
Nara memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam lalu ia keluarkan perlahan, ia lakukan itu secara berulang agar dadanya bisa bernapas seperti biasa lagi.
"Huh kenapa aku bisa kehilangan rasa malu seperti itu?", gumam Nara menggigit bibir bawahnya malu sendiri.
Gadis ini merutuki ungkapan perasaannya pada Dannis terlebih ia tidak mendapat respon berarti dari pria itu bahkan Dannis terlihat menghindar, namun tidak Nara pungkiri dadanya sedikit lebih ringan daripada memendamnya sendirian.
Nara membaringkan lagi tubuhnya yang masih lemas, pikirannya menerawang jauh akan nasib pernikahan yang sungguh tidak ingin ia permainkan namun juga hingga dua bulan berlalu tidak juga mengalami kemajuan dalam hubungan itu.
Dannis masih sama, masih mencintai mendiang kekasihnya saja tanpa bisa tersentuh sedikitpun, namun Nara sedikit bahagia setidaknya sikap pria itu tidak sejahat diawal pernikahan.
Hingga lelappun menghampiri gadis yang membiarkan rambutnya terburai dan beberapa menutupi sebagian wajahnya, seperti biasa Nara tertidur dengan mulut terbuka.
Tidak lama berselang, Dannis kembali ke ruangan dimana istrinya tengah tertidur di sana.
Dannis duduk di samping perempuan cantik itu.
"Apa tidak kering tenggorokannya tidur seperti ini?", gumam Dannis menutup mulut Nara. Namun gadis itu malah menggeliat.
"Bangunlah, ayo aku antar kau pulang", ucap Dannis menggoyangkan tubuh Nara.
Nara menggeliat malas, matanya terbuka menatap pria yang belum menjawab perasaan cintanya tadi.
Gadis ini mendudukkan diri.
"Jawab dulu", ucap Nara tiba-tiba.
"Jawab apa?".
"Jawab perasaanku", sambung Nara lagi.
"Jangan bercanda, ayo pulang", ajak Dannis yang sudah berdiri.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, bisakah aku memiliki kesempatan memenangkan hatimu? tentu semua perempuan bercita-cita untuk menikah satu kali seumur hidup termasuk aku, tidak bisakah kita saling membuka diri tuan? kita terikat pernikahan bukan permainan yang bisa diakhiri kapan saja", ucap Nara serius.
Dannis terdiam, lalu pria berkata.
"Aku sedang banyak pekerjaan, bukan waktu yang tepat membahasnya, ayo bergegaslah".
__ADS_1
"Apa salahnya hanya menjawab bisa atau tidak", umpat Nara kesal.
"Apa kau yakin ingin mendengarnya sekarang?", tatap tajam Dannis dengan mata elangnya.
Membuat Nara menggelengkan kepala cepat.
"Tidak, tidak tidak perlu dijawab sekarang.... huh aku yakin jawabnya pasti tidak, itu akan membuatku malu karena ditolak mentah-mentah oleh suamiku sendiri, baiklah lupakan anggap aku tidak pernah mengatakan perasaan ku tadi".
"Aku tahu itu akan sia-sia, ini memalukan.... aku mohon tuan jangan mengatakan pada siapapun apalagi pada nona pacar pura-pura mu itu, dia akan menertawaiku akan hal ini", umpat Nara kesal sendiri, ia berdiri bahkan berjalan meninggalkan Dannis yang masih tidak bergeming di belakangnya.
"Baiklah, mari pulang", ucap Nara lesu.
Dannis tersenyum tipis menatap punggung Nara yang menjauh.
Sampai pada mereka berada dalam perjalanan pulang, sama-sama diam dalam keheningan.
******
Seminggu berlalu sejak Nara mengungkapkan perasaannya, gadis ini mencoba bersikap biasa meski terlihat semakin canggung karena Dannis terkesan menghindarinya.
Namun pada kenyataan Dannis memang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk mengharuskan pria itu bekerja lebih ekstra.
Nara menunggu Dannis pulang, karena tidak pernah selarut ini, bahkan jam sudah menunjukkan lebih dari tengah malam.
Berjalan kesana kemari, bahkan Nara tidak merasa takut menunggu di luar rumah, ia melihat dari halaman tidak juga tanda-tanda mobil Dannis datang.
"Terserah kau pulang atau tidak, aku sudah tidak tahan.... aku sangat mengantuk", gumam Nara seraya menguap beberapa kali.
Akhirnya gadis ini tertidur di ruang tamu, memakai pakaian yang menguntungkan bagi nyamuk.
Dannis pulang dalam keadaan mengantuk, ia dibuat terkejut saat melihat Nara meringkuk di sofa ruang tamu, matanya yang semula sayu kembali membesar oleh pandangan di hadapan matanya, dimana Nara tidur dengan beberapa nyamuk menggigitnya.
"Bangunlah, kenapa kau tidur di sini?", Dannis menggoyangkan badan istrinya.
Nara membuka mata, lalu menatap Dannis dengan mata sipit.
"Tuan sudah pulang?", Nara segera duduk.
__ADS_1
"Kenapa tidur di sini, apa kau tidak lihat banyak nyamuk".
"Aku menunggumu, kenapa kau pulang selalu larut seminggu terakhir?".
"Jangan pedulikan aku, banyak pekerjaan jadi meski aku jelaskan pun kau tidak akan mengerti", Jawab Dannis enteng.
"Baiklah, maaf jika aku peduli padamu, aku hanya ingin memastikan bahwa kau pulang dalam keadaan baik. Aku akan kembali ke kamarku, selamat dini hari", ucap Nara lesu sambil berdiri berjalan meninggalkan Dannis yang kembali dibuat tercengang.
Namun belum beberapa langkah, Dannis menarik tangannya.
"Apa lagi? aku mengantuk", gerutu Nara menatap Dannis kesal.
"Tidurlah bersamaku".
Kata yang mampu membuat mata Nara membesar sempurna.
"Apa?", wajah cantik itu tiba-tiba merona.
"Jangan GR, aku lelah sepertinya aku butuh nyanyianmu", jawab Dannis menahan tawa.
Nara menghela napas kasar.
"Ini dini hari, yang bernyanyi di jam seperti ini bukan manusia tapi hantu", gerutu Nara lagi.
"Anggap saja kau hantunya".
"Apa?".
"Iya, hantu cantik".
"Kau mengakui jika aku cantik?".
"Tidak juga".
"Tuan Dannis", rengek Nara.
Dannis tidak menjawab pria itu hanya terkekeh, ia terus menarik tangan istrinya menuju kamar, Nara terus mengulum senyum saat mengikuti langkah Dannis.
__ADS_1