
"Ini kue anda tuan, sudah lama anda tidak kemari tuan Dannis", ucap salah satu karyawan toko yang sudah lama mengenal Dannis sebagai pelanggan mereka.
Nara bernapas lega ketika tahu bahwa pria itu tidak sedang memanggilnya, ia merasa beruntung saat ada salah satu pelayan toko yang melayani Dannis di sana.
Nara berjalan cepat bersembunyi di salah satu etalase kue yang lain tidak jauh dari Dannis berdiri, ia belum siap untuk bertemu Dannis kembali ia takut akan semakin sulit melupakan pria itu jika mereka kembali bertatap muka secara langsung.
Nara bersembunyi namun matanya mengintip di sela etalase, dimana ia bisa melihat kembali wajah pria yang sangat ia rindukan.
"Aku merindukanmu tuan Dannis, sangat merindukanmu.... kau bahkan tampak baik-baik saja, apa kau sudah melupakan ku?", gumam Nara pelan yang hanya terdengar oleh telinganya saja.
"Hai Dannis, tidak biasanya kau memilih kue yang ini apa untuk seseorang? bukankah kau biasa memilih kue cokelat saja seperti biasa", ucap salah seorang karyawan senior yang telah lama bekerja di sana yang ternyata adalah teman Dannis saat SD dulu menghampiri pria itu.
"Entahlah, aku tiba-tiba menyukai yang ini tampilannya cantik, secantik istriku", jawab Dannis terkekeh.
"Sial, kau sudah menikah? kenapa tidak mengundangku?", teman Dannis tersebut heran.
"Belum lama, tenanglah aku akan mengadakan resepsi tidak lama lagi", jawab Dannis tersenyum.
Mendengar itu, Nara menjadi berkaca-kaca sendiri.
"Apa dia sudah menikah lagi? tidakkah itu terlalu cepat? huh..... apa nona Nesya yang menggantikanku? dia benar-benar tidak menginginkan ku sedikit pun, dia dengan mudahnya menikah lagi dalam waktu dua minggu, bahkan wajahnya sumringah ketika menyebutkan kata istri", gumam Nara lagi yang sudah tampak menahan tangis.
"Aku merasa dia melupakanku dengan mudah, tidak seperti pungguk yang menyedihkan ini terus merindu setiap malam, kau memang menyebalkan tuan Dannis, tidak secepat ini juga bukan? oh aku kesal, aku cemburu, ternyata aku benar-benar cinta sendirian selama ini", gumam Nara menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal sambil berjalan menuju belakang.
"Nara... kau kenapa?", tanya salah satu temannya sesama pelayan di sana.
"Aku sedih, pria itu dengan mudahnya melupakanku, menikah lagi dengan perempuan yang sangat menyebalkan untuk ku ingat, oh aku kesal Maya, sangat kesal, aku mencintainya dia tidak mencintaiku", Nara terus mengoceh meski mereka sudah di belakang.
__ADS_1
Membuat gadis yang bernama Maya itu tercengang mendengarnya.
"Aku tidak menyangka bahwa ada yang menolak perempuan secantik kau Nara", ucap Maya terkekeh melihat raut kesal Nara yang menggemaskan, istri Dannis itu marah-marah sambil mengunyah kue yang telah dihiasnya tadi.
"Iya kau benar, aku cantik, baik, pandai mengerjakan tugas rumah, pandai pula menghias kue seperti sekarang, tapi itu tidak cukup bagi pria kaya dan berpendidikan seperti dia Maya, dia bilang masih mencintai kekasihnya yang sudah mati, tapi dia malah menikah dengan kakak gadis itu, apa itu tidak terlalu kejam namanya? Mayaaaaaaa aku kesal", Nara berkata sambil menangis namun mulutnya tidak berhenti mengunyah.
"Menangis ya menangis saja, jangan menghabiskan kue ini juga.... bagaimana jika kau tersedak? lagi pula kau masih ada tuan Reno bukan? kenapa tidak kembali padanya?", Maya menarik kotak kue dari hadapan Nara sambil geleng kepala.
"Tidak, aku tidak akan kembali pada mantan", jawab Nara cepat.
"Apa bedanya dengan dia? bukankah dia juga akan menjadi mantanmu?".
"Dia berbeda, aku mencintainya", jawab Nara menggigit bibir bawahnya.
"Huh percuma bicara padamu", Maya mencubit pipi Nara dengan geram.
Nara mencuci wajahnya, menetralisir perasaannya yang sedih saat mendengar bahwa Dannis telah menikah lagi menurut anggapannya.
Setelah makan siang dan istirahat, Nara kembali ke pekerjaannya, ada banyak pelanggan dan pembeli yang membeli kue dengan lalu lalang siang ini membuat semua pelayan sedikit lebih sibuk dari biasa tentu karena ini sudah memasuki akhir pekan.
"Nara, bisakah kau mengantarkan pesanan ini di meja tunggu no 04", ucap salah satu temannya meminta bantuan sambil menunjuk arah seseorang yang duduk membelakangi.
Nara mengangguk dan menerima beberapa kotak kue yang sudah dikemas seperti sebuah hadiah.
"Permisi nyonya, ini kue anda", ucap Nara dengan sopan.
"Oh ya, terimaka.......", ucapan nyonya tersebut menggantung saat menatap wajah Nara.
__ADS_1
Mereka saling menatap lama.
"Nara?".
"Bibi?".
Perempuan hampir paruh baya namun dengan dandanan orang kaya itu berdiri dari duduknya, berdiri menghadap Nara dan menatap dengan seksama.
Nara mengangguk dan memecahkan tangisnya di sana.
"Iya ini aku Nara bi".
Perempuan itu langsung menarik Nara dalam pelukannya, mereka sama-sama menangis sekarang.
Nara benar-benar menangis seperti anak kecil, lama saling memeluk perlahan perempuan itu melepas dan menghapus airmata Nara dengan sayang.
"Jangan katakan apa-apa, sungguh bibi tidak menyangka bertemu dengan mu sayang, ayo pamanmu sedang menunggu di mobil kita bisa bicara bertiga, kau tahu kami sangat lama menantikan pertemuan ini", ajak bibi itu tanpa basa basi.
Nara mengangguk tanpa banyak berkata, mereka menuju ke halaman toko dimana seorang pria paruh baya dengan tampilan sederhana namun berkelas itu sedang bicara lewat telepon.
"Harun, lihat aku bersama siapa sekarang", panggil istrinya.
Pria itu menoleh langsung pada sosok Nara yang tentu telah menangis lebih kencang dari sebelumnya.
"Paman".
Nara langsung berhambur memeluk paman yang tidak bergeming dari tempatnya setelah hampir lima tahun tidak bertemu.
__ADS_1