Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Nomer Telepon


__ADS_3

...Hai,,,Selamat membaca ya 🌸 Maafkan typo yang bertebaran πŸ€—πŸ™...


...🌸🌸🌸...


"Ooo jadi begitu?? Ini balasan kamu buat mama?? Kamu itu nikah sama Karina malah jadi ikut kayak anak kecil. Bukannya makin dewasa." sungut Herna.


"Loh bukan Dion yang kayak anak kecil. Tapi mama. Mama yang gak bisa bersikap dewasa memilih apa yang perlu dibahas dan apa yang nggak." sahut Dion.


"Gak dewasa bagaimana?? Kalau masalah Hana itu justru kalau emang Karina itu dewasa,,,dia gak perlu merasa cemburu atau tidak suka saat mama membicarakannya. Seperti katamu,,,Hana udah nggak ada sama kita jadi gak perlu ada yang dicemburuin. Lain halnya kalau dia masih ada dalam kehidupanmu dan mama masih bahas,,, di depan Karina,,,baru dia boleh cemburu."


Dion menghela napas berat mendapati sikap dan jawaban mamanya yang tetap merasa tidak ada yang salah dengan sikapnya itu.


"Udah deh ya. Pokoknya kalau mama kayak gini terus,, Dion cabut dari rumah."


"Cabut ya cabut aja sana. Tapi kamu musti janji sama mama kalau kamu bisa jaga Karina dan cucu mama baik baik. Kalau kalian masih di rumah dan kamu kerja,,, sudah pasti segala sesuatu yang jadi kebutuhan Karina itu jadi urusan mama,, Tapi sekali kamu mutusin keluar dari rumah,, mama gak mau tau." Herna balas mengancam.


Dion garuk kepala. Kali ini ucapan mamanya itu ada benarnya. Kalau dia kerja siapa yang akan jaga istrinya kalau mereka benar benar memutuskan tinggal di apartemen.


"Pikirkan itu sebelum ngancam mama." Herna menutup telpon itu dengan kesal dan mengembalikan ponsel suaminya dengan kasar.


Hengki menghela napas.


"Mama ini emang malah bikin semua jadi runyam." gumam Hengki.


"Papa nyalahin mama juga??" Herna mendelik.


"Mama itu gak salah kalau kangen sama Hana. Tapi sebaiknya jangan menyinggung dia di depan Karin. Satu lagi,,, jangan sedikit sedikit bilang Karin masih kekanak kanakan ma. Dion putra kita juga masih sering bersikap kekanakan. Tidak semua keburukan ada pada Karin." Hengki tetap menasehati dengan sabar.


"Pokoknya mama gak akan biarkan Dion bawa Karina pergi dari rumah ini. Enak saja anak itu mau membahayakan menantu dan calon cucu mama." Herna melangkah menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Hengki yang ditinggalkan di ruang keluarga hanya bisa tepuk jidat dengan sikap istrinya itu. Dia sendiri tidak paham apa maunya istrinya. Dia sayang pada Karin tapi tak peduli dengan perasaannya saat tiba tiba menyinggung tentang Hana.


"Hhhh dasar wanita. Rumit." gumam Hengki.


...🌹🌹🌹...


"Halo tante. Apa kabar?? Tumben telpon Darren." Darren senang mendapat telepon dari Herna.


"Baik,, tante baik baik saja. Kamu tuh yang musti jaga kesehatan. Penyakit kamu udah ilang semua?? Benar itu??" Herna tanya balik.


"Alhamdulillah tante. Darren dapat mukjizat dari tuhan. Penyakit Darren diangkat dengan kuasaNYA. Dokter aja juga bingung kok bisa sel kanker itu menghilang begitu cepat."


"Alhamdulillah ya Dare. Oh ya,, tante telpon cuma tau kabar kamu dan Hana. Gimana kabar putri kesayangan tante itu?? Dia baik baik saja kan?? Anaknya udah berapa?? Suaminya baik kan??" tanya Herna.


"Oh baik tante. Hana udah dua anaknya. Mereka tinggal di Singapura sekarang. Bryan suaminya bisnisnya semua berpusat di sana. Alhamdulillah Bryan itu suami yang baik dan bertanggung jawab. Maaf lho tan,,, bukan maksud Darren menyinggung perasaan tante dan Dion."


Ada perasaan tidak enak di hati Darren mengatakan hal itu. Darren heran juga kenapa tiba tiba mamanya Dion menanyakan hal semacam itu.


"Hehe,,, iya tan."


"Dare,, kamu bisa kasih tante nomer teleponnya Hana?? Tante kangen sama dia. Cuma pingin ngobrol aja kayak dulu." ucap Herna kemudian.


"Oh gitu ya tan,,, Mmmm,,," Darren masih berpikir bijak atau tidak memberikan apa yang diminta oleh Herna itu.


"Gak usah bilang bilang sama Dion kalau tante minta ya. Tante lagi malas banget sama tuh anak. Setelah menikah sama Abg itu bukannya makin dewasa malah ikutan jadi anak kecil juga. Masak mereka ngancam tante mau keluar dari rumah juga." Herna curhat tapi banyak yang di skip.


"Lah kok gitu tan??" Darren jadi heran.


"Itu si Rina hamil muda. Hormonnya lagi tinggi banget mungkin buat berhubungan jadi Dion layanin aja apa maunya istrinya. Abis gitu kramlah itu perut karena aktifitas suami istri itu. Kesel aja tante,,, Gak tau apa tante ini udah pingin banget punya cucu eh seenaknya mereka gak jaga kehamilan Rina. Hmmm,,," Herna mengeluhkan itu.

__ADS_1


"Oh gitu ya tan."


Darren hanya jawab singkat singkat saja kalau diajak ngomongin orang begitu. Bagi Darren,,, belum tentu cerita itu benar. Harus dengar dari dua belah pihak. Dion belum cerita apa apa padanya. Bahkan hamilnya Karin ini saja belum diceritakan.


"Eh kamu jangan Ah oh ah oh aja Dare. Mana nih nomer teleponnya Hana??" tegur Herna karena Darren malah diam.


"Eh iya tan,,, sebentar ya Darren liat dulu karena Darren gak hafal dan nomernya ada di ponsel ini." jawab Darren.


"Ok kalau gitu tante tutup dulu teleponnya. Habis itu kamu send ke tante ya nomernya. Tante tunggu loh Dare,,, jangan lama lama." pesan Herna.


"Siap tan,,," Darren menyanggupi.


Herna tersenyum senang membayangkan sebentar lagi bisa berbincang dengan mantan menantu yang disayanginya itu. Tidak ada salahnya mantan mertua menghubungi mantan menantu,,, toh juga cuma saling berkabar dan bukan ingin menyatukan mereka kembali.


Begitu pikir Herna.


Di seberang,,, Darren masih berpikir keras apa bijak jika memberikan nomer telepon Hana pada Herna. Apalagi dengan cerita Herna tadi tentang kekesalannya pada Dion dan Karin.


Darren tidak mau membuat situasi jadi makin rumit tapi dia sendiri tidak punya alasan kuat di depan Herna kalau menolak permintaannya. Bohong banget kalau dia bilang tidak punya nomer telepon Hana karena memang hanya dirinyalah keluarga wanita itu saat ini.


Ditulisnya angka demi angka yang menjadi deretan nomer telepon Hana itu di sebuah kertas. Lalu setelah lengkap semua angkanya,,,Diketiknya di ponselnya tapi dia mengubah satu angkanya menjadi angka lain. Diberinya kontak baru ini dengan nama Hana lalu dikirimkannya kontak palsu itu pada Herna.


"Ini tan,, nomernya Hana." tulis Darren.


"Thanks Dare,, Ingat jangan beritahu Dion ya." pesan Herna.


"Siap tan." chat berakhir dengan helaan napas berat Darren.


"Hmm terpaksa deh bohong. Ampuni hamba ya Rabb kalau hamba melakukan ini. Ini demi kebaikan bersama." ucap Darren dalam hati.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


Dukung author dengan vote, like dan komen ya 🌸🌹❀️


__ADS_2