Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Abaikan Saja


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Om papa kenapa?? Apanya yang sakit???"


Siapa yang tidak panik mendapati suaminya tiba tiba nyaris ambruk dan anaknya pun hampir jatuh. Tak terkecuali Karin saat itu. Ia meminta Mela mengajak Delvara turun lebih dulu. Setelah itu baru ia membimbing Dion untuk duduk di kursi.


"Pinggang om papa kok sakit ya sayang. Apa ini yang namanya faktor U alias udah tua alias encok???" dengan wajah polosnya Dion bertanya sambil mengusap usap pinggangnya.


"Iiihh gak lucu deh." sungut Karin.


"Yeee yang bilang lucu juga siapa coba?? Om papa gak lagi ngelucu lho. Ini beneran sakit tadi."


"Tadi aja kan?? Sekarang udah nggak kan?? Suka banget deh ngerjain Karin." Karin cemberut merasa dikerjai.


"Utuuu utuuuu lucunyaaa kalau udah ngambek sayangnya om papa ini." Dion gemas dan menjewer kedua pipi Karin.


"Om papa hentikan. Ini gak lucu."


Dion menghentikan semua yang dilakukannya saat ia sadar kedua bola mata Karin sudah mulai berkaca kaca. Dan detik selanjutnya bendungannya sudah jebol. Lelehan airmata Karin pun meluncur bebas.


"Kok nangis sayang??"


Dion mengusap airmata Karin. Lalu membawanya ke dalam dekapannya. Dalam dekapan hangat Dion Karin makin tersedu sedu.


"Kok malah makin menjadi jadi ini. Sayang,,, Sayang kenapa??? Om papa berlebihan ya candanya??" Dion merasa bersalah.


"Karin takut." jawab Karin di sela sela isakannya.


"Takut apa sayang?" Dion dengan sabar menyikapi.


"Takut om papa kenapa kenapa. Karin tidak siap kalau harus kehilangan orang terkasih lagi. Setiap Zoya berulang tahun, Karin selalu merasa diingatkan bahwa kapan pun juga bisa kehilangan om papa. Bahkan saking takutnya, Karin selalu meminta kalau memang saat maut memisahkan kita, biar Karin saja yang pergi terlebih dahulu."


Dion menegakkan tubuh Karin yang semula menyandar lemah padanya.


"Sayang kok ngomongnya gitu??" tanya Dion.


"Karin tidak bisa membayangkan bagaimana hidup Karin ke depannya tanpa om papa. Karenanya Karin berdoa begitu." bola mata yang masih berkaca kaca berkedip kedip beberapa kali.


"Terima kasih atas cinta yang begitu besar untuk om papa. Tapi jangan pernah lagi berdoa seperti itu sayang. Gak baik. Hidup dan mati itu hanya rahasia Tuhan yang kita bahkan tidak ada yang tau kapan akan terjadi pada kita. Yang perlu kita lakukan hanya berusaha menjadi manusia yang sebaik baiknya agar kelak jika masa itu datang, kita sudah punya bekal cukup untuk di alam sana."

__ADS_1


"Iya Karin paham. Makanya jangan ngerjain Karin lagi. Karin benar benar takut om papa."


"Iya iya maaf sayang ya. Nggak lagi lagi ngerjain kok." Dion membuat jarinya berbentuk V dengan senyum nakalnya.


"Ya sudah. Kita turun sekarang. Kasihan Del nanti terlambat." ujar Karin.


"Iya sayang. Yuk kita turun. Sarapan lalu om papa antar kalian ke sekolah Del."


"Om papa gak buru buru ke kantor memangnya?"


"Ini kan hari pertama Del masuk sekolah. Masak om papa gak anterin? Nanti kamu disangka janda lho. Mauuu??"


"Iiihh ogah."


"Ya makanya. Wajib dong memamerkan suami tampan dan awet mudamu ini ke para emak emak di sana nantinya biar gak digosipin janda." Dion terkekeh.


"Sok ganteng." sungut Karin.


"Lah ganteng apa gak hayooo??"


"Ganteng dong. Makanya Karin cinta." dengan manjanya Karin memeluk pinggang Dion dan menciumi dada suaminya yang selalu tercium wangi oleh parfum mahalnya itu.


"Eh sayang,,, udah dong. Nanti jadi lho adiknya Zoya." gurau Dion.


Hasrat Dion mulai terpancing. Baru saja ia meraih dagu Karin dan menempelkan bibirnya, teriakan Delvara terdengar nyaring dari lantai bawah.


"Paapaaaaa,,,Mamaaaaa,,, Ayoooo. Del takut terlambat."


"Aaahh Del ganggu papanya saja." Sungut Dion menarik kembali bibirnya yang baru saja menempel.


Karin cekikikan dibuatnya. Ia puas sekali bisa ganti mengerjai suaminya itu. Tadi suaminya sudah sukses membuatnya ketakutan. Kali ini tidak ada salahnya kalau dia buat suaminya jadi merasakan yang namanya kondisi nanggung.


Dion turun diikuti oleh Karin yang membawakan tas kerjanya. Mereka disambut Delvara yang sudah tidak sabar mau ke sekolah barunya.


"Ok lets go." Dion mengulurkan tangannya dan disambut oleh Delvara.


Keduanya berjalan bergandengan menuju ke mobil. Karin ditinggalkan karena masih harus memberi beberapa pesan pada Mela. Maklum ini baru pertama kalinya ia meninggalkan Zoya. Biasanya kemana pun pasti diajak. Hari ini Karin pikir sebaiknya fokus untuk urusan Delvara dulu.


Hari pertama sekolah ia tak ingin melewatkan informasi apa apa. Ia harus fokus. Ini memang bukan pertama kalinya Delvara sekolah. Sebelumnya juga sudah sekolah di taman kanak kanak. Tapi mungkin itu lebih tidak formal.


Usai semua pesannya disanggupi oleh Mela, Karin pun menyusul suami dan putranya masuk ke mobil.

__ADS_1


"Ye ye ye,,,Del mau ke sekolah baru. Mau punya banyak teman baru." Delvara begitu semangat.


"Janji sama mama, di sekolah gak boleh nakal. Dengar semua kata ibu dan bapak guru. Memperhatikan semua pelajaran." pesan Karin.


"Iya mama bawel."


Karin yang duduk di depan langsung menengok ke belakang di mana Delvara duduk. Matanya membulat sempurna mendengar putranya mengatai dirinya bawel.


"Del,,, Siapa yang ajari kamu bilang mama bawel??" Tanya Karin seraya memicingkan matanya kini ke arah Dion yang menyetir.


Delvara menunjuk Dion dengan telunjuk mungilnya.


"Om papaaaa?????" pekik Karin.


"Hehehehe,,,," Dion meringis dan garuk kepala.


Lengannya pun tak luput dari cubitan dan pukulan pukulan Karin selanjutnya.Delvara tertawa puas melihat papanya meringis kesakitan dan meminta ampun pada Karin.


"Awas ya kalau Del jadi anak yang bandel nantinya. Itu gara gara om papa pokoknya." sungut Karin.


"Kalau gak bandel bukan cowok namanya sayang. Om papa dulu juga bandel lho hehehe,,,"


Karin mendelik dibuatnya. Dan Dion malah terkekeh melihat reaksi Karin yang demikian.


Cuuupp,,,


Karin terkejut mendapat kecupan mungil di pipinya dari Delvara.


"Meskipun mama bawel tapi Del sayang sama mama." ucapan polos itu pun meluluhkan kemarahan Karin.


"Terima kasih sayang." balas Karin seraya mengusap kepala Delvara.


"Mama aja yang disayang?? Papa nggak??" protes Dion.


"Sayang dong." Delvara memeluk leher Dion dan menarik wajahnya agar bisa menciumnya.


"Hati hati sayang. Papa kan lagi nyetir." Karin mengingatkan.


Kendati ada yang namanya marahan, sewot, memukul, mencubit,,, tapi itu memang bagian dari kebahagiaan keluarga kecil mereka.


"Abaikan saja sakit pinggang ini. Wajarlah ya. Namanya juga udah tua. Nanti juga hilang sendiri. Aku tidak mau Karin menangis lagi karena takut." batin Dion sambil tetap menyetir meski sakit di pinggangnya mulai terasa lagi.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2