Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 6


__ADS_3

Nara tidak benar-benar tidur dengan baik, biar bagaimana pun ia sadar bahwa sedang berada dalam kamar hotel bersama seorang lelaki, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpanya.


Nara terus mengintip dibalik selimut, gadis ini heran sebab pria yang sedang bersamanya saat ini masih terjaga padahal sudah dini hari, itu pula yang membuatnya cemas.


"Apa dia tidak tidur semalaman? apa dia terganggu karena ada aku atau dia sedang memantau situasi untuk memakan ku? ya Tuhan... jauhkan aku dari niat jahat lelaki ini".


Gumam Nara pelan dengan pikirannya melayang entah kemana, matanya masih tak beralih dari punggung kekar lelaki yang sedang berdiri menghadap jendela yang terbuka hingga Nara pun ikut merasakan angin yang datang seakan menusuk hingga ke tulang.


Hingga pagi pun menjelang, Nara yang menahan kantuk yang luar biasa bangun dari sofa hendak ke kamar mandi, dengan kata sipitnya yang kian sayu dan berat ia melangkah tanpa menyadari bahwa ia telah menabrak sesuatu.


"Aduh....", ucap Nara mengaduh sambil memegang kepala nya.


"Jalan itu pakai mata bukan sambil tidur", suara itu mampu membuat mata Nara kembali besar.


"Ah.... tuan maaf, aku tidak sengaja maafkan aku, boleh aku menumpang ke kamar mandi?".


Nara baru tersadar bahwa ia telah menabrak dada bidang lelaki yang berdiri dihadapannya dengan wajah segar, wangi sabun dan bertelanjang dada hanya memakai handuk saja.


Membuat Nara segera berbalik badan merasa malu ketika melihatnya, gadis ini menggigit bibir bawahnya tanda ia merasa sangat canggung dan tidak terbiasa melihat pemandangan seperti ini.


"Minggirlah", ucap Dannis tak acuh.


Nara segera bergeser, ia memejamkan mata ketika Dannis melewatinya, Nara segera masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara lagi.


"Apa itu tadi, kenapa bisa pria itu tidak malu bertelanjang dada di hadapan seorang gadis?", gumam Nara dengan wajah memerah sambil memegang pipinya.


Setelah mandi, Nara kembali memakai pakaian seksi itu karena hanya pakaian itu yang ia punya untuk sekarang.


Gadis itu keluar kamar mandi begitu terkejut menatap seorang pria yang sudah berpakaian rapi sedang menyantap sarapannya membuat pipinya kembali memerah merasa malu ketika melihat pakaiannya yang serba terbuka.


Nara geleng kepala "Dia begitu tampan dan rapi, sedang aku? terlihat sekali aku gadis rendahan yang hampir menjual diri", gumam Nara mencebikkan bibirnya ke depan.


Nara memberanikan diri untuk mendekat.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?", tanya Dannis heran.

__ADS_1


Membuat Nara segera pula berdiri dan menunduk.


"Maaf tuan, aku hanya ingin ikut makan", jawab Nara polos.


"Huh..... sudah tidak tahu diri menumpang tidur, sekarang mau ikut sarapan juga? kau ini memang menyebalkan, makanlah kau membuat seleraku hilang, makan sepuasmu setelah itu pergi!", ucap Dannis dengan nada kesal.


Lalu pria yang telah rapi memakai pakaian formal inipun segera berdiri menjauhi Nara, Dannis berjalan menuju ranjang dan membuka laptop nya kembali.


Nara terdiam, ia tidak mengelak memang benar ia sedikit kurang sopan atas tingkahnya tadi, setelah melirik sarapan mewah di atas meja, tanpa berpikir panjang Nara pun duduk kembali dan segera menghabiskannya.


"Tuan kau mau kemana?", tanya Nara menghentikan langkah Dannis menuju pintu.


Membuat Dannis terpaksa berbalik badan untuk menghadap Nara yang berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Bukan urusanmu, jika kau sudah sarapan segera pergilah, aku akan bekerja jadi hanya sampai di sini saja aku membantu orang tersesat seperti mu".


Nara menunduk, ia membenarkan perkataan Dannis.


"Baik tuan, maafkan aku jika merepotkanmu, terimakasih banyak sudah mau menampung dan memberiku makan, meski aku tidak tahu harus kemana namun tenanglah tuan aku akan pergi sekarang, sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkanku dari orang-orang semalam".


Dannis hanya diam dan menatap wajah polos gadis yang tengah bicara pada nya, lalu pria ini segera berpaling ke lain arah seakan enggan mengakui bahwa gadis yang berada di hadapannya ini adalah sebuah pemandangan yang indah.


Nara hanya bisa mengangguk pelan dan mundur perlahan, ia tidak banyak berkata-kata lagi dan segera berjalan menuju pintu.


Nara memeluk tubuhnya sendiri setelah di luar kamar, gadis ini menatap penampilannya yang serba terbuka membuatnya merasa malu untuk berjalan keluar hotel, lama ia mematung di depan kamar.


Hal itu membuat Dannis yang baru saja keluar kamar berniat akan bertemu seseorang pun terkejut bahwa gadis itu masih berdiri di sana.


"Kenapa kau masih di sini?".


"Ah maaf tuan, aku merasa malu untuk keluar dengan pakaian seperti ini", jawab Nara polos.


Membuat Dannis geleng kepala kesal, tidak lama berselang ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk, lalu pria ini menatap lagi wajah gadis malang di hadapan nya itu.


Mengambil napas dalam Dannis membuka jas yang ia pakai lalu memberinya pada Nara, membuat Nara heran.

__ADS_1


"Ambil ini, pakailah setelah itu segera pergi dariku.... anggap kita tidak pernah bertemu, sudah cukup kan merepotkan ku sampai hari ini, aku sibuk tidak punya waktu untuk meladeni wanita seperti mu", ucap Dannis dengan tegas.


Nara menelan ludah namun tangannya tidak menolak jas pemberian Dannis sebab ia pikir hanya dengan jas itu ia bisa berjalan keluar hotel tanpa rasa malu.


"Terimakasih tuan", jawab Nara tersenyum.


Dannis hanya diam, ia segera menerima telepon yang berdering sejak tadi.


Tanpa menghiraukan Nara, pria itu langsung berjalan menuju lift sambil terus berbicara pada ponselnya.


Nara memakai jas tersebut, namun ia baru teringat akan satu hal lalu gadis ini pun berjalan cepat menyusul Dannis yang sudah memasuki lift.


"Tuan....", panggil Nara namun sia-sia karena pintu lift sudah tertutup.


"Huh..... sebenarnya aku ingin meminta uang pada tuan itu, aku tidak punya ongkos untuk pulang kampung, aku juga tidak tahu aku berada dimana sekarang", gumam Nara tertunduk lesu.


Nara melihat sekeliling, ia hanya bisa mematung kebingungan karena tidak tahu cara menaiki lift, karena tidak ada orang lain ia terpaksa menunggu sampai ada seseorang yang akan ia ikuti saat menaiki lift.


*****


Sudah hampir setengah jam Nara turun naik lift namun belum juga menemukan jalan keluar, ia bingung dan malu bertanya pada orang-orang yang menaiki lift bersamanya.


Hingga ia bertemu dengan seorang pria yang ikut masuk ke lift bersamanya.


"Huh baiklah, malu bertanya sesat di jalan bukan?", gumam Nara pelan pada dirinya sendiri.


Mengambil napas dalam gadis ini memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pria di sana.


"Tuan.... maaf boleh aku bertanya?".


Sang pria menoleh, karena sedang berbicara di telepon maka pria itu segera mengakhirinya dan mengangguk pada Nara.


"Iya?".


"Maaf, aku hanya ingin bertanya kenapa sejak tadi aku menaiki lift namun belum juga menemukan jalan keluar dari hotel ini?", tanya Nara pelan sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Apa?", pria itu tampak terkejut dengan pertanyaan Nara, lalu ia menatap heran penampilan Nara dari ujung kepala hingga ujung kaki gadis itu.


Bersambung....


__ADS_2