau nyari dimana lagi?"
"Pake biro jodoh? atau jasa perjodohan? "
"kalau ketahuan orang-orang gua gunain jasa begituan, bisa rame media!"
"hmm.... terus lo ada ide?"
"Belum ada"
Fathan berpikir sejenak, berusaha keras untuk mencari ide untuk sahabatnya ini. Dengan terus memaksakan otaknya yang sedikit konslet untuk mencari ide yang cemerlang. Yap!
"ctak! ....Aha! gua ada ide" fathan memetik jarinya, sebuah lampu bohlam seolah-olah telah muncul di atas kepalanya.
"apa? gua harap ini ide yang jauh lebih baik dari yang tadi!" ucap arya saat ia mulai memperhatikan fathan dengan lekat.
"bentar ya! ......... Ayesha! sini cantik!" fathan memanggil ayesha, ayesha pun datang menghampirinya.
"iya,ada apa ya mas?" tanya ayesha , ia masih memakai celemek penuh dengan tepung.
"Oh My God! honey.... c'mon what are you doing?" tanya fathan, membuat Ayesha celingak-celinguk tak mengerti.
" mas ngomong opo toh?" tanya Ayesha.
"Sayang.... cantik.... coba itu kamu habis ngapain? belepotan tepung. ya ampun..." fathan berdiri, mengusap tepung yang ada dipipi Ayesha.
"fathan...." mata arya sayu melihat tingkah sahabatnya ini. "ini ide lo? manggil dia, terus mesra-mesraan didepan gua yang lagi kesusahan ini, iya?!"
"eits, gak gitu bro! sorry khilaf" ucap fathan yang menelungkup tangan meminta maaf" nah lo lagi nyari-nyari calon istri kan? nah ini nih udah ada didepan lo" sambil memegang kedua bahu Ayesha.
"huh? mak.. maksud mas apa ya?" ayesha bingung dengan perkataan fathan."nggak mas, saya nggak mau" sambil melepaskan tangan fathan dari bahunya dan menyingkir jauh.
"?" Arya mengernyitkan dahi "are you serious?"
"yes, of course!" kini fathan mendekat ke arah arya, mencoba meyakinkannya "pertama, orang-orang gak ada yang tau siapa dia. kedua,dia cantik . ketiga, lo bisa bikin kontrak dengan dia, lo bisa atur semuanya sesuka lo. bisalah bikin skenario kayak difilm-film gitu.mudah kan?"
Arya tersenyum lebar, baru kali ini ia menyukai ide cemerlang dari sahabat yang koplak seperti dia fathan.
"Tapi mas....."
__ADS_1
*********★★★********
Ayesha pov's
hari mulai gelap, tepat pukul 08.17 malam mas arya memintaku untuk duduk bersamanya di ruang tamu. Hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Dentingan jarum jam, memecahkan keheningan malam.
jantungku berdegup kencang, karena mas Arya menatapku dengan tatapan serius. Tatapannya membuatku tak bisa lari dari dari pandangan mas Arya.
Mengapa dadaku terasa begini, rasanya seperti ingin meledak. Entahlah aku merasa senang sekaligus gugup. karena kami sedang duduk berdua dan saling berhadapan.
"Ayesha. Lo mau kan nikah sama gua..." ucapan mas Arya membuatku melayang ke udara. Beginikah rasanya dilamar? sungguh aku sangat senang mendengarnya. Tapi kesenangan itu terpecahkan kala mas Arya berkata"lo mau kan jadi istri sementara gua?"
"maaf mas.... aku nggak bisa"
Maaf aku harus menolak, karena aku tidak ingin menikah atas dasar perjanjian ataupun kontrak yang sewaktu-waktu dapat usai begitu saja.
"kenapa tidak bisa?.... Ayesha dengar, gua gak akan membuat kontrak ini secara cuma-cuma. Akan ada imbalan untuk lo, berapapun yang lo minta. .... anggap saja lo sedang berperan sebagai seorang istri direktur utama yang kaya raya. Yang hidupnya bergelimang harta, gua akan jamin kebutuhan lo tercukupi selama kontrak kita berlaku"
Ini tidak seperti yang dibayangkan oleh ayesha, ayesha ingin pernikahan yang didasarkan oleh cinta. Tapi kali ini salah, disini hanya Ayesha yang mencintai mas Arya tapi mas arya tidak merasakan hal yang sama dengan ayesha.
"mas.... pernikahan bukan suatu hal yang bisa disepelekan seperti ini. pernikahan adalah suatu ikatan yang sakral untuk menyatukan dua insan saling mencintai. Bukan untuk main-main. lagipula ayesha hanya ingin menikah satu kali seumur hidup dan bahagia selamanya" ucapku membuat mas Arya tertawa. aku sedikit terkejut, melihat reaksinya terhadap ucapanku barusan.
"lo terlalu polos. Mana ada cinta yang seperti itu, paling manis diawal! kalau sudah bosan cerai..... apa yang lo bicarakan cuma ada dinegri dongeng, sayangnya ini dunia nyata! Berbeda!"
" tapi mas apa yang aku katakan memang benar adanya..." Ayesha dapat berbicara seperti ini karena ia tahu bahwa cinta sejati itu ada. seperti kedua orang tuanya yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Selalu terlihat romantis kala mereka sedang berduaan yang kadang membuat aku dan adik-adikku merasa iri melihatnya.
"sudahlah..... gua percaya kok sama lo. Maaf atas gua udah lancang berkata seperti itu" mas arya kini terlihat merasa bersalah " Ayesha" mas arya mendekat menggeser posisi badannya semakin kedepan, semakin mendekat ke arahku.
Mas arya menggenggam tangan ku yang sedari tadi terus meremas rok plisket berwarna biru tua.
"Tolong bantu gua..... gua gak mau nikah sama orang yang gak gua cinta, cuman Lo yang bisa bantu gua dengan cara seperti ini. Gua gak mau menikahi wanita yang salah"kini mas arya benar-benar menatapku dengan lekat, memohon kepada ku agar mau menyetujui kontrak.
"tapi mas....." seperti ada kata yang tertahan di mulut ku yang tak bisa ku ucapkan.
"gua mohon sama lo..." mas arya memohon padaku.
"aku butuh waktu untuk memikirkannya mas" ucapku, ini hanya akan membuatku lepas sejenak dari masalah ini.
"baiklah, aku akan beri waktu kau 7 hari dari sekarang untuk memikirkan jawabannya. Tolong pikirkan baik-baik"
aku hanya dapat mengangguk, tak ada yang bisa aku katakan lagi.
"yasudah, sekarang sudah malam lebih baik tidur. Semoga mimpi indah, ayesha" untuk pertama kalinya mas arya menyebut namaku, ini membuat ku sangat senang. Ia meninggalkan ku sendiri di sofa ruang tamu.
Hatiku kini masih kalut, akupun kembali ke kamarku membating tubuhku diatas kasur. menatap langit-langit kamar, memikirkan ucapan mas Arya barusan.
Jika aku menolak, bagaimana dengan nasibku dijakarta. mas Arya selama ini sangat baik kepadaku, menolong ku ketika susah, memberiku tempat tinggal sekaligus pekerjaan dengan gaji yang besar.
__ADS_1
Tapi jika aku menerimanya, itu sama saja dengan mempermainkan pernikahan.
Aku saat ini ingin sekali memeluk ibu, menangis dihadapan nya. Sungguh, Ayesha sangat merindukan ibu. Tapi ayesha tidak punya handphone untuk menghubungi bapak dan ibu dikampung. Jikalau harus pergi menggunakan telepon umum, sepertinya di kota sudah tidak ada telepon umum yang bisa digunakan.
Aku baru ingat! dirumah ini kan ada telepon rumah yang bisa aku pakai. Semoga saja mas arya sudah tidur, aku bisa menggunakannya untuk menelpon bapak.
Aku diam-diam keluar dari kamar, menuju ruang tamu karena disanalah telepon itu berada.
aku mengendap-endap agar tidak ketahuan mas arya, menengok ke kanan-kiri. Memastikan hanya aku saja yang berada diruangan ini.
Dan sampailah didepan telepon, aku mengangkat telpon dan mengetik nomor bapak. akhirnya dapat tersambung...
"halo, bapak? ini Ayesha pak"
"......."
"iya pak, ayesha baik-baik saja disini. maaf Ayesha menelpon bapak malam-malam begini. Ayesha kangen sekali sama bapak dan ibu"
"ouh baguslah. bapak juga rindu sama kamu. gimana disana sudah dapat tempat tinggal dan pekerjaan?"
"sudah pak, ayesha sudah dapat pekerjaan. Disini Ayesha cuman jadi pembantu pak, tapi tenang gaji nya 5 juta perbulan! gede banget kan pak"
"syukurlah, semoga kamu bahagia disana"
"iyaa pak. Nanti aku akan kirim kan uang untuk bapak supaya bisa bayar hutang-hutang bapak"
".... terimakasih nak. kamu sudah berusaha keras untuk bapak"
"tidak pak, ini sudah menjadi kewajiban Ayesha. semoga bapak sehat-sehat saja. mana ibu?"
"ibu sudah tidur nak. apa perlu bapak bangunkan?"
"tidak usah pak, biarkan saja. mungkin lain kali bisa bicara dengan ibu. kalau gitu Ayesha tutup telpon nya ya"
"iya nak"
Akupun menutup telepon, menghela nafas berat karena kali ini rasa rinduku pada ibu tak bisa tersampaikan. Saat aku termenung di atas sofa. suara mas arya mengagetkanku.
"lo belum tidur?"
"mas arya..." aku terkejut, seperti sedang terciduk. " maaf mas Ayesha mengantuk, mau pergi ke kamar dulu" aku tidak mau ada perbincangan lagi untuk malam ini. akupun berlari menuju kamarku tanpa menoleh sedikitpun pada mas arya.
"tunggu ayesha..."
Bersambung............
************★★★*************
__ADS_1
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like, komen, rate dan share 😊💃 Terimakasih