Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 60


__ADS_3

Abrar dan Alea sampai di rumah sakit sudah hampir tengah malam, Alea terus tersenyum menggenggam tangan suaminya menuju ruang ICU dimana papa Agung tengah berada disana, Alea bahagia pada akhirnya pria ini mampu meruntuhkan ego yang ia jaga selama ini hanya karena sebuah kesalahan yang setiap pria bisa saja melakukannya termasuk Arkan yang telah nyata mengikuti jejak ayahnya yang bermain hati dengan dua perempuan.


Namun Alea cukup sedih kenapa baru sekarang suaminya mengalah dan mau menerima kenyataan disaat papa Agung sudah benar-benar berada di titik terbawah hidupnya, pria tua itu tidak akan bertahan lama jika mengingat sakit yang kian menggerogotinya, namun tiada yang tahu keajaiban bukankah umur berada di tangan Tuhan bukan di tangan dokter meski kecil kemungkinan Alea tetap berharap bahwa papa mertuanya ini bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama kedua putra yang selama dua puluh tahun ini tidak pernah berjumpa apalagi menyaksikan tumbuh kembang hingga mereka dewasa dan sudah sama-sama menikah seperti sekarang.


Berbeda dengan Abrar, lelaki ini kian gugup ketika mendekati ruang icu tersebut, semula langkahnya begitu cepat namun sekarang kian pelan ketika sudah berada di hadapan tulisan ICU yang terpampang jelas didepan matanya, Alea menggenggam tangannya memberi dukungan.


"Ayo.....tunggulah disini sebentar, aku akan menemui seniorku yang menjadi dokter jaga malam ini agar kita bisa menjenguk karena ini bukan jam besuk" Ucap Alea pelan, suaminya mengangguk setuju dan pria itu pun hanya bisa menunggu disana, matanya melirik pada dua perempuan yang tengah tertidur di ruang khusus tunggu bagi keluarga pasien ICU yang berada tepat di samping ruangan, ada banyak keluarga pasien lain disana, karena ruang tunggu itu dibuat besar untuk menampung semua keluarga yang sedang menunggu pasien yang entah kapan akan sadar atau keluar dari sana.


Tampak Naura dan mama Clara disana tertidur dalam posisi duduk, mungkin dua perempuan ini tidak bisa menahan kantuknya hingga tertidur dalam keadaan seperti itu, hati Abrar bergetar melihat adik gadisnya yang meringkuk dengan tangan bersedekap di dada menahan dingin, sungguh ia merasa menjadi pria jahat yang sudah sengaja menutup mata selama kebenaran itu terungkap, bahkan sudah sepuluh hari papa Agung dirawat sejak sakitnya namun ia sungguh merutuki kenapa hatinya baru terbuka malam ini dimana keadaan sang ayah sudah sangat tidak berdaya.


Lama ia menatap Naura, kemudian perhatiannya beralih pada Alea yang kembali padanya dan menarik tangannya pelan.


"Sayang....kau bisa masuk sekarang, aku akan mengantarkanmu" ucap Alea mengangguk menatap suaminya.


Abrar tidak berkata-kata, ia hanya mampu menganggukkan kepala mengikuti Alea yang sudah membuka pintu ruang ICU tersebut, kembali hati pria ini merasa terhimpit ketika kakinya sudah menginjak lantai ruang sekat dari ICU tempat memakai baju besuk khusus keluarga yang ingin masuk dimana suara dari monitor yang berbunyi bersahutan antar pasien pun sudah terdengar jelas, Alea memakaikan baju berwarna biru itu ke tubuh suaminya.


Alea menarik tangan pria yang kebingungan sekaligus merasa asing dengan ruang dan berbagai alat medis disana, Abrar hanya menurut saja betapa ia terkejut melihat ada banyak pasien yang berada satu ruangan dengan ayahnya disana dengan berbagai alat menempel pada tubuh mereka, ada sembilan pasien yang menunggu keajaiban dari Tuhan agar mengeluarkan mereka dari ruangan yang menjadi ambang kematian, keluar sembuh atau mati.


Mata Abrar berpendar melihat sekeliling, sampai pada Alea berhenti membawanya pada sebuah bed pasien yang berada di sudut ruangan paling ujung, Abrar melihat jelas tubuh kurus nan tidak berdaya itu terbaring dengan mata terpejam disana, berbagai selang menempel dan sungkup oksigen dengan balon yang ia tidak tahu namanya juga terpasang dihidung pria yang sudah sangat lama tidak ia jumpai namun tentu tetap terpatri wajahnya dihati, Abrar melirik monitor yang berada disamping ranjang yang terus berbunyi lebih berisik dari yang lainnya, napasnya tercekat dadanya merasa dihimpit batu besar, lidahnya kelu namun airmatanya tidak bisa dibendung lagi.


Alea mendorong pelan tubuh Abrar agar duduk di kursi yang tersedia disana, pria itu pun hanya bisa menurut matanya tidak baralih dari wajah yang jauh berbeda ketika ia masih kecil, dimana wajah gagah yang dulu ia banggakan sekarang menjadi tirus dengan kelopak mata tampak cekung, rambut sedikit memutih dan seluruh tubuh tampak kurus dan menyedihkan, pria ini tergugu ketika meraih tangan kiri ayahnya yang terpakai infus entah berapa cabang, ia menangis menyesal karena mengabaikan pria tua itu selama sepuluh hari sejak ia tahu kebenarannya, ini sungguh jauh dari perkiraannya semula ia mengira tidak menyedihkan seperti ini namun apa yang ia lihat sekarang sungguh ia merasa menjadi pria kejam yang memakan darah dagingnya sendiri, maka darinya Abrar mencium tangan ayahnya dengan tangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Alea pun sama, ia tidak pernah melihat suaminya seperti ini ia yakin Abrar telah benar-benar menyesal akan keegoannya selama ini, Alea mengusap punggung suaminya pelan.


Abrar memeluk tubuh Alea yang berdiri dengan terisak, tubuhnya bergetar menyaksikan apa yang selama ini ia tahan.


"Sayang tenanglah.....papa butuh maaf serta doamu, jika memang ini saat terakhirnya ikhlaskan agar papa bisa pergi dengan tenang, kondisi terbaru dari papa sudah benar-benar berada paling bawah, tingkat keadarannya tinggal hitungan tiga itu artinya papa koma dengan kondisi paling rendah, hanya keajaiban yang bisa membuatnya membuka mata lagi, tapi itu sangat sulit, kau lihat monitor ini, lihatlah tekanan darahnya tidak juga membaik, nadinya terus meningkat dan cepat, saturasi oksigennya pun kian menurun kau lihat dada papa sekarang yang hanya ada napas tersengal dan satu-satu dalam setiap tarikannya, badannya tidak bergerak sama sekali atas berbagai rangsangan, papa hanya butuh doa yang terbaik untuknya jika memang ini jalan terakhir papa, kau tidak mau kan papa menderita seperti ini?"


Ucap Alea sambil menjelaskan layar monitor itu pada suaminya, Abrar menggeleng.


"Aku memang pria jahat Alea....aku anak yang durhaka"


"Tidak sayang....kau sudah berada disini sekarang, meski papa tidak sadar namun pasti papa merasakan kehadiranmu, papa pasti bahagia mendengarmu, ajak papa bicara dan bacakan doa pada telinganya bimbing dia, aku akan menunggu di luar, kita tidak boleh berisik yang akan mengganggu pasien lain, aku juga akan menghubungi bang Arkan....terus bimbing papa oke....lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" usap Alea pada punggung Abrar, kemudian ia berlalu dari sana membiarkan Abrar berkomunikasi dengan papanya dalam keheningan, memang benar kembali Abrar tergugu dengan tangisnya sambil menggenggam tangan yang tidak merespon apa-apa.


*****


Mama Clara dan Naura menangis haru mendengarnya, sungguh mereka bahagia melihat Abrar telah membuka hati untuk papa Agung, dimana mama Clara maupun Naura juga sudah ikhlas jika papa meninggalkan mereka karena sungguh menyakitkan melihat orang yang mereka cintai tengah tersiksa dan tidak juga menunjukkan kemajuan dalam kesembuhan. Mereka sudah ikhlas jika memang ini yang terbaik untuk papa Agung hanya saja mama Clara yakin bahwa papa sedang menunggu kedua putranya datang.


Alea juga sudah menghubungi Melati agar bagaimanapun caranya untuk membujuk Arkan datang sama seperti Abrar, Alea terus menenangkan mama Clara yang tidak berhenti menangis, perempuan yang seumuran dengan mama Eliana itu sungguh sedih melihat suaminya yang kian melemah dan dokter juga sudah menjelaskan semua kemungkinan yang terjadi sebab sudah sangat tidak mungkin dilakukan tindakan apa-apa pada papa Agung mengingat kondisinya dan umur yang sudah tidak muda lagi, dokter hanya menyarankan untuk terus memberikan doa agar yang terbaik bagi pasien.


Benar saja tidak lama kemudian, Arkan datang bersama Melati yang jam sudah menunjukkan pukul dini hari. Alea segera menarik Arkan menuju ruang baju besuk dan mengantarkan iparnya menuju Abrar berada, setelah itu ia segera keluar membiarka dua beradik itu mendampingi sang ayah.


Melati memeluk mama Clara dan Naura bergantian, ia sudah pernah merasa bagaimana saat-saat terakhir ibunya ketika meninggal, ia juga berharap yang terbaik bagi papa mertuanya sekarang, memang benar hanya doa yang papa Agung butuhkan sekarang.

__ADS_1


Alea dan Melati pun ikut duduk bersistirahat di ruang tunggu keluarga itu bersama mama Clara dan Naura, terlebih Alea ia memang sungguh lelah dari berbagai kegiatan koasnya dan sekarang ikut begadang di rumah sakit.


*****


Pagi menjelang, empat perempuan itu pun tidak bisa menahan kantuknya, mereka terlelap menunggu giliran Abrar dan Arkan keluar dari sana, namun tidak juga dua pria itu masih betah berada disamping ayahnya entah sebuah firasat atau bukan Alea terbangun dengan perasaan pilu dihatinya teringat wajah suami yang sungguh tampak menyesal di dalam sana.


Alea melirik mertua dan dua iparnya, inilah yang ia inginkan semuanya berdamai dengan kenyataan, yang lalu biarlah berlalu, sungguh Alea bersyukur semalam mereka mengakhiri kebencian antara anak dan ayah itu, ia menarik napas dalam kemudian berdiri hendak mencuci wajah dan berniat akan kembali masuk melihat Abrar dan Arkan disana.


Baru saja Alea selesai memakai baju besuk, ia melangkah masuk dan tampak para perawat dan seniornya yang berjaga ketika itu tengah sibuk menyiapkan alat tindakan, Alea menghampiri mereka.


"Alea....mohon doanya, papa mertuamu kian melemah, saturasi oksigennya sudah dibawah lima puluh, nadinya mulai tidak teraba, kami izin ingin melakukan tindakan pemberian napas buatan dan jika diperlukan kami akan melakukan pijat jantung, kami juga sudah meminta izin pada suamimu" ucap seniornya ketika melihat Alea.


Alea mengangguk cepat "Lakukan yang terbaik aku mempercayai kalian" jawab Alea yang sudah berkaca-kaca.


Perempuan ini memang sudah akrab dengan para dokter dan perawat ruang ICU, jadi tidak heran ia sedikit bebas masuk kesana. Alea melihat suami dan iparnya terus mendampingi sang ayah yang sudah tampak hilang timbul.


Abrar memeluknya ketika melihat Alea datang, pria kembali menangis tersedu.


"Sayang tenangkan dirimu, terus berdoa untuk papa, jika ini yang terbaik maka ikhlaskan aku senang kalian telah memaafkan papa....aku akan memberitahu mereka yang di luar, biarkan para perawat dan dokter ini melakukan tindakan untuk terakhir kalinya sesuai prosedur ruangan ini, jika memang tidak bisa kita harus benar-benar ikhlas melepas papa" Abrar mengangguk, Alea melirik Arkan yang masih setia berada di ujung kaki ayahnya memegang dan mencium kaki yang tertutup selimut itu dengan tangisnya, tampak pula dokter dan perawat tengah memberikan napas buatan, tampak pula layar monitor itu hilang timbul mengikuti siklus tindakan yang tengah diusahakan.


Alea berlari keluar, memberitahu mama Clara dan Naura serta Melati tentang kondisi papa Agung.

__ADS_1


****


Lanjut?


__ADS_2