
Nara menunduk malu saat berjalan di kantor Dannis, ia membawa sebuah map yang diperintahkan oleh pria itu mengantarnya ke kantor. Sebuah map penting yang Dannis lupa membawanya.
Beberapa pasang mata melihat ke arahnya, benar-benar membuat Nara malu.
"Nara, kau kemari?".
"Aldo?".
Gadis ini tidak sengaja hampir menabrak Aldo karena berjalan terlalu menunduk sejak tadi.
Nara mengangguk dan tersenyum pada pria yang baik dan tulus berteman dengannya itu.
"Nara, sebenarnya aku masih menyimpan rasa penasaran pada pernikahan mu saat melihat reaksi tuan Dannis pada reuni lalu, tapi tentu aku tidak akan bertanya tentang itu sekarang, kita berteman Nara, aku kasihan padamu", ucap Aldo tiba-tiba.
"Aku hendak mengantarkan map ini, suamiku menginginkannya", jawab Nara.
"Baiklah, aku tahu kau tidak akan bicara apa-apa tentang hal itu".
"Maafkan aku Aldo, tidak baik untukku menceritakan masalah rumah tangga ku pada orang lain. Aku harap kau mengerri".
"Hei.... Tenanglah, aku tidak memaksa meski aku masih penasaran. Oke baiklah silahkan mungkin saja kau sedang ditunggu saat ini", ucap Aldo terkekeh melihat raut canggung Nara.
Gadis itu hanya mengangguk saja, ia pamit dan segera berlalu masuk lift.
Namun belum juga sampai di lantai yang ruangan suaminya berada di sana, Nara dibuat cemas saat lift tiba-tiba berhenti dan gelap karena lampunya juga mati sialnya hanya ia seorang diri berada di sana.
Panik, tentu gadis ini panik karena selain ia tidak pernah mengalami hal seperti itu ia juga belum tahu bahwa lift juga bisa mati.
"Bagaimana ini? tolong.... tolong.... apa ini ayo buka", Nara berteriak sendiri.
Karena terlalu takut, cukup lama Nara heboh sendiri dan melupakan bahwa ia mengantongi ponselnya.
Tentu saja menguras tenaganya, hingga Nara merasa lift berubah menjadi panas dan ia sulit bernapas karena terlalu cemas.
Ia terduduk seakan pasrah, ponselnya berdering membuatnya menangis semakin kencang.
Nara meraih ponselnya dan menerima telepon yang ternyata dari Dannis.
"Hallo tuan...", jawab Nara dengan suara tersedu oleh tangis.
'Nara, kau dimana kenapa lama? aku membutuhkan map itu sekarang, kenapa suaramu? apa kau sedang menangis?', tanya Dannis mengernyit heran.
__ADS_1
Nara kembali menangis, ia merasa dadanya semakin sulit bernapas terlebih gadis ini takut akan gelap.
"Tuan.... aku merasa aku akan mati tidak lama lagi, aku aku aku sulit bernapas. Aku takut sepertinya malaikat maut mendekatiku", ucap Nara terbata dengan napas terengah.
'Apa? Nara jangan bercanda, aku serius kau dimana sekarang?', desak Dannis kesal ia mengira Nara sedang mengerjai nya, ia melirik beberapa pegawai yang sedang menunggunya di ruang pertemuan.
"Tuan Dannis, aku ingin mengatakan sesuatu padamu tentang perasaanku, aku tidak tahu apa aku bisa mengatakannya setelah ini atau tidak", ucap Nara lagi masih dengan tangisnya.
'Nara? apa ini aku sedang tidak ingin bercanda, map itu penting sekarang katakan kau dimana?', sergah Dannis mulai marah.
"Sepertinya aku, aku aku jatuh cinta padamu.... maaf jika aku banyak salah dan terimakasih banyak sudah baik padaku akhir-akhir ini, aku benar-benar jatuh cinta padamu tuan Dannis", ucap Nara dengan perasaan yang dalam, ia merasa sudah berada di ujung hidupnya karena belum ada tanda lift itu menyala dan ia mulai lemas karena sudah terkuras tenaga untuk berteriak dan panik sejak tadi.
'Apa?', Dannis memejamkan matanya menahan kesal, bagaimana gadis itu bercanda sejauh itu disaat penting seperti ini, dalam pikiran Dannis hanya ada map itu untuk sekarang.
'Nara, berhenti bercanda.... aku mulai marah, katakan di mana kau sekarang?', Dannis mulai bicara membentak karena kesal, gadis yang ia suruh membawa map itu terus menangis tidak jelas.
Nara semakin menangis ketakutan, ia meringkuk memeluk dirinya sendiri.
"Aku mencintaimu tuan Dannis, aku mencintaimu. Aku sungguh takut sekarang".
'Nara? jangan membuatku gila, kau dimana sekarang? cepat katakan'.
Nara bicara sendiri saat ponselnya terlepas, penglihatannya semakin gelap, lemas dan pingsan.
'Nara? Nara?, jawab aku, ah sial.... Kenapa tidak bilang dari tadi', gerutu Dannis keluar dari ruangan pertemuan dengan tergesa tanpa menghiraukan para pegawai yang hadir menatapnya aneh sekaligus takut.
Dannis menghubungi teknisi kantornya, pria itu berjalan kesana kemari sambil menunggu lift diperbaiki.
"Kenapa lama sekali, bisa bekerja tidak? istriku di dalam sana", Dannis menarik kerah baju pekerja teknisi itu.
Reta dan beberapa pegawai yang juga berada disana menatap Dannis dengan heran, pria itu mulai ikut cemas memikirkan Nara terlebih suara gadis itu saat di telepon tadi, mereka semua saling menoleh saat Dannis bicara soal istri.
Pikiran mereka melayang kemana-mana, sebab tidak ada yang tahu bahwa Dannis benar-benar telah menikah meski gosipnya telah lama di ketahui.
Dan benar saja, setelah lift bisa diperbaiki dan terbuka menampilkan seorang perempuan yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Dannis meraih tubuh Nara tanpa basa basi, ia bahkan lupa dengan map penting sebagai alasan Nara berada di sana sekarang.
Pria itu menggendong Nara menuju ruangannya.
"Nara, Nara bangunlah....", gumam Dannis menggenggam tangan gadis itu setelah dokter datang sesuai perintahnya pada Reta.
__ADS_1
"Istri anda baik-baik saja tuan Dannis, hanya pingsan karena kehabisan tenaga mungkin saja nona Nara panik dan berteriak yang menghabiskan tenaganya saat terjebak lift", jelas dokter tersebut.
Dannis bernapas lega, setelah dokter pergi pria itu duduk di samping Nara.
Lama ia menatap wajah gadis yang baru saja menyatakan cinta padanya itu, tangannya membelai lembut pipi Nara hingga gadis itu menggeliat dan membuka mata perlahan.
"Tuan Dannis?", ucapnya lirih, ia mengumpulkan kesadaran dan tenaga seraya ingin duduk namun Dannis menggeleng mencegahnya.
"Apa aku masih hidup?".
"Kau hanya pingsan, bukan mati", ucap Dannis tersenyum geli.
Wajah Nara memerah karena malu mengingat beberapa saat lalu.
"Aku akan meeting", ucap Dannis pamit berdiri.
Namun Nara menahannya.
"Tuan.... aku serius tentang yang ku katakan tadi, meski terkesan tidak tahu malu tapi aku mengakui nya bahwa aku menyukaimu.... aku aku jatuh cinta padamu", ucap Nara pelan dengan matanya menatap yakin manik hitam Dannis.
Dannis diam saja.
"Tidak bisakah aku punya kesempatan untuk itu?", Nara bahkan meraih jemari suaminya dengan lembut dan penuh perasaan.
Entah kenapa ia sangat berani setelah bangun dari pingsan.
"Istirahatlah, kau tampak lelah", jawab Dannis menaikkan selimut hingga dada.
Pria ini mengecup punggung tangan Nara, lalu berdiri dan pergi meninggalkan gadis itu masih dengan tatapan yang sama.
#####
Maaf ya pemirsa yang koment berbelit dan bosan.
Author ma apa atuh cuma penulis amatiran, receh cuma remahan peyek doang.
Kadang dalam menulis juga sering gabut dan kehilangan inspirasi, tidak mudah untuk menuangkannya dalam rangkaian kata hingga terbentuk bab per bab novel ini.
Saya menulis menyalurkan hobi, meski berputar-putar tapi saya punya alurnya sendiri, kadang tidak semua bab harus mencapai klimaks yang bikin pembaca greget terus, kadang juga harus flat seperti beberapa part ini.
Aduh panjang kali author klarifikasinya, udah ah maaf lahir batin ya, lanjut ayo ga lanjut juga ga papa, author mah santuyyy.
__ADS_1