
Selamat membaca
π§π§π§
"Kalau kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu maka pergilah Dion. Bawa anak dan istrimu. Berbahagialah nak. Kemana pun kalian pergi,, Meski papa tidak bisa mengikuti kalian tapi kalian harus percaya,,, doa dan jiwa papa selalu bersama kalian."
Papa Hengki mengatakan hal demikian sebelum meninggalkan Dion dan Karin. Bagaimana pun papa Hengki tidak akan meninggalkan mama Herna. Istrinya itu masih tetap membutuhkannya.
"Papa,,, Terima kasih atas pengertiannya." ucap Karin.
Papa Hengki tersenyum lalu mendekat. Mengulurkan kedua tangannya meminta agar Karin menyerahkan Delvara untuk digendongnya. Karin mengerti dan segera melakukannya.
"Delvara,,, Cucu kesayangan opa. Tongkat pegangan opa. Selamat datang di dunia ini nak. Sama halnya dengan kedua orang tuamu,,, Opa pun tidak pernah meragukanmu. Sepintas saja melihatmu opa sudah ingat akan wajah papamu saat bayi. Persis sepertimu Del." ucap papa Hengki sambil menatap wajah Delvara.
Karin dan Dion hanya saling berpandangan. Dalam hati masing masing merasa sangat bahagia karena papa Hengki mau menerima dan mengakui Delvara sebagai cucunya. Bahkan papa Hengki mengatakan cucu kesayangan.
Itu sudah cukup bagi Dion dan Karin. Dalam hal ini,,,pengakuan keluarga adalah yang terpenting dibanding segalanya.
"Jadilah putra kebanggaan papa dan mama kelak ya nak. Opa sudah siapkan segala sesuatunya untukmu kelak." ucap papa Hengki.
"Tapi pa,,," sela Dion.
"Jangan ditolak. Jangan batasi sikap dan perlakuan papa pada cucu kesayangan papa ini. Papa tau kamu mampu memberinya segalanya tapi papa juga punya hak untuk memberinya segala yang papa punya juga. Papa sudah tua Dion,,,,Dan apa yang papa miliki sudah sepantasnya dimiliki oleh Delvara juga."
"Baik pa. Terima kasih sekali lagi Dion ucapkan." Dion tak bisa menolak lagi.
Memang apa yang dimiliki keluarga Dion terbilang banyak dan tidak akan habis untuk satu keturunan saja. Itu adalah hal yang tidak boleh Dion sangkal. Papanya yang selalu sukses dalam berbisnis,,, membuat Dion tumbuh bergelimang harta sejak ia dilahirkan.
Dan kini jika papa Hengki juga ingin Delvara merasakan hal yang sama,,, maka Dion juga tidak bisa menolak. Meskipun ia sendiri adalah bisnisman yang juga sukses dan mampu mencukupi sendiri anak istrinya.
__ADS_1
"Sebelum kalian pergi,,, papa harap Kamu bisa mengambil surat surat berharga yang sudah papa atasnamakan Delvara ke rumah Dion." pinta papa Hengki.
"Baik pa." Meski enggan melangkahkan kakinya kembali ke rumah yang tidak menerima Delvara itu tapi Dion juga kasihan jika harus membuat papa Hengki yang repot repot mencarinya dan membawakan dokumen yang dimaksud.
"Baiklah kalau begitu papa pulang dulu. Papa tunggu kamu di rumah. Papa pamit dulu ya Rin. Yang kuat dan buktikan pada papa juga bahwa pilihan hati Dion tidak salah. Dampingi Dion sampai hanya maut yang memisahkan. Besarkan Delvara dengan penuh kasih sayang. Jangan sampai cucu kesayangan papa ini merasa kurang kasih sayang apalagi kasih sayang dari omanya belum bisa didapatkannya saat ini."
Papa Hengki mengatakan itu sambil kembali menyerahkan Delvara pada Karin.
"Iya pa. Karin akan ingat semua kata kata papa. Karin juga akan melakukan yang terbaik untuk om papa dan Delvara. Terima kasih ya pa,,, Terima kasih sudah menerima Delvara." setetes airmata membasahi wajah Karin.
Papa Hengki tak ingin terlihat rapuh meski hayinya sudah terlanjur rapuh begitu melihat bulir bening kesedihan itu mengalir. Papa Hengki terus memohon ampunan pada tuhan dalam hatinya.
Memohon ampun untuk dirinya sendiri yang tidak mampu mendidik mama Herna lebih baik lagi,,, Ampunan untuk mama Herna yang telah termakan bujuk rayu setan hingga menyakiti hati menantunya.
"Maafkan papa ya nak." ucap papa Hengki sambil mengusap airmata Karin.
"Tidak pa. Papa tidak perlu meminta maaf pada Karin. Papa sudah melakukan yang terbaik untuk Karin selama ini." ucap Karin.
Papa Hengki baru bisa tersenyum meski tipis. Sekali lagi dikecupnya pipi mungil Delvara sebelum beliau benar benar pulang.
Di rumah besar milik keluarga Dion di Singapura ini,,, di sofa megahnya,,,mama Herna duduk termenung. Memikirkan semua yang sudah terjadi.
"Mama kok ngelamun?" Hana datang membawakan segelas teh hangat kesukaan mama Herna.
"Ayo ma diminum dulu selagi hangat. Ini teh kesukaan mama lho. Tadi mumpung Hana pergi berbelanja sekalian Hana belikan teh ini untuk mama. Mama pasti masih suka kan?" Hana menyodorkannya pada mama Herna.
Mama Herna menerimanya lalu meneguk teh hangat itu. Hatinya terasa menghangat juga setelahnya. Sungguh hanya Hana yang tau merk teh kesukaannya ini. Hana juga yang paling tau kapan beliau membutuhkan teh hangat itu untuk memperbaiki suasana hatinya.
"Ada apa ma? Gimana tadi di rumah sakit? Apa sudah dites DNa anaknya Dion? Lalu kapan hasilnya akan keluar??" tanya Hana penasaran.
__ADS_1
Mama Herna hanya menggeleng lemah. Hatinya kembali berkecamuk. Beliau mulai sedikit takut akan benar benar kehilangan putra semata wayangnya. Beliau bukan tidak tau watak Dion. Sekali A ya A.
"Maksudnya gimana ma? Kok mama malah menggeleng?" Hana makin penasaran.
Tanpa sepengetahuan mama Herna,,, Hana memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk untuk keperluan menyabotase hasil dari tes DNA bayi Dion. Hana sangat tidak ingin kalau sampai Karin dan bayinya membuat langkahnya memiliki kembali Dion terhalang. Apa pun akan dilakukannya untuk menempatkan dirinya menjadi wanita yang punya pasangan.
Menjadi janda yang ditinggal mati suaminya sungguh bukan pilihan untuknya. Hana takut kesepian.
"Dion menolaknya Han. Dia bersikeras anak itu anaknya. Dia menampik semua hal yang menjelekkan Karina termasuk masa lalunya." lirih mama Herna.
"Trus ma??" Hana mulai pesimis.
Sepertinya rencananya tidak akan mulus.
"Ya malah Dion akan keluar dari rumah ini kalau mama gak mau menerima anaknya itu. Hmm anak itu baru lahir saja sudah membuat hubungan ibu dan anak jadi memburuk begini. Mama jadi semakin yakin anak itu memang bukan anak Dion." sungut mama Herna.
"Benar ma. Harusnya kalau memang anak itu punya darah yang sama dengan mama,,,maka anak itu malah akan jadi pemersatu keluarga. Bukan malah jadi penghancur begini. Tapi ma,,, gimana dong nasib Hana kalau Dion benar benar pergi? Bagaimana pun Dion harus tetap tanggung jawab kan sama Hana? Dion lho yang menyebabkan suami dan anak Hana meninggal. Dion yang menghancurkan kebahagiaan Hana." Hana menuntut.
"Kalau kamu tidak bisa terima ya laporkan saja Dion ke polisi. Biar hukum memberi hukuman setimpal untuknya. Jadi kamu gak usah repot repot menyerahkan kembali hidupmu padanya. Bagaimana pun juga kamu membencinya kan? Karena dia yang mengambil segalanya darimu."
Hana terlonjak kaget mendengarnya. Rupanya papa Hengki telah sampai di rumah dan mengatakannya dengan ketus bahkan tanpa menunggu jawaban apa pun dari Hana. Papa Hengki langsung masuk ke kamarnya.
...πΈπΈπΈ...
...Papa Hengki udah sensi nih sama Hana π€...
...Author udah double up lho btw,,, lagi nyepi di Bali jadi author libur seharian tanpa aktivitas. Mau author up lagi apa cukup dua part aja hari ini?? ...
Kirim dulu vote, like, hadiah dan komen buat author yaaa β€οΈ
__ADS_1