
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸...
Tumpukan baju baju dan beberapa koper yang masih terbuka membuat kepala Hana pusing. Ia lelah membereskan semuanya sendirian.Sejak pagi ia sudah bergulat dengan barang barang itu. Jadwal keberangkatan ke Turki besok mengharuskan ia menyelesaikan semua itu hari ini juga.
Hari ini ia bebas tugas di rumah sakit tapi bertugas di rumah menyiapkan barang barang Dion. Kamar ber Ac itu sepertinya tak banyak membantunya agar tak berkeringat saking banyaknya yang harus dikerjakannya.
"Sial,, susah juga gak punya pembantu. Mela sih sok mau lapor segala." gerutunya sambil terus mengepak barang barang yang sebagian besar adalah barang Dion.
"Han,,, nanti bantu kemas barang mama juga ya sayang. Pinggang mama sakit kalau harus bungkuk bungkuk ambil dan masukkan barang ke koper."
Mama Herna yang menyusul pulang langsung menuju ke kamar Dion menemui Hana di sana.
"Mama gak lihat apa Hana masih banyak kerjaan begini?!!!" bentak Hana emosi.
"Han,,, harus sekasar itukah nada bicaramu? Kan mama juga bilangnya nanti, bukan sekarang." mama Herna agak terkejut dengan reaksi Hana itu.
Hana tersadar bahwa dirinya masih harus menahan diri. Masih terlalu dini untuk menunjukkan taring.
"Maaf ma,, Hana hanya lelah. Iya nanti Hana bantuin mama ya." ujarnya kemudian dengan disertai senyuman manis.
"Kalau begitu kan lebih enak didengar sayang. Mama tau kamu capek,,, apa tidak sebaiknya cari asisten rumah tangga lagi?" tanya mama Herna.
"Justru seharusnya kita itu gak pakai jasa pembantu ma karena bagaimana pun kita harus berhemat dulu. Pengobatan Dion masih panjang. Mama tau juga kalau Hana pakai dokter terbaik untuk menangani Dion dan biayanya juga tidak murah. Belum lagi biaya hidup di Turki nantinya pasti juga tidak sedikit. Sebaiknya daripada uangnya pakai bayar pembantu, mending ditabung saja dan mama yang bantu bantu kerjakan pekerjaan rumah dulu. Demi pengobatan Dion biar lancar masak berkorban mengotori tangan sedikit mama gak mau?" sindir Hana.
Mama Herna agak terperangah juga dengan pemikiran Hana yang meminta dirinyalah yang justru harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mengingat sejak menikah puluhan tahun lalu dan menjadi nyonya Hengki,,, mama Herna sama sekali tak pernah turun tangan urusan dapur atau rumah tangga.
Papa Hengki menjadikannya ratu cantik yang semuanya serba dilayani. Bukan dia yang harus melayani. Dan sekarang tiba tiba Hana memintanya begitu. Hana juga bukan tidak tau seperti apa keseharian mama Herna sebelumnya saat ia masih menjadi menantunya.
Kalau dulu Hana mengerjakan semua sendiri itu juga bukan atas suruhan Dion atau pun mama Herna melainkan permintaannya sendiri untuk mengurus semua urusan rumah tangganya sendiri.
__ADS_1
"Tapi bukannya simpanan Dion masih banyak Han?" mama Herna mengajukan protesnya dengan mengingatkan kondisi keuangan Dion yang berlebihan.
"Oh maksudnya mama gak mau bantu berkorban sedikit saja begitu? Hana tau uang Dion itu melimpah tapi apa mama tau akan seberapa lama pengobatannya dan seberapa banyak biaya yang harus kita keluarkan? Mama mau di tengah jalan pengobatan Dion terhenti karena kita kehabisan uang??" tanya Hana.
Mama Herna terdiam. Otaknya masih berputar memikirkan semuanya.
"Masak sih peninggalan papa dan semua yang dimiliki Dion saat ini akan habis sebelum Dion sembuh? Masak kalau hanya dipakai gaji satu asisten rumah tangga saja bisa berpengaruh?" batin mama Herna.
Tentu saja dengan kerajaan bisnis Dion yang menjamur di mana mana mama Herna merasa tidak perlu takut membayar seorang asisten rumah tangga karena jangankan asisten rumah tangga,,, membayar asisten pribadi pun juga sanggup dengan semua yang mereka miliki.
"Mama lagi mikir apa? Mikir kalau Hana ini tega dan jahat ya? Ingat ma ini semua demi Dion bukan demi kepentingan Hana." tegas Hana.
"Eh bukan,,, mama gak mikir begitu kok Han." sanggah mama Herna.
"Trus mikir apa? Gini ya ma,,, mengingat status Hana dalam keluarga ini,,, sebenarnya Hana ini yang paling tidak perlu repot atau turun tangan kan? Hana ini siapanya Dion coba?? Hana hanya wanita yang dengan sukarela menyerahkan sisa hidup Hana merawat pria lumpuh yang istrinya disingkirkan oleh mama. Apa ada sisa keindahan di masa depan untuk Hana?? Gak ada ma,,, Yang tersisa cuma pusing bagaimana harus berusaha bertahan dalam situasi seperti ini."
"Kalau Hana yang dianggap Dion ini saja bisa mengorbankan masa depan Hana,,,masak mama gak bisa hanya berkorban tenaga dan waktu untuk mengurus keluarga mama sendiri??" sindir Hana lagi.
"Jadi bagaimana? Kok diam saja?? Mama mau bantu bantu urusan rumah??" tanya Hana.
"Ii,,Iya mama mau." mama Herna akhirnya mengalah.
"Gitu dong ma. Oh ya,,, surat kuasa dari pengacara sudah siap?"
"Katanya hari ini pasti selesai Han." jawab mama Herna.
"Dikejar dong ma,,, jangan lama lama. Besok kita udah berangkat loh. Kerjaan Hana menumpuk. Perusahaan Dion banyak dan semua sekarang harus Hana yang urus. Mama dikasih kerjaan satu macam saja kok lama sekali selesainya." keluh Hana.
"Akan mama follow up lagi."
Mama Herna mencari cari ponselnya yang tengah berdering dan rupanya pengacara Hidayat lah yang menelpon.
__ADS_1
"Halo nyonya,,, suratnya sudah jadi dan bisa segera ditandatangani."
"Kebetulan kalau begitu. Nanti saya,,,"
"Sekarang ma,,, bukan nanti!!" bisik Hana memotong bicara mama Herna.
"Halo,,, nyonya??"
"Eh iya pak Hidayat,,,Bisa datang ke rumah saya sekarang juga? Saya ingin segera menandatanganinya dan Hana biar bisa segera menjalankan tugasnya menggantikan putra saya." pinta mama Herna.
"Baik nyonya." obrolan diakhiri dengan sebuah senyum manis yang tersungging di wajah Hana.
"Terima kasih ma." ucapnya.
"Iya sayang sama sama." mama Herna menggenggam tangan Hana lembut.
"Mama sebenarnya sudah gak sabar ingin kamu menikah dengan Dion. Tapi mau tidak mau mama memang harus bersabar mengingat kondisi Dion." keluh mama Herna.
"Hana juga ingin segera jadi istri Dion ma. Sudah saatnya Hana membuktikan pada dunia bahwa satu satunya wanita yang tetap bertahan dan mencintai Dion itu adalah Hana. Semoga Dion suatu hari nanti akan bisa mengerti ya ma." ucap Hana.
"Semoga ya sayang." mama Herna tersenyum.
"Ya udah ma. Sana beresin baju baju mama sendiri ya. Hana masih banyak kerjaan di sini."Hana mengingatkan.
"Loh katanya mau kamu bantuin nanti?"
"Ini saja masih seabrek gini gimana bisa cepat selesai. Udah deh mama belajar jangan manja. Kerjakan sendiri semuanya. Jangan terus bergantung. Harus terbiasa begitu mulai sekarang. Kalau bukan mama sendiri siapa yang akan urus diri mama? Hana sudah sibuk dengan urusan lainnya." ketus Hana.
"Iya Han." pasrah dan mengelus dada saja yang bisa dilakukan mama Herna.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1