
Dannis tersenyum tipis saat mendapati Nara dan keponakannya telah tertidur di kamarnya, terlebih netra lelaki itu menatap lama wajah Nara yang tertidur dengan gaya khasnya yaitu dengan mulut terbuka.
Pria itu memilih pergi dari sana tanpa mengganggu, ia keluar kamar menuju ruang kerjanya berada.
Khinara mengerjapkan mata berkali-kali, ia menguap dan segera duduk dari baringnya, ia masih mengumpulkan nyawa beberapa saat kemudian ia baru tersadar bahwa ia tidak mendapati lagi gadis kecil yang tidur dipangkuannya tadi.
"Aira", gumam Nara segera berdiri dari ranjang milik Dannis.
Lalu ia memukul keningnya pelan, saat melihat jam dinding yang menunjukkan waktu sudah malam.
"Huh.... kenapa aku bisa tidur sangat lama?", gerutu Nara pelan.
Ia segera menunduk saat Dannis masuk ke kamar.
"Aira sudah pulang", ucap Dannis datar.
"Maaf tuan aku baru bangun, baiklah aku akan keluar sekarang", pamit Nara.
Dannis diam saja saat Nara melewatinya, mata pria itu tidak berpaling dari gadis yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu.
Lelaki sulung dari pasangan Eliana Kemal itu memilih untuk berbaring di ranjangnya dengan mata menatap langit-langit kamar berbantalkan kedua tangannya, entah apa yang sedang ia pikirkan, namun terlihat dari sorot mata elangnya bahwa pikirannya berkelana jauh memikirkan sesuatu yang mengganggu irama jantungnya akhir-akhir ini.
*******
Dannis yang memang tidak bisa memejamkan matanya dikala malam hari oleh karena mimpi buruk yang kerap datang sejak kecelakaan beberapa bulan lalu yang menghilangkan nyawa wanita yang sangat ia cintai.
Pria itu merasa haus yang mengganggu pekerjaan yang sedang ia tangani di laptop miliknya, ia keluar kamar menuruni anak tangga berniat menuju dapur berada.
Namun ia mengernyit heran saat telinganya mendengar suara seseorang yang sedang menangis tersedu yang ia yakini itu adalah suara seorang perempuan yang terdengar dari ruang televisi.
Rasa penasaran pun membawanya melangkah ke ruangan yang menjadi tempat berkumpul keluarga dimasa kecilnya dulu.
Dannis menautkan alis saat masuk ruangan gelap yang sebuah televisi tengah menyala di sana menampilkan serial telenovela yang tayang di salah satu chanel televisi dan seorang perempuan yang sedang menangis sesegukan yang duduk di sofa membelakanginya, perempuan berambut panjang itu menangis sambil memakan kacang kulit yang tersedia di sana.
"Ehem....", Dannis berdehem agar gadis yang ia yakini adalah istrinya itu segera menoleh dan menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Benar saja Nara menoleh, dan segera ia berdiri menunduk seraya menghapus airmatanya.
"Tuan Dannis..... kau kemari, maaf aku hanya menonton saja", ucap Nara takut pria itu akan marah.
Dannis tidak menjawab, ia berjalan mendekati Nara dan siapa sangka ia ikut mendudukkan diri di samping gadis itu.
"Tuan, maafkan aku.... aku hanya menonton saja, jangan marah", ucap Nara lagi saat Dannis menukar chanel televisi ke siarang yang lain.
"Ambilkan aku minum", perintah Dannis pelan.
"Baik", jawab Nara segera berlalu mengambilkan suaminya air minum.
"Huh.... padahal lagi seru-seru nya kenapa dia malah mengganggu", gerutu Nara ketika menyiapkan air minum Dannis di dapur.
Nara mencuci wajahnya dari tangis akibat menonton telenovela sedih yang ia sukai tadi sebelum kembali ke ruang tv, ia tidak ingin pria itu mengejeknya karena mata membengkak.
"Ah sial, wajahku terlihat sembab.... pasti pria jahat itu akan mengejek ku nanti", umpat Nara kesal ketika menatap wajahnya di cermin.
Gadis itu segera kembali ke ruang tv dimana Dannis telah menunggu di sana.
Nara ingin segera pergi dari sana karena ia pikir Dannis tidak ingin melihatnya.
"Mau kemana kau?".
"Maaf tuan, aku akan kembali ke kamar ku silahkan tuan menonton aku tidak akan mengganggu".
"Enak saja, kau sudah mengganggu dan membangunkan ku dengan tangisan mu yang seperti hantu itu, sekarang kau harus bertanggung jawab".
Nara menggigit bibir bawahnya.
"Apa? bertanggung jawab bagaimana? Maaf aku tidak akan mengulanginya lagi".
"Ayo nonton bersama", jawab Dannis menarik tangan Nara untuk duduk di sampingnya.
Gadis itu terkejut, ia mendadak merasa malu sendiri saat duduk di samping Dannis.
__ADS_1
Nara tampak tidak nyaman, ia sedikit bergeser ke samping dimana membuat Dannis menatapnya kesal.
"Kenapa kau menangis hanya karena menonton?", tanya Dannis heran.
"Aku hanya terharu, dramanya bagus dan sedih jadi aku ikut sedih", jawab Nara polos.
"Kampungan sekali".
"Biar saja, aku memang orang kampung jadi apa masalahnya?", gerutu Nara kesal.
"Masalahnya kau buat aku bangun dengan tangisan hantu mu itu".
"Berhenti mengatakan aku hantu, jika aku hantu itu artinya kau suaminya hantu", jawab Nara memajukan bibirnya ke depan.
Dannis berdecak, pria itu melirik Nara seraya geleng kepala.
Mereka lama terlarut dalam drama komedi yang sedang ditonton, dimana sepanjang drama hanya tawa yang tercipta antara keduanya, meski diam-diam Dannis memperhatikan wajah cantik yang masih terkikik geli fokus dengan layar kaca.
Malam kian larut, Dannis mengganti chanel tv ke film aksi kesukaannya, membuat Nara bosan namun tidak berani membantah, beberapa kali ia menguap karena mulai mengantuk.
Di saat Dannis menoleh rupanya gadis itu telah tertidur dalam posisi bersandar di kepala sofa dengan mulut mungil yang terbuka.
"Huh.... dia seperti Alea, bisa tidur dimana saja", gumam Dannis memperbaiki posisi kepala Nara yang terkulai.
Baru saja Dannis menyentuh kepala gadis itu, lebih dulu Nara meringkuk masuk dalam pelukan Dannis yang mana membuat pria itu menarik napas dalam dan memejamkan matanya sejenak.
Diluar dugaan Dannis tidak menolak, ia meneruskan tontonannya hingga akhir dengan Nara yang tidur pulas dalam dekapan pria yang memang resmi menjadi suaminya.
Dannis membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang ukuran single yang berada di kamar yang ditempati oleh Nara, gadis itu benar-benar pulas dan tidak menyadari bahwa ia telah dibawa ke kamar oleh suami sekaligus majikannya itu.
Dannis belum beranjak meski Nara telah ia baringkan di atas ranjang, lama ia menatap wajah cantik dan polos itu seraya menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Nara.
"Semakin aku memperhatikan mu, semakin sering pula wajah Naya menghantuiku..... aku rasa dia tidak rela aku menatap wanita lain, namun wajah ini mulai mengganggu pikiranku", gumam Dannis pelan dengan tangannya berani membelai garis wajah cantik yang menjadi miliknya secara sah.
__ADS_1