Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Cari Perhatian


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸...


"Rinaaaaa,,,, Rinaaaaa,,,, Kemana sih nih anak?? Gak biasanya dia pergi gak pamitan dulu. Pakai gak bawa ponsel lagi. Nanti kalau Dion telpon nyariin aku harus bilang apa??? Si mbak juga,,, Lama sekali ke pasarnya. Ponselnya juga mati." gerutu mama Herna.


"Ada apa ma? Kok kayaknya mama lagi kesal gitu?" tanya Hana yang keluar dari kamarnya.


Dia bukan tidak tau Karin memang tidak ada dari tadi tapi dia hanya berpura pura tidak tau.


"Ini loh Karina,,, Pergi kemana sih dia sebenarnya? Tumben gak pamit. Perut udah besar gitu kan semestinya pahamlah kalau udah gak bisa kemana mana sendiri. Bikin orang cemas saja." mama Herna masih menggerutu.


"Mungkin dia sengaja ma." celetuk Hana.


"Sengaja?? Maksud kamu apa Han?" mama Herna gagal paham.


"Yaa kali aja dia sengaja cari perhatian dengan pergi tanpa pamit. Secara sekarang ada Hana di sini dan mungkin dia takut perhatian kalian semua tercurah ke Hana. Atau lebih buruknya,, Mungkin dia menemui seseorang yang tidak boleh kalian tau siapa dia." jawab Hana menduga duga.


"Eh masuk akal juga itu. Cari perhatian bisa jadi,,, Terus kalau menemui seseorang,,, siapa ya?" mama Herna tak punya ide.


"Ya kali aja bapak si bayi ma. Sering kan kayak di film film itu loh,,, Mau melahirkan nemuin bapak si bayi dulu untuk menekankan jangan datang dan mengacaukan kebahagiaannya. Atau mungkin menyerahkan sejumlah uang pada lelaki itu agar terus tutup mulut." jawab Hana santai.


"Kok mama malah sama sekali gak pernah kepikiran kayak gini ya Han. Padahal dulu Dion udah pernah ketipu dan harusnya mama lebih selektif memilih menantu. Bukan main terima terima aja begini."


"Yang benar itu seharusnya mama tau kalau hanya Hana yang cocok mendampingi Dion." tambah Hana dengan senyum percaya dirinya.


"Kalau yang itu sudah pasti dong mama tau makanya mama berusaha menyatukan kalian kembali. Biar suatu saat pas Dion sudah tau belangnya Karina sudah ada kamu yang akan siap menghiburnya. Mama yakin sekarang Dion kesal sama mama atau kamu tapi suatu saat,,, dia akan berterima kasih pada kita. Harus disadarinya bahwa hanya kita berdua yang ingin dia bahagia. Bukan begitu sayang?" mama Herna meraih tangan Hana.

__ADS_1


"Pastinya ma." Hana menggenggam erat tangan mama Herna.


"Rasakan kamu Rin,,, Sudah semenderita apa kamu saat ini? Semoga bayimu gak selamat dan bila perlu kamu juga gak selamat." batin Hana meski bibirnya terus tersenyum pada mama Herna.


Di rumah sakit Dion yang masih terus mengagumi mahkluk mungilnya itu baru ingat untuk bertanya pada Karin kenapa dia tidak ke rumah sakit dengan mamanya saja.


"Kenapa malah si mbak sih sayang?" tanya Dion.


"Tadi Karin udah panggil panggil mama tapi gak ada jawaban om papa. Mungkin mama lelah dan istirahat jadi gak dengar suara Karin." jawab Karin menutupi bahwa sebenarnya mama Herna sedang di kamar Hana.


"Tapi tetap saja mama lengah namanya kalau begini ini. Bayangkan kalau gak ada si mbak gimana coba??" protes Dion.


"Sudah om papa sudah. Jangan rusak kebahagiaan kita hari ini dengan menyesali yang sudah terjadi. Bukankah lebih baik om papa segera kabarkan kabar baik ini ke papa dan mama? Mereka tentu bahagia mendengarnya." ujar Karin.


"Baiklah sayang. Om papa kabari mereka dulu ya."


Dalam hatinya sebenarnya Karin menyesalkan kenapa sepertinya mama Herna sengaja mengabaikan panggilannya. Padahal dia benar benar butuh pertolongan tadi. Beruntung si mbak sudah balik dari pasar dan segera membawanya ke rumah sakit.


Dengan kondisi pecah ketuban di awal bisa saja membahayakan ibu dan bayinya kalau tidak segera mendapatkan pertolongan. Tapi Karin tidak mau Dion tau dan malah marah pada mamanya.


"Biarlah. Yang penting sekarang baby Del sudah lahir dengan selamat tanpa cacat apa pun. Aku juga bersyukur masih bisa melahirkan secara normal jadi aku bisa pulih lebih cepat dan merawat baby Del sebaik baiknya." begitu batin Karin.


Dion mengaktifkan ponselnya yang sengaja dinonaktifkannya tadi ketika menunggu Karin lahiran. Dia tidak mau urusan kantor dan lain lain mengganggunya.


Baru saja aktif langsung ada panggilan masuk dari mama Herna.


"Ya ma,,," Dion menjawab telpon dengan semangat.

__ADS_1


"Istri kamu itu,,, Makin berani ya sekarang pergi tanpa pamit sama mama. Sudah tidak menghargai mama apa bagaimana maksudnya?? Tidak paham ya kalau kondisi hamil tua begini itu bahaya keluar sendirian. Mau cari perhatian juga gak segininya ya caranya. Kasih tau itu istrimu,,," sungut mama Herna.


Dion bukan orang bodoh yang tidak langsung mencocokkan ucapan istrinya tadi dan mamanya.


"Kenapa beda versinya? Tadi Karin bilang mama yang gak dengar saat dipanggil panggil tapi ini kok mama malah marah marah karena Karin gak ada di rumah? Mama juga aneh,,, langsung marah marah saja tanpa tanya dulu apa aku tau dimana Karin,,, isi bilang Karin cari cari perhatian. Kenapa ini sama mama??" pikir Dion.


"Halo,,, Dion,,, halooo kok malah diam saja sih??" suara mama Herna menyadarkan Dion dari pikirannya.


"Harusnya itu Dion yang marah marah sama mama karena mama bisa bisanya membiarkan Karin ke rumah sakit cuma ditemanin si mbak. Mana tanggung jawab mama sama istri Dion dan cucu mama?? Memangnya mama ngapain aja di rumah tadi kok bisa sampai gak tau kalau cucu mama sekarang udah lahir??? Anak dan istriku pergi ke rumah sakit cuma ditemani si mbak dan itu bikin Dion kesal sama mama.!!"


Dion yang paham sekarang balik marah. Dion bisa menebak apa yang terjadi di rumah tadi. Mamanya pasti keasyikan dengan Hana sampai tak peduli pada Karin.


"Apa?? Karin sudah melahirkan?? Tanpa bilang sama mama?? Pergi begitu saja sama si mbak?? Tuh kan istrimu itu emang lagi cari perhatian dan gak menghargai keberadaan mama lagi." mama Herna malah marah lagi.


"Cukup ma. Jangan salahin Karin lagi dan jangan coba coba membuat buat masalah dengan Karin.Hari ini hari bahagia Dion sama Karin jadi mama jangan mengacau." pinta Dion.


"Halah,,, belum tentu juga bayi itu beneran anak kamu kok kamu segitunya membelanya." sanggah mama Herna.


"Astaghfirullah ma,,, Istighfar ma. Mama kok makin keterlaluan gitu sih??" seru Dion.


"Bisa saja kan apa yang menimpa kamu sebelumnya terulang lagi. Mama cuma belajar dari masa lalu. Tapi apa pun yang terjadi ke depannya,, mama harap kamu jangan lupa,, masih ada Hana di sini. Yang jelas jelas mampu dan bisa bahagiakan kamu seperti sebelumnya." tutup mama Herna.


"Hana,,, jadi dia biang keroknya." Dion dengan cepat bisa memahami situasi.


...🌹🌹🌹...


...Kok jadi geregetan nih author sama si mama,,, Kalian gregetnya sama siapa nih?? Jangan aja sama author ya πŸ˜€...

__ADS_1


Pliss send like, hadiah, vote dan komen buat author ya 😘


__ADS_2