Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 71


__ADS_3

"Apa ku bilang, dia lebih pantas jadi pacarmu dari pada istrinya kak Dannis", bisik Syasya terkekeh pada adik bungsunya Baim yang tampak cuek memainkan ponselnya.


"Kau kalah cepat dari kak Dannis", ucap gadis yang akan menjadi dokter gigi tidak lama lagi itu.


Baim sebenarnya malas untuk ikut berkumpul keluarga, karena mama El memaksa sebab semua keluarga akan hadir.


Rumah besar Kemal dan Eliana ramai oleh kerabat dekatnya, sudah seperti sedang ada acara besar saja.


Nara menjadi ciut saat berhadapan dengan orangtua Reno yang hampir menjadi mertuanya jika mereka menikah.


Karin tampak dingin padanya, wanita itu tentu masih ingin menyangkal bahwa Nara memang bukan menjadi istri anaknya namun bisa menjadi istri keponakannya saat ini.


Di tengah semua keluarga yang berbaur satu sama lain, menerima Nara dengan baik di dalamnya, namun entah kenapa gadis ini tetap merasa sendiri di sana.


Ia merasa tidak seharusnya berada di sana mengingat bahwa Dannis tidak menginginkan gadis itu hingga sekarang, terasa percuma diterima semua anggota keluarga namun tidak diterima dalam hidup suaminya.


Beruntung gadis kecil milik Alea dan Abrar terus mengikutinya sejak tadi, Aira benar-benar menyukai Nara, karena itu pula Nara menjadi lebih betah dan bahagia berada di sana.


"Apa kau belum hamil?", tiba-tiba Delila menghampiri iparnya itu yang sedang meladeni Aira.


Nara menelan ludah karena pertanyaan itu.


"Hmmm belum, selamat atas kehamilan mu", jawab Nara canggung.


"Bersabarlah, mungkin kau perlu liburan jika ingin cepat hamil kau tidak lihat kakakku begitu sibuk, aku rasa itu yang menyebabkan kalian kekurangan waktu intim berdua, nanti ku usulkan pada kak Dannis oke, hamil itu menyenangkan", sambung Delila lagi.


Nara hanya bisa menyengir saja, ia bingung kenapa semua anggota keluarga terutama adik-adik Dannis bertanya tentang kehamilan padanya.


"Bagaimana bisa hamil, aku saja masih bersegel hingga sekarang", gerutu Nara dalam hati, ekor matanya melirik Dannis yang sedang bicara dengan Iqbal.


Mereka bertukar cerita, Nara sungguh bahagia Delila menerimanya dengan baik.


"Kau tahu menjadi istri tentara itu tidak mudah, meski aku jauh dari keluargaku tapi aku bahagia hidup dengan pria yang mencintai ku apa adanya, kau tahu aku tidak suka dapur", ucap Delila terkekeh.


Nara tersenyum mendengarnya.


"Kenapa suamimu tidak ikut pulang?".


"Biasa, inilah tidak enaknya menjadi istri seorang prajurit, aku dimadu oleh negara. Tentu saja dia lebih mementingkan tugas ibu pertiwi", jawab Delila tertawa.


Lagi-lagi Nara dibuat kagum, Delila yang terkenal manja dan suka belanja barang mahal serta hidup bak seorang putri, namun perempuan itu mau dan menerima bertahan hidup tinggal di asrama tentara yang pasti sangat jauh dari kehidupan mewah sebelumnya hanya karena mengabdi pada seorang suami.


"Aku salut padamu", ucap Nara tersenyum.


"Aku juga salut padamu, bagaimana bisa kau membuka hati kak Dannis? pria itu hampir gila karena kecelakaan itu, sekarang aku lihat dia jauh lebih baik setelah menikah, terimakasih sudah membawa pengaruh baik untuk kakakku", Delila menggenggam tangan Nara dengan haru.


Nara kembali tersenyum canggung dibuatnya, sampai pada ia merasa ingin ke kamar mandi dan segera berlalu ke sana.

__ADS_1


Setelah keluar ia dikejutkan oleh pria yang akan menjadi saudara iparnya beberapa hari lagi.


Nara segera menunduk hormat.


"Bisakah kita bicara sebentar?", ucap Iqbal tanpa basa basi.


"Apa?", Nara tentu terkejut.


"Semua orang sedang sibuk, ayo ke teras sebentar, aku ingin bicara padamu".


Nara hanya mengangguk saja, ia pun mengikuti langkah calon suami Sheira menuju teras samping rumah mertuanya.


"Ada apa?", tanya Nara penasaran.


"Kau tidak mengenalku?", tanya balik Iqbal.


Nara menggeleng heran dengan pertanyaan itu.


"Kita baru bertemu malam ini, bagaimana bisa saling kenal?", jawab Nara seadanya.


"Apa kau tidak tahu kita hampir berjodoh, hmmm maksudku dijodohkan", ucap Iqbal ambigu.


"Apa?", Nara hampir menjatuhkan rahangnya karena terkejut.


"Apa maksudmu?", tanya Nara lagi.


"Iya kita hampir dijodohkan oleh orangtuaku dan pamanmu".


"Kau Khinara Aldaniah bukan?".


Nara mengangguk dengan tatapan penuh tanya bagaimana calon suami Sheira bisa mengetahui nama panjangnya.


"Itu artinya aku tidak salah orang, aku mengenalimu meski hanya melihat mu lewat photo ketika itu", jawab Iqbal lagi.


Nara mencoba bernapas perlahan dan mencerna apa yang sedang mereka bicarakan.


"Pamanmu, paman Harun adalah rekan bisnis orangtuaku. Mereka bersahabat lama hingga ingin menjodohkan kita karena paman Harun tidak ingin kau terus hidup dengan ibu tirimu".


Nara menutup mulutnya terkejut.


"Paman Harun? kalian mengenalnya? ya Tuhan....", Nara mengusap wajahnya, ia ingin menangis sekarang.


"Paman ku sudah meninggal".


"Meninggal? kapan?", Iqbal pun terkejut.


"Tahun lalu, aku juga tidak tahu kata ibuku paman Harun meninggal di negeri jiran karena sakit, aku telah lama tidak bertemu jadi aku hanya mendengar kabar dari ibu tiriku saja".

__ADS_1


"Tahun lalu? sedang kita dijodohkan saja enam bulan lalu, paman Harun tampak sehat sampai beberapa bulan lalu masih bertemu dengan keluargaku, kau sudah dibohongi, bahkan perjodohan kita batal karena kabarnya kau telah menikah dengan tuan tanah di desamu, itulah kenapa paman Harun enggan untuk pulang karena ibu tirimu selalu menutup akses untuk bertemu dengan mu".


"Apa? Ibu dan Ranti membohongiku lagi, bahkan untuk hal sebesar ini, hidup dan mati seseorang tidak untuk dipermainkan, kalian benar-benar jahat", sungguh Nara menangis sekarang mengingat wajah ibu dan saudara tiri nya.


Pada kenyataannya Iqbal banyak tahu tentang Nara karena mereka hampir dijodohkan jika saja ibu tiri Nara tidak berbohong kala itu, entah apa alasannya paman Harun yang adalah kakak dari ibu kandung Nara tidak ia beri akses bertemu dengan gadis itu selama ia menikah dengan ayah Nara.


Paman Harun yang memang tinggal di luar negeri sejak menikah, ia tidak memiliki anak perempuan jadi ketika hendak dijodohkan dengan Iqbal maka pria yang memiliki beberapa hotel di negeri jiran itu pun selalu teringat keponakan kesayangannya Nara dan berniat menjodohkan mereka saat ia pulang kampung.


Iqbal menceritakan semuanya sampai pada batalnya mereka berjodoh, enam bulan lalu sebelum pria ini bertemu dengan Sheira calon istrinya.


Nara menangis tersedu.


"Tenanglah, kenapa kau bertambah menangis?", tanya Iqbal.


"Aku tidak tahu harus bicara apa sekarang, aku bahagia sungguh ketika mendengar bahwa pamanku masih hidup bahkan sehat hingga sekarang", ucap Nara tersedu.


"Dia pamanku satu-satunya, ayahku anak tunggal, hanya dia kakak ibuku namun sayang paman Harun memang sudah pergi jauh sejak aku masih kecil, kami hanya bertukar kabar lewat ponsel, namun aku hanya bisa menghubunginya sampai aku SMP saja, selebihnya hanya mendengar kabar dari ayah dan ibu".


Nara mengusap wajahnya yang basah.


Iqbal senang bahwa Nara baik-baik saja sekarang.


"Paman Harun mengatakan dia kecewa padamu karena kau menikah tanpa menunggunya pulang terlebih kau menikah sebelum menyelesaikan kuliahmu tapi aku heran kau ternyata menikah dengan kak Dannis, itu jauh dari kabar yang ku dengar kau menikah dengan tuan tanah yang sudah tua di desamu", ucap Iqbal lagi.


"Apa? kuliah? Jangankan kuliah, lanjut SMA pun tidak, bagaimana bisa ayahku berbohong sejauh itu", jawab Nara dengan nada terendahnya sungguh Nara kecewa terhadap ayahnya.


Iqbal tercengang mendengar kenyataan yang sangat jauh dari pikirannya tentang Nara.


"Aku bahagia Iqbal, terimakasih kau sudah bertemu denganku malam ini, setidaknya aku tahu aku tidak seorang diri sekarang, aku tahu kemana aku harus pulang", jawab Nara masih dengan tangis harunya.


"Pulang?", tanya pria itu bingung.


"Ayo Iqbal, beritahu aku dimana pamanku, cepat mana nomor ponselnya biar ku hubungi sekarang, ayo cepat aku sudah tidak sabar", ucap Nara menggebu-gebu seraya menghapus airmatanya.


Pria itu terdiam.


"Ayo mana?", desak Nara.


"Maaf Nara, kami hilang kontak beberapa bulan lalu sejak kami sekeluarga menetap di kota sebelah", jawab Iqbal lesu.


"Apa?", Nara kembali memecahkan tangisnya.


Tanpa mereka sadari Sheira menatap keduanya penuh tanya, gadis itu mencari keberadaan calon suaminya dan sungguh ia terkejut saat mendapati prianya sedang bersama Nara.


"Sayang, kau di sini?", panggil Sheira pada Iqbal.


Iqbal dan Nara menoleh berbarengan, segera Nara menghapus airmatanya.

__ADS_1


Sheira mendekat menatap keduanya bergantian.


"Nara? kau menangis".


__ADS_2