
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Ng,,,Ng,,, A,,Aaa,,Anu tuan,,, Mbak Karin mmm,,, Anu,,,," Darwin benar benar gugup antara tau kebenarannya namun takut akan ancaman mama Herna.
"Anu anu apa toh kamu ini Win?"
"Mbak Karin,,,"
"Iya kenapa Karin? Kok susah sekali kamu ngomongnya?" desak papa Hengki.
"Tuan saya tidak berani. Saya takut tuan marah mendengarnya." ucap Darwin.
"Kenapa saya harus marah toh? Sudah,,, Kamu bilang saja ada apa dengan mbak Karin. Marah tidak marah itu nanti kan tergantung apa yang kamu sampaikan. Yang jelas marahnya ya gak ke kamu karena kamu cuma sekedar menyampaikan saja." ucap papa Hengki meyakinkan.
"Mbak Karin,,, Mbak Karin,,,"
"Astaga Darwin,,, kalau kamu begini terus malah buat saya makin pusing saja. Belum apa apa kamu sudah buat saya emosi. Hmmm,,," gerutu papa Hengki.
"Maaf tuan maaf. Baik saya akan katakan saja apa adanya. Mbak Karin gak pernah nemenin mas Dion tuan."
Terasa hampir tercekat napas Darwin mengatakan kebohongan tersebut. Perasaan bersalah menghantuinya detik berikutnya setelah ia selesai mengatakannya.
"Ya tuhan maafkan hambaMu ini. Mbak Karin,,,maafkan Darwin." batinnya dengan penuh rasa bersalah.
Lain Darwin lain pula reaksi papa Hengki. Lelaki tua itu tampak berpikir keras dan tidak serta merta menerima pernyataan itu. Sebagai orang yang selalu bisa bijak menyikapi satu masalah,,, papa Hengki pasti memandang semuanya dari segala sudut sebelum menentukan sesuatu.
__ADS_1
"Kemana memangnya Karin? Apa Delvara sakit? Atau mungkin dia tidak datang karena tidak tega menitipkan Delvara pada orang lain?" tanya papa Hengki.
"Mungkin alasan terakhir itu tuan. Tuan tau kan mbak Karin baru saja melahirkan putra pertamanya dan pastinya susah bagi seorang ibu baru untuk langsung berpisah dengan bayinya. Bayi juga masih butuh perhatian khusus kan tuan?" Darwin mencoba memposisikan ketidakhadiran Karin karena suatu alasan kebaikan.
"Benar juga kamu Win. Baiklah kalau begitu saya istirahat dulu. Kamu jangan kemana mana. Duduk atau rebahan saja di sofa itu. Siapa tau saya butuh kamu sewaktu waktu." pesan papa Hengki.
"Baik tuan." sahut Darwin cepat dengan ribuan rasa syukur dalam dada karena tuannya itu mau menerima pemikirannya tentang Karin barusan.
Sementara itu,,, di rumah keluarga besar Dion di Singapura ini,,,
Karin hanya menatap lesu lembaran lembaran kertas yang berisi banyak kata. Kertas yang dibawa oleh seorang pria berpakaian serba rapi lengkap dengan jas dan dasinya itu sukses membuatnya tidak berdaya.
"Apa nona sudah paham semua yang dituliskan disini?" tanya lelaki yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang notaris atau lawyer suruhan mama Herna.
Karin tidak begitu memperhatikan saat lelaki itu memperkenalkan dirinya tadi karena Karin lenih sibuk menelaah satu demi satu kata yang berbaris rapi di kertas itu. Dirinya yang merasa tidak bodoh bodoh amat itu tentu bisa mengerti dan paham isi dari surat pernyataan dan persetujuan yang sudah dibuatkan oleh lelaki itu atas nama dirinya.
Dada Karin mendadak terasa sesak. Di rumah besar ini dirinya merasa begitu kecil. Sejak mama Herna meminta pergi dari rumah sakit memang hanya tempat inilah yang bisa ditujunya di negara ini dengan harapan rumah ini masih tetap bisa memberikan perlindungan kepadanya dan Delvara. Namun nyatanya rumah ini sebentar lagi juga tidak akan bisa melindunginya dari terik matahari dan hujan.
Buliran buliran bening mulai memenuhi kedua kelopak mata Karin. Membuat pandangannya mengabur dan detik berikutnya buliran bening itu jatuh tak tertahankan lagi.
"Nona,,, saya mengerti kesedihan nona tapi mungkin tidak semua isi dari surat ini merugikan nona bukan? Nona adalah seorang ibu yang masih bisa merawat dan membesarkan bayi nona ini jika nona menyetujuinya. Nona juga bisa berkumpul dengan ayah nona lagi. Hidup bahagia bersama beliau dan putra nona. Nona juga masih muda, masih banyak lelaki seusia nona yang akan tertarik pada nona dan bisa menerima status nona. Hidup dan masa depan nona masih panjang." ucap lelaki itu dengan hanya memandang dari sudut pandangnya sendiri.
Karin makin tersedu dibuatnya. Sungguh mama Herna telah membuatnya merasa sangat lemah saat ini. Dua pilihan yang ditawarkan mama Herna sama sama tidak bisa diambilnya namun harus tetap diambilnya.
"Pertimbangkan lagi nona. Tapi tidak bisa lama lama karena nyonya Herna ingin anda segera memberikan jawaban." tegas lelaki itu sekali lagi.
Tangan Karin tergerak untuk menghapus airmatanya. Hatinya mengeras seiring dengan keputusan yang diambilnya. Dia memang harus memilih.
__ADS_1
"Baiklah saya setuju." ucapnya tegas.
"Dengan semua isi perjanjian ini atau nona ada keinginan bernegosiasi lagi?" tanya lelaki itu.
"Saya ikuti semua kemauan mama. Maaf,,,nyonya Herna maksud saya. Bagaimana pun juga dengan menyetujui semua ini berarti saya sudah bukan menantunya bukan? Jadi saya tidak perlu memanggil beliau dengan kata mama lagi." ucap Karin.
"Benar nona. Baiklah. Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama nona. Nona sangat tidak merepotkan jadi akan saya urus segala sesuatunya segera. Sambil menunggu saya,,sebaiknya nona mulai berkemas juga." lelaki itu mengingatkan.
"Terima kasih." jawab Karin singkat.
Lelaki berpakaian rapi itu segera mengabarkan kepada kliennya bahwa Karin sudah menyetujui semua tanpa banding apa pun. Suara wanita yang familiar di telinga Karin itu pun terdengar sangat bahagia.
"Nyonya Herna menitipkan salam dan mengucapkan terima kasih kepada anda dan apa pun yang anda lakukan adalah yang terbaik untuk semua pihak." ucap lelaki itu setelah menutup telponnya.
"Sampaikan salam balik saya kepada nyonya Herna." ucap Karin dingin.
"Baik nona. Saya permisi. Saya akan kabari nona begitu semua siap."
Karin hanya mengangguk mengiyakan dengan tatapan mata ke lain arah. Ia sungguh benci dengan kehadiran lelaki itu. Benar memang lelaki itu hanya ditugaskan untuk mengunjunginya dan membawakan lembaran lembaran berisi perjanjian gila dan sinting dari "Nyonya Herna" itu. Tapi tetap saja di mata Karin yang sudah terlanjur tersakiti,,, lelaki itu tetap punya andil besar di dalamnya.
"Memintaku pergi membawa Delvara jauh jauh dari kehidupan suamiku sendiri atau meninggalkan Delvara bersama mereka?? Nyonya Herna memang pandai. Dia tau aku tak akan memilih meninggalkan Delvara bersamanya karena aku tau Delvara akan disakiti olehnya. Lalu Dengan iming iming akan membebaskan papa dari penjara dan menanggung seluruh biaya kepergian kami jauh ke luar negeri,,, Dengan dalih untuk kebaikan bersama,,, hmm nyonya Herna memang licik."
Mengingat semua isi perjanjian itu membuat Karin merasa jijik dengan ulah wanita yang kini sama sekali tak ingin dipanggilnya mama itu.
"Baiklah nyonya Herna. Aku ikuti permainanmu." Karin menutup pintu dan mulai mengemasi semua barang barangnya. Ia ingin segera pergi dari neraka yang diciptakan wanita keji itu meski terpaksa meninggalkan surga yang dibangun suaminya.
"Maafkan Karin om papa. Karin terpaksa." lirihnya lalu menyimpan foto pernikahan mereka ke dalam tasnya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...