Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 103


__ADS_3

Dannis memeluk istrinya dengan mesra, berada di bawah selimut tebal, mereka benar-benar menyewa satu kamar hotel tepat pada sebuah kamar Vip tempat Dannis biasa menginap namun berbeda ketika ia datang kali ini, ia bersama Nara perempuan yang ia cintai, istri yang ia kenal pertama kalinya di kamar itu, kamar yang menjadi saksi pertemuan konyol diantara keduanya beberapa bulan lalu.


"Segera tumbuh, ayah menanti kehadiranmu", Dannis mengecup perut rata Nara berulang kali.


Nara menahan geli.


"Kau ingin anak? apa tidak terlalu cepat?", tanya Nara mengusap rambut suaminya yang masih betah berada di perutnya.


"Kau tidak lihat anak-anaknya Alea sudah besar-besar, aku bahkan baru mendapat istri sekarang, aku ingin anak yang banyak Nara, apa kau keberatan?".


"Tidak, aku tidak keberatan jika tubuh kecil ku ini bisa hamil berkali-kali, tapi hamil itu tidak mudah Dannis, belum tentu aku bisa hamil dalam waktu dekat".


"Kau meragukan kejantanan ku? aku akan membuat mu hamil secepatnya" jawab Dannis serius.


Nara tertawa.


"Aku tidak meragukanmu sayang, baiklah semoga kau berhasil menghamiliku secepatnya".


"Ingin mengulanginya?", seringai Dannis lagi, Nara menerima Dannis sepenuh hati, bercinta di pagi menjelang siang hari seakan menjadi jadwal tetap bagi keduanya.


*****


"Tuan Alan?".


"Nara, hai".


Paman Harun dan bibi Tina saling menoleh.


"Sayang, kau mengenal nak Alan?", tanya paman Harun.


Nara mengangguk saja.


"Apa ini pertanda baik?", sahut bibi Tina tersenyum menggoda Nara.


"Syukurlah, anak kita sudah saling mengenal", ucap Paman Harun pada kedua orang tua Alan yang tidak putus menatap Nara yang bersikap santun sejak mereka datang tadi.


"Nara ajaklah nak Alan berkeliling, kami akan bicara di dalam", perintah paman Harun pada Nara.

__ADS_1


Nara mengangguk lagi.


Paman beserta bibi Nara itu mengajak tamu mereka masuk rumah, berniat bicara dengan santai tentang rencana dua keluarga untuk mengenalkan dan jika bisa menjodohkan Nara dan Alan yang tidak lain adalah sahabatnya Dannis.


Nara dan Alan saling bertukar kabar tentang keduanya sejak terakhir bertemu.


"Aku kira kau sudah tidak mengenal ku", canda Nara.


"Bagaimana aku bisa lupa padamu, meski kau sedikit berbeda sekarang", jawab Alan tersenyum, mereka berjalan ke arah taman rumah itu.


"Apa aku terlihat seperti orang kaya? atau masih seperti pelayan?".


"Kau bahkan terlihat seperti seorang putri raja".


"Bercandamu berlebihan tuan Alan".


Mereka tertawa bersama.


"Maaf, apa kau tahu aku dan Dannis..... maksudku hubungan kami masih baik hingga sekarang", ucap Nara berniat menyinggung soal perjodohan diantara mereka.


Alan mengangguk.


Nara menggigit bibir bawahnya.


"Tuan Alan, maaf... aku mencintai suamiku, aku menurut pada paman bukan berarti aku menerima perjodohan ini, aku wanita bersuami".


"Tenanglah, kita bertemu malam ini bukan berarti akan berjodoh bukan? aku mengerti maksudmu Nara, jangan berpikir aku juga menerima perjodohan ini setelah tahu wanitanya adalah kau".


"Aku pikir kau telah salah paham padaku selama ini, ketahuilah aku tidak menyukai mu sebagai seorang wanita Nara".


"Apa maksudmu?", tanya Nara heran.


"Maafkan aku, mungkin aku lancang memintamu pada Dannis tempo hari, ketahuilah itu tidak sepenuhnya benar, aku hanya ingin memanasi suamimu saja, kau lihat hasilnya bukan? pria itu mencintaimu, aku tahu sejak lama hanya saja Dannis terlalu malu untuk mengakuinya".


Nara menatap Alan masih dengan tatapan penuh tanya.


"Ayolah jangan menatapku seperti itu, seharusnya kau berterimakasih karena ulahku pula Dannis menyadari perasaannya", jawab Alan enteng.

__ADS_1


"Kau tidak bersungguh menyukai ku?", tanya Nara sekali lagi.


"Meski aku menyukaimu sekalipun, aku masih waras untuk tidak merebut istri sahabatku sendiri", jawab Alan tertawa.


Nara menatap Alan tersenyum.


"Kau memang baik tuan Alan".


"Aku bukan majikanmu, panggil namaku saja".


"Baiklah Alan", jawab Nara terkekeh.


"Kau merindukan Dannis?".


Nara mengangguk lesu. Alan tersenyum dibuatnya, pria itu menarik tangan Nara pelan menuju pintu pagar.


"Kau mau membawaku kemana?", tanya Nara heran.


"Lihatlah seseorang sedang menunggu mu di sana", tunjuk Alan ketika mereka keluar pagar.


Nara menoleh pada seorang pria yang berdiri di samping mobilnya.


Nara mengembangkan senyumnya, ia menatap Alan sekilas lalu Alan mengangguk.


"Apa itu orang yang kau rindukan?", goda Alan.


"Sekarang aku tahu, indahnya persahabatan diantara kalian berdua, terimakasih Alan", jawab Nara tersenyum menatap Alan, lalu ia segera berlari pada pria yang telah membentangkan tangannya menanti Nara masuk dalam pelukan pria itu.


"Sayang, kenapa tidak bilang kau di sini?", tanya Nara berhambur memeluk suaminya.


"Apa aku mengejutkanmu?", ucap Dannis memeluk Nara dengan gerakan memutar.


"Tentu saja terkejut, apa kau dan Alan sengaja memanfaatkan pertemuan keluarga ini?".


"Anggap saja seperti itu", jawab Dannis terkekeh.


"Aku merindukanmu Dannis, sungguh rindu", ucap Nara sebelum mereka menyatukan bibir meski Alan masih berdiri mematung menjadi penonton adegan mereka di sana.

__ADS_1


"Apa aku terlihat menyedihkan? ayolah, tidak berarti harus berciuman di hadapanku juga bukan?", gumam Alan geleng-geleng kepala setelah memalingkan pandangan dari sejoli yang sedang melepas rindu itu.


Dannis dan Nara tidak menghiraukan Alan yang mengoceh, mereka hanya saling melempar senyum saja sebelum melanjutkan adegan kissing yang menjadi favorit jika bertemu.


__ADS_2