
"Ah sial.... kunci mobilku pasti terjatuh", umpat Alan setelah mereka sampai mobilnya namun juga ia baru menyadari kunci mobil itu tidak berada di sakunya seperti biasa.
"Nara, kau tunggulah aku sebentar aku akan masuk mengambil kunci mobilku dulu, kau jangan kemana-mana oke biar ku antar kau pulang", ucap Alan.
Nara mengangguk polos, ia merasa sudah sangat lelah dengan drama hari ini.
Alan meninggalkan gadis yang masih basah dengan memakai jas miliknya itu di samping mobilnya berada.
Mata sayu, wajah cantik itu kian memudarkan senyum mengingat beberapa saat lalu.
"Nara, ini sepatu mu", Naura menyusul dengan sepasang sepatu di tangannya.
"Terimakasih banyak nona Naura, kau baik padaku".
"Maafkan aku Nara, aku terlalu lama meninggalkan mu tadi. Aku menyesal kau mengalami hal ini, aku harap kau tidak marah padaku", ucap Naura menggenggam tangan Nara.
"Tidak, jangan bicara seperti ini aku senang mengenalmu nona Naura, kejadian tadi tidak ada hubungannya denganmu, hanya kau perempuan yang bersikap baik padaku selain Sheira sejak aku berada di kota ini".
Naura tersenyum, "Apa kita boleh berteman?".
Nara mengangguk dan tersenyum lebar.
"Aku harap kau bisa bersabar dengan kak Dannis, aku melihatnya malam ini bagaimana dia diam saja melihat mu dirundung wanita menyebalkan itu, aku tidak tahu jika aku jadi kau, sungguh berat pernikahanmu Nara".
"Aku orang yang mudah melupakan sesuatu, jadi nona tenang saja aku tidak akan gila karena malu atas apa yang terjadi malam ini", jawab Nara terkekeh.
Naura bernapas lega melihat senyum gadis yang dicintai Reno itu mengembang kembali.
"Kenapa kak Alan meninggalkan mu disini?".
"Kunci mobilnya tertinggal di dalam", jawab Nara seadanya.
"Setelah kejadian tadi, apa kau tetap ingin pulang ke rumah kak Dannis? jika kau belum siap kau bisa menginap di rumahku, aku takut kau dimarahi kak Dannis", tawar Naura.
Belum juga Nara menjawab, ia lebih dulu merasa terhuyung saat Dannis menarik tangannya dari hadapan Naura dan mobil Alan.
"Kak Dannis?", ucap Naura terkejut.
Dannis diam dan tidak menghiraukan Nara yang mengaduh kesakitan pada pergelangan tangannya yang diremas oleh pria itu.
"Tuan", lirih Nara yang kembali menangis.
"Tuan, bagaimana dengan tuan Alan".
Dannis membuka pintu mobilnya, Nara hanya bisa masuk dan menurut tanpa banyak berkata-kata.
Pria itu melaju kencang dengan wajah sulit diartikan.
Nara pun sama diamnya, mereka larut dalam keheningan dan pikirannya masing-masing.
"Maaf, aku membuatmu malu", ucap Nara pelan membuka sebuah obrolan.
"Buang jas itu", Dannis berkata tajam namun tidak menoleh.
"Apa?", tentu Nara terkejut akan perintah itu.
"Aku rasa kau mendengarnya dengan baik, buang jas yang kau pakai", bentak Dannis lagi.
Nara berdecak kesal mendengarnya, kembali matanya berair.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jas ini?".
"Kau tidak boleh memakainya", jawab Dannis ambigu.
"Maaf aku tidak bisa, ini punya temanmu yang baik menolongku disaat kau hanya diam menyimak saja, aku sangat berterimakasih pada tuan Alan sudah menutupi punggung ku yang terbuka, dan menyelamatkan ku dari rasa malu atas lekuk tubuhku yang pasti terlihat karena basah, aku akan mengembalikan jas ini dalam keadaan bersih dan wangi".
"Aku bilang buang ya buang", bentak Dannis menatap Nara tajam seraya menghentikan mobilnya mendadak.
"Kenapa kau selalu berubah-ubah tuan Dannis, kadang kau baik padaku terkadang kau jahat seperti malam ini, meski aku tahu kau tidak menyukaiku tapi tidak seperti ini juga, kau sangat berbeda dengan tuan Alan, kenapa kau tidak bertanya kenapa aku bisa di sana? aku rasa kau akan menebaknya dengan benar".
"Iya, aku hadir karena paksaan adikmu Sheira, karena dia tidak bisa pergi jadi nona Nesya yang menyebalkan itulah yang memaksa ku untuk tetap ikut dan mendandaniku seperti ini, aku rasa pacarmu itu sengaja ingin membuatku malu", jawab Nara kesal.
"Aku bersyukur bisa mengenal tuan Alan yang sangat berbeda darimu".
"Kau membandingkan aku dengan pria lain?".
Nara diam, gadis itu malas untuk berdebat hingga ia memutuskan untuk menoleh ke luar jendela mobil demi meredam suaranya yang ingin menangis.
Dannis merasa kesal sendiri saat melirik jas yang masih membungkus tubuh Nara.
"Baiklah jika kau membantah, keluarlah dari mobilku".
"Apa?".
"Keluar".
"Apa kau akan meninggalkan ku di tengah jalan lagi?".
"Keluar sekarang".
Nara menangis, "Kau benar-benar jahat", ucap gadis itu pelan, seraya membuka pintu mobil.
Nara melihat penampilan nya yang basah hanya dibalut jas milik Alan, ia memeluk dirinya sendiri dari kedinginan dengan tangis yang perlahan berhenti.
Nara melihat kesana kemari tidak ada orang yang lewat membuatnya mulai takut.
Hingga ia tidak sengaja berhenti pada sebuah mobil yang terparkir di halaman sebuah minimarket.
Nara bertemu muka dengan dua perempuan yang ia kenal yang menjadi alasan kenapa ia bisa berada di kota dan mengalami semua nasib buruknya saat ini.
Nara menelan ludah kasar.
"Nara", ucap dua perempuan itu bersamaaan.
Nara tidak menjawab dan segera ingin lari dari sana.
"Hei mau kemana kau?", dengan cepat bibi Atikah memegang lengan Nara mencegahnya untuk pergi.
"Bibi, aku mohon lepaskan aku", cicit Nara setelah merasa sakit dibagian lengan nya yang diremas oleh bibi Atikah.
"Kau pikir kau bisa lari lagi sekarang?", seringai wanita itu.
Ranti hanya diam saja melihat bibi dan bekas saudara tirinya itu.
"Kau tahu berapa kerugian yang ku alami karena kau kabur malam itu?", ucap bibi Atikah geram.
"Bibi aku mohon, lepaskan aku", Nara sudah menangis, ia menjadi lemah seketika karena teringat malam yang membuatnya ciut dan takut hanya dengan membayangkannya saja.
Iya, Nara tentu trauma dengan kejadian dimana bibi Atikah pernah menjualnya jika tidak bertemu Dannis malam itu.
__ADS_1
"Kau ingin lepas? ganti rugi dua kali lipat dari harga yang mereka bayarkan malam itu, kau sungguh membuatku sial Nara, kau menggoda suamiku lantas kau juga kabur dari mami malam itu, aku sungguh rugi, aku tidak menyangka kau datang padaku malam ini", seringai bibi Atikah lagi.
"Ranti, aku mohon tolong aku", lirih Nara pada gadis yang diam seribu bahasa itu.
Bagaimana Nara tidak ciut menghadapi bibi Atikah, perempuan itu berbadan tinggi dan besar jauh dari tubuh mungilnya.
Genggaman tangan wanita itu mampu menciutkan Nara hanya dengan memandang mata hitamnya yang menakutkan.
"Aku mohon bi jangan sakiti aku", Nara memelas setelah rambutnya dijambak oleh bibi Atikah namun Ranti terlihat diam saja menikmati pemandangan itu.
"Jika kau ingin lepas, bayar dulu hutangmu", Bibi Atikah mendorong Nara menuju pintu mobil, ia memberi isyarat pada Ranti agar gadis itu yang menyetir.
Ranti mengangguk, namun belum juga masuk mobil bibi Atikah melepaskan Nara karena seseorang yang menarik tangannya kasar seraya mendorong tubuhnya ke badan mobil.
"Siapa kau?", bibi Atikah kesal.
"Akan ku patahkan tanganmu jika berani menyentuh istriku lagi", ucap Dannis dengan mata memerah karena marah.
Ia melepaskan kasar bibi Atikah yang menelan ludah mendengar kata yang pria asing itu baginya.
Ranti terkejut, mata dan telinganya seakan menyangkal bahwa pria yang menjadi tetangganya itu mengakui Nara sebagai istri sekarang.
Nara hanya diam tidak bergeming saat satu tangan Dannis menggenggam tangannya.
Meninggalkan bibi Atikah dab Ranti yang mematung di sana, Dannis menarik tangan Nara masuk mobil lagi.
Hingga beberapa saat mereka sudah dalam perjalanan pulang, Nara seakan tersadar dari lamunan panjang nya.
"Kau jahat, semua karena kau meninggalkan ku", pekik Nara kesal dan memukul lengan Dannis yang tengah mengemudi, gadis ini menangis dan mengamuk menumpahkan rasa kesalnya akan rentetan kejadian yang ia alami sejak sore tadi.
Dannis diam saja.
"Berhenti, berhenti ku bilang, kenapa kau menjemput ku lagi? bukankah kau meninggalkan ku tadi? kenapa kau suka sekali berubah-ubah tuan Dannis gila, aku selalu salah paham atas sikapmu", ucap Nara menggebu-gebu.
Dannis menepikan mobilnya, benar saja Nara segera keluar dari sana dengan perasaan dipermainkan.
Dannis menyusulnya menangkap tubuh mungil itu namun Nara meronta memukul dada suaminya dengan geram.
"Pergilah, pergi sana tinggalkan saja aku, bukankah kau memang tidak peduli padaku.... kau menyebalkan tuan Dannis gila, kau gila, aku muak padamu".
Dannis memeluk tubuh yang menangis itu, membuat Nara sejenak terdiam atas perlakuan Dannis, ia masih terisak namun ia merasa pria itu memeluk nya dengan erat.
Dannis meraih tengkuk istrinya dengan perlahan, hingga wajah cantik nan menangis itu menghadapnya dengan sempurna.
Dannis mengusap airmata Nara dengan jempolnya, "Maafkan aku", ucap pria itu dalam.
Nara terdiam, matanya menatap sendu manik hitam elang suaminya saat ini.
Dadanya kempang kempis ketika mendengar kata maaf yang baru saja keluar dari bibir pria yang menyebalkan itu.
Dannis membenamkan bibirnya seakan membungkam bibir gadis itu agar tidak mengoceh lebih lanjut.
Mengecup namun lama.
Sampai pada Dannis melepas gadis itu dan menggenggam tangan Nara seraya berkata, "Ayo kita pulang".
#####
panjang ya part ini, lanjut lagi yukkkk mari
__ADS_1
selamat menunggu buka puasa