Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 31


__ADS_3

"Nara, kenapa kau di sini? istirahatlah nak....", ucap mama El mengejutkan Khinara yang sedang duduk di salah satu bangku taman belakang rumah mertuanya itu.


"Bibi, tidak aku sedang menikmati angin sore saja? bagaimana kabarnya nona Alea?".


"Nara sebaiknya ubah panggilan mu mulai sekarang, panggil aku mama sama seperti suamimu, Alea cukup Alea saja karena dia bukan majikanmu melainkan iparmu sayang, jangan pakai nona begitupun dengan Sheira dan Syasya.... Oke?".


Nara tersenyum hangat, lalu ia mengangguk mengerti.


"Alea baik, operasinya lancar.... mama akan kembali ke rumah sakit, kalian tidak perlu ikut sebaiknya beristirahat saja malam ini, kalian bisa menjenguknya besok atau lusa, nikmati waktu bersama suamimu oke, mama jamin tidak akan ada yang mengganggu kalian Sheira dan Syasya akan menginap di rumah Alea untuk menjaga keponakan-keponakan nakal kalian, Baim juga pasti akan pergi bersama teman kuliahnya".


Nara hanya kembali mengangguk saja dengan senyum yang ia tahan, dalam hati gadis ini sungguh mengakui bahwa ibunda dari suaminya itu sangat baik dan pengertian.


Setelah berbasa basi akhirnya El dan Kemal pamit untuk kembali ke rumah sakit.


Gadis berambut panjang sebahu itu kembali duduk di bangku taman seraya memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang mampu membawa ketenangan pada jiwanya yang terasa hampa di tengah semua yang terjadi.


"Perjalanan ini akan panjang dan melelahkan Nara, kau bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang? ingin lari? lari kemana? ingin rasanya pulang saja, tapi akan pulang kemana?".


"Selain menerima takdir ini aku bisa apa? aku tidak punya apa-apa dan juga tidak punya siapa-siapa selain keluarga ini, mereka baik kecuali pria arogan dan menyebalkan itu", gumam Nara merutuki pada nasibnya sendiri.


Nara dikejutkan oleh kehadiran sosok lelaki sebayanya, siapa lagi jika bukan Baim sang adik bungsu suaminya.


Pria yang tak kalah tampan dari sang kakak itu pun menghampiri Nara dengan tangan ia masukkan ke saku celana, ia berdiri di samping gadis yang ia sukai sejak pertemuan pertamanya, namun sangat disayangkan kini gadis itu sudah tercipta jarak dan status yang kuat yakni sebagai kakak iparnya sendiri.



Nara tersenyum menyambut kedatangan Baim, mereka bertegur sapa dan bicara ringan satu sama lain, diluar dugaan Nara ternyata dibalik wajah diam Baim rupanya pria itu sangat enak diajak bicara.


Pada kenyataan bahwa Baim memang pandai bergaul dan tidak jaim, mudah akrab dengan siapapun termasuk Nara meski ini pertama kalinya mereka bicara berdua saja.


Nara tertawa, "Aku tidak menyangka kau pandai bergurau Baim, aku kira kau seorang pendiam makanya aku takut ingin menegurmu selama ini", ucap Nara masih terkekeh geli atas pembicaraan mereka yang terasa ringan dan santai menampilkan gigi yang yang rapi dan putih.



"Aku hanya tidak mengira bahwa kau akan menjadi kakak iparku sekarang, aku tidak akan bertanya tentang asal usulmu karena kau sudah masuk ke dalam keluarga ini tentu aku juga akan menerima mu, kita bisa berteman mulai sekarang... jika kau kesepian, kau bisa bicara padaku, jika kak Dannis menyakitimu kau bisa mengadu padaku".


"Iya, terimakasih Baim kau sungguh baik sangat berbeda dengan....", ucapan Nara menggantung ketika mengingat Dannis yang sangat berbeda dengan adik bungsunya ini.


"Apa kau sedang membandingkan aku dengan kak Dannis? ketahuilah pria itu juga baik pada dasarnya, hanya saja saat ini otaknya sedikit bergeser sejak kematian tunangannya, aku rasa itu pula yang menjadi alasan kau terjebak dengannya".


Kata itu mampu membuat Nara kembali ingin tertawa.


"Apa kau pikir kakakmu sudah gila?".

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? apa yang kau pikirkan tentang kak Dannis?", tanya Baim lagi seraya terkekeh.


Nara sejenak terdiam, lalu tertawa lagi.


"Kau benar, aku rasa dia sedikit tidak normal".


Mereka tertawa bersama, namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata tajam menatap kebersamaan Nara dan Baim sore itu dari jendela kamar lantai dua yang mengarah ke halaman taman yang terlihat jelas istri dan adiknya sedang tertawa bersama seperti sudah lama saling mengenal.


"Ck..... kenapa adikku mau bicara padanya? lihat mereka bahkan sedang menertawakan sesuatu", Dannis berdecak kesal sendiri melihat pemandangan wajah cantik dengan senyum yang lebar menghiasi keduanya bersama Baim.


Tidak ingin terlarut dalam pemandangan yang ingin ia sangkal itu, Dannis memutuskan kembali ke ranjang untuk memejamkan sejenak matanya yang lelah sejak tadi pagi.


Pada kenyataannya, Dannis tidak memberitahu siapapun tentang pernikahan itu kecuali keluarganya, ia memohon pada mama El agar tidak memberitahu siapapun sampai mereka menggelar resepsi pernikahan yang direncanakan tiga bulan ke depan.


Niat pria itu hanyalah mengulur waktu saja sampai ia menemukan cara untuk menyingkirkan Nara dari hidupnya yang ia anggap tidak membutuhkan seorang pendamping, jika berhasil tentu nama baiknya tidak akan tercemar karena telah bercerai nantinya.


Pria ini juga belum bisa berpikir secara jernih sekarang di tengah rumitnya hubungan itu ditambah pula ia disibukkan dengan pekerjaan yang mau tidak mau menyita energi dan pikirannya secara bersamaan.


Baru saja terpejam, kembali matanya terbuka saat mendengar langkah kaki masuk.


"Kemana saja kau?".


"Aku.... aku dari taman", jawab Nara polos.


"Kemari kau".


"Pijat kepalaku! kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat kepalaku pusing", perintah Dannis pada Nara.


"Baik", gadis ini segera mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Bisakah kau tidak menjawab seperti itu-itu saja sejak tadi, baik baik baik baik, kau membuatku kesal".


Nara hanya menghela napas kasar saja, tangan lembut miliknya kini sudah ia letakkan di kepala suaminya, mulai memijat seperti yang diperintahkan Dannis.


Lama Dannis terdiam, ia menikmati pijatan dan usapan-usapan lembut tangan Nara di kepalanya, bahkan ia hampir terlelap.


Nara terus memijat lembut seraya bernyanyi pelan karena merasa bosan, lama Dannis terdiam yang ia yakini pria itu telah terlelap sampai pada sebuah bunyi ponsel membangunkan pria itu lagi.


"Hei.... Kenapa kau di sini? beraninya kau menyentuhku, asal kau tahu suara mu tidak enak jangan bernyanyi di hadapan ku itu membuatku bertambah pusing", ucap Dannis terus ingin menyangkal bahwa suara gadis itu benar-benar indah hingga ia bisa merasakan lelap walau sebentar.


Nara berdecak kesal, "Huh.... tuan, aku rasa otakmu memang sudah bergeser, kau bahkan tidak mengingat baru beberapa menit lalu kau memberi perintah untuk memijat kepalamu, kau bahkan ingin menyangkal suara indahku padahal kau sempat terlelap olehnya".


"Apa kau ingin mengatakan aku gila? beraninya kau?".

__ADS_1


"Tidak tuan, maafkan aku".


"Kau pikir aku mau jadi suamimu? tidak jika kau tidak menjebakku, jangan harap kau akan mendapat kan ku".


"Terserah kau saja tuan, aku lelah menghadapi mu hari ini.... aku akan kembali ke kamarku", ucap Nara dengan nada lemah


"Enak saja, tetap di sini apa kata pelayan jika kita di kamar yang berbeda itu akan sampai pada mamaku, awas kau jika berani keluar dari sini".


"Baik", jawab Nara pelan.


"Sudah ku katakan jangan jawab begitu lagi".


"Lalu aku harus jawab apa? apa yang ku lakukan semuanya salah", jawab Nara mulai menangis, ia sungguh lelah menghadapi Dannis padahal baru hari pertama mereka menikah.


Dannis tergagap.


"Kenapa malah menangis?".


"Aku lapar", ucap Nara di sela tangisnya.


"Ck..... keluar lah, cari makan sana aku tidak ingin mama memarahiku karena tidak memberimu makan".


"Baik", jawab Nara lesu seraya berjalan ke arah pintu.


Membuat Dannis kembali berdecak kesal, pria itu berdiri dan menarik lengan Nara dengan kasar.


Gadis itu meringis saat merasa luka di sikunya terasa pedih oleh tangan Dannis.


"Tuan, kau sedang memegang luka ku", tunjuk Nara dengan ekor matanya mengarah siku yang sedang menempel tangan besar Dannis di sana.


"Huh.... pergilah", ucap Dannis yang semula ingin marah namun urung ketika menyadari tangannya meremas luka di siku Nara terlebih ia melihat jelas wajah lelah dan menangis itu.


Nara kembali ke kamar ketika sudah menyelesaikan makan malam, ia membantu para pelayan membereskan meja makan.


Karena merasa lelah dan mengantuk, gadis ini berjalan ke arah ranjang dengan sikap polosnya.


Dannis yang sedang memainkan ponselnya itu pun terkejut ketika Nara naik ke ranjang dan berbaring di sana.


"Hei... apa yang kau lakukan? kenapa tidur di sini?".


"Lalu aku akan tidur dimana?".


"Terserah, namun tidak di dekatku, ini ranjang milikku, kau bisa tidur di tempat lain, kau pikir aku sudi tidur bersamamu?", ucap Dannis tajam.

__ADS_1


Nara menarik napas dalam, mata sayunya menatap Dannis dengan kecewa lalu ia hanya bisa mengangguk saja seraya turun dari ranjang menuju sofa yang berada di sudut kamar tanpa banyak bicara.


Dannis menatap punggung Nara yang menjauh, netranya melihat bagaimana gadis yang sudah menjadi istrinya itu hanya bisa meringkuk memeluk tubuhnya sendiri tanpa selimut.


__ADS_2