
...Selamat membaca 🍭...
...❤️❤️❤️...
"Ingat kabari om papa nanti baby D sudah seperti apa pertumbuhannya." pesan Dion pada Karin begitu mereka sampai di rumah sakit.
"Iya om papa nanti Karin kirim videonya ya. Yang jelas dia tentu menggemaskan seperti papanya." Karin mencubit hidung Dion gemas.
"Harus dong. Ya kali papanya ini udah puasa sembilan bulan dia masih milih mirip mamanya juga. Gak adil dong buat papa." Dion mengingatkam Karin akan perjuangan beratnya menahan segala tingkah polah Joni.
(Masih ingat Joni kan by the way para readers keceku ini 😆)
"Iya iyaaa,,, Nanti begitu baby D udah lahir kan om papa bebas lagi." Karin mengedipkan matanya.
"Udah ah ntar yang diomongin bangun loh." Dion berusaha tak mengikuti atau pun menikmati momen kemesraan mereka karena takut ada yang berontak di bawah.
"Rina,,, Udah dong ngobrolnya. Dion keburu telat nanti." mama Herna tak sabar menunggu dua insan yang tengah saling bermanja itu.
"Iya ma."
Karin melambaikan tangannya pada suami yang sudah berusaha keras membuatnya bahagia, menyiapkan segala sesuatu yang terbaik baginya dan baby D kelak. Tidak akan dibiarkannya wanita mana pun mengambil alih semua kebahagiaan yang sudah susah payah diciptakan Dion itu.
Termasuk Hana.
Papa Hengki membantu Karin melewati koridor demi koridor panjang menuju ke tempat praktek dokter kandungannya. Sesampainya di sana mereka tak perlu menunggu antrian terlalu lama karena Karin sudah terlebih dulu mendaftar online.
Dokter terbaik di negara ini cukup banyak memiliki pasien sehingga kalau tidak cepat ya artinya harus rela menunggu lama.
"Mama kenapa sih kok kayak resah gitu?" tegur papa Hengki karena melihat mama Herna berkali kali bergerak gerak gak tentu arah.
"Mama khawatir sama Hana pa. Kalau kelamaan ditinggal nanti kenapa kenapa dia dan anaknya bagaimana hayo?"
__ADS_1
"Ma,,, Bisa tidak untuk sementara waktu fokus dulu sama cucu kita sendiri. Anak yang dikandung Hana itu bukan cucu kita. Bagaimana bisa mama lebih khawatirkan dia daripada cucu kita sendiri??" protes papa Hengki.
"Pa,,,"
"Iya papa tau mama mau jawab apa. Mama mau jawab kalau Hana itu juga mama anggap anak mama sendiri kan? Jadi anaknya Hana juga cucu kita kan?? Tapi ma,, tolong realistislah,,, di sini ada anak menantu kita dan cucu kita yang jauh lebih penting untuk didahulukan."
Mama Herna masam mukanya karena belum selesai bicara malah sudah disahut panjang oleh papa Hengki.
"Ma,,, Kalau mama cemas sama kondisi mbak Hana silahkan mama duluan ke sana. Gak apa apa kok kalau mama mau melewatkan USG baby D kali ini. Toh juga nanti Karin akan buat video jadi mama bisa nonton saja di video itu. Daripada mama di sini malah setengah hati dan resah begitu." ujar Karin lembut.
"Tapi Rin,,," papa Hengki merasa tidak enak.
"Papa ini orang Rinanya aja gak masalah kok. Ya sudah kalau gitu nanti oma lihat perkembangan baby D di video saja ya sayang. Kamu harus mengerti sayang,,, Ada bayi lain yang juga butuh kasih sayang kita di sana. Semua ini juga karena kelalaian papa kamu jadi kita gak bisa lepas tangan begitu saja. Oma harap dengan belajar bersimpati sedari dini begini akan membuat kamu tumbuh dengan hati yang lembut dan gak egois." ucap mama Herna sambil mengelus perut Karin dan berbicara pada baby D.
Ucapan yang tidak hanya ditujukan pada si calon bayi melainkan pada ibunya juga.
"Ayo pa. Kita ke kamar Hana." ajak mama Herna
"Ya sudah. Ayo mbak." mama Herna menarik tangan si mbak yang harusnya membantu segala urusan dan keperluan Karin.
"Terima kasih pa. Papa sudah memilih mengutamakan kami." ucap Karin.
"Itu hal yang sudah semestinya papa lakukan Rin. Kamu jangan ambil hati ucapan mama tadi ya. Saring dulu jangan langsung ditelan mentah mentah." nasehat papa Hengki.
"Iya pa. Inshaallah Karin bisa ambil sisi baik dan buruknya."
"Dion beruntung memiliki kamu nak. Bertahanlah apa pun yang terjadi demi Dion dan anak kalian ini. Papa gak mau cucu papa ini tumbuh dalam keluarga yang tidak bahagia. Lakukan apa pun yang sekiranya bisa menyelamatkan rumah tanggamu.Apalagi kalau baik kamu dan Dion sama sama merasa tidak ada masalah internal,,, jangan biarkan orang dari luar masuk dan mengacaukan semuanya."
"Iya pa. Karin sama om papa akan bersatu menyelamatkan rumah tangga kami."
Papa Hengki mengangguk lalu berdiri duluan membantu sang menantu bangkit dari duduknya karena namanya telah dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter.
__ADS_1
Tangis bahagia papa Hengki turut mewarnai saat baby D menampilkan wajahnya di layar USG yang makin hari makin bisa menampilkan tampilan bayi dalam kandungan ibu dengan lebih jelas. Tangis bahagia itu makin dramatis saat beliau diberitahu bahwa dari hasil USG kali ini dokter meyakinkan bahwa jenis kelaminn bayi itu laki laki.
"Calon penerus Dion Mirip kamu Rin." kata papa Hengki sambil mengusap airmatanya.
"Jangan bilang begitu pa nanti anak papa ngambek loh." kata Karin yang masih berbaring dan memvideokan semuanya sambil tertawa mengingat obrolannya tadi dengan Dion.
"Ah anak itu maunya menang sendiri." Papa Hengki pun tak tahan ikut tertawa kecil.
Papa Hengki lega karena akhirnya ada putra pewaris kerajaan bisnis Dion. Bukan maksud meragukan kemampuan kalau pun cucunya perempuan karena papa Hengki juga tau bahwa anak Dion kelak akan mewarisi ketegaran Karin.
Karin adalah wanita hebat bagi papa Hengki.
Sementara di ruangan itu ada Karin dan papa Hengki yang bersukacita karena menyaksikan baby D,,, di ruangan lain juga ada mama Herna dan Hana yang juga tengah bersukacita menyambut bayi Hana.
"Mama merasa beruntung sekali dalam setahun ini mama akan dapat dua cucu Han. Apalagi cucu dar kamu. Sudah lama mama harapkan bisa punya cucu darimu. Yah meskipun tidak dengan cara seperti ini tapi tetap semua yang terjadi itu pasti sudah direncanakan sama tuhan. Mama tau kamu wanita hebat dan kuat Han."
"Makasih ya ma. Mama masih sama seperti dulu. Hana sebenarnya menyesal ma dengan keputusan Hana dulu minta pisah dari Dion. Hana hanya emosi waktu itu. Terlalu shock saja sampai tidak bisa berpikir jernih." lirih Hana.
"Kamu masih cinta sama Dion?" selidik mama Herna.
Hana mengangguk dan membuat mama Herna tertegun.
"Salah gak sih ma kalau Hana ingin Dion kembali sama Hana?"
"Tidak sayang. Demi bayi ini tentu saja itu tidak salah."jawab Mama Herna sembari memeluk Hana erat.
...❤️❤️❤️...
...Gemes mah author sama si mamah 🤟 kalau kalian gimana?? ...
Author tunggu vote, hadiah, like dan komen kaliaj ya ❤️🌹🌸
__ADS_1