Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 96


__ADS_3

Dannis pulang ke rumahnya dengan perasaan kecewa, baru satu hari merasa bahagia sekarang harus berpisah kembali dengan sang istri tercinta.


Pria itu belum siap bertemu orangtuanya tentang Nara dan paman Harun.


"Sial.... Nara belum memberiku nomor ponselnya", rutuk Dannis kesal dengan menghempaskan ponselnya ke ranjang, ia terduduk menutup wajahnya dengan tangan seakan berpikir keras bagaimana untuk memperbaiki hubungan itu di depan paman istrinya.


Tak berbeda dengan Nara, perempuan ini hanya bisa bermenung di kamarnya selepas bicara pada sang paman, dimana paman Harun akan tetap melanjutkan perceraian yang sudah diserahkan urusannya pada pengacara keluarga mereka.


Beberapa kali ia tampak menghapus airmatanya.


"Benarkah kau mencintaiku Dannis? atau benar kata paman ku kau hanya sedang bermain-main saja, kau hanya menipuku saja", gumam Nara berkali-kali dengan pertanyaan yang sama yang tengah menguasai otaknya saat ini.


"Memang benar, ini terlalu tiba-tiba bagiku... Oh bodohnya Nara", gumamnya lagi.



********


Dannis teringat sesuatu, pagi-pagi sekali ia sudah mengemudi menuju rumah orangtua nya, setelah sampai ia berjalan cepat masuk ke dalam tanpa berpikir panjang ia pun melewati orangtua dan adik perempuannya yang baru saja berniat sarapan terlebih papa Kemal harus datang ke kantor lebih pagi untuk hari ini.


"Dannis, kau kemari? ayo ingin sarapan bersama?", sapa mama El dengan sayang ketika melihat Dannis datang.


"Aku kemari untuk bertemu Baim saja, aku tidak lapar ma", jawab Dannis mencoba bersikap biasa.


"Dannis kenapa kau buru-buru ada apa dengan Baim?", tanya papa Kemal menahan bahu putranya.


"Aku hanya ingin bertanya sesuatu yang dia sembunyikan selama ini pa, ayolah ini hanya urusan lelaki".


"Kau kira papa bukan lelaki? ayo sarapan bersama, Baim masih tidur", ajak mama El menarik tangan Dannis dan suaminya bersamaan.


Syasya yang telah dulu berada di meja makan pun hanya bisa geleng kepala.

__ADS_1


"Mama ayolah, aku lapar", rengek gadis itu.


"Baiklah, aku akan menyusul setelah bicara pada Baim", ucap Dannis mengalah.


Papa Kemal mengangguk dan merangkul pundak istrinya menuju meja makan, membiarkan Dannis bertemu adik bungsunya itu.


Dannis berjalan cepat menaiki tangga langsung menuju kamar Baim tanpa basa basi.


Setelah masuk kamar lelaki yang penuh dengan buku yang menumpuk di atas meja.


Dannis membangunkan Baim dengan kasar, ia sungguh ingin marah rasanya ketika tahu bahwa adiknya ini mengetahui keberadaan Nara selama dua bulan terakhir saat Nara mulai berkuliah.


"Bangun kau, bangun kau bocah nakal", Dannis membangunkan Baim dengan suara besar.


Baim yang terkejut itu menatap Dannis dengan kesal karena telah mengganggu tidurnya.


"Ada apa? bisakah kakak lebih sopan masuk ke kamarku".


Tangan Dannis yang sudah berada di leher baju kaos yang tengah Baim kenakan itu mulai menariknya dengan geram.


"Apa maksudmu?", tanya Baim mulai kesal dan melawan, ia bahkan menepis tangan Dannis dengan kasar dari bajunya.


"Ck.... kau masih bertanya? baiklah aku ingin bertanya apa maksudmu menyembunyikan bahwa kau tahu tentang Nara dariku?"


"Iya aku tahu, memangnya kenapa?", Baim membalas tatapan Dannis tanpa takut.


"Dasar adik tidak tahu diri", umpat Dannis kesal terpancing emosi karena mendapat respon dari Baim yang lebih tampak menentangnya, pria itu seraya menarik kembali pakaian Baim dengan kasar lalu ia memukul adik lelakinya itu pada rahangnya.


"Kenapa sekarang kau marah padaku tentang Nara, bukankah kau memang tidak menginginkan nya lalu kenapa aku harus memberitahumu tentang itu, bukankah kau tidak mencintainya", jawab Baim tanpa takut.


Dannis kembali emosi, ia memukul Baim tanpa ampun, hingga papa dan mama mereka menyusul masuk karena mendengar kegaduhan yang terjadi diantara dua beradik itu.

__ADS_1


Papa Kemal menarik Dannis agar menjauh dari Baim.


Mama El membantu putra bungsunya berdiri seraya menatap Dannis dengan marah.


"Dannis, kenapa memukul adikmu?".


"Mama ingin tahu apa yang dilakukannya padaku? dia mengetahui tentang istri ku selama ini, dia tahu aku hampir gila karenanya dan dia sengaja diam saja apa itu tidak keterlaluan namanya, kau benar-benar tega padaku Baim", ucap Dannis dengan suara bergetar, matanya merah dan berkaca-kaca seakan tersirat perasaan kecewa yang dalam terhadap adik bungsunya itu.


Mama El dan papa Kemal menoleh pada Baim.


"Kenapa melihatku seperti itu? benar, aku tahu tentang Nara, memangnya kenapa? bukankah pria ini tidak mencintainya bukankah pria ini tidak menginginkannya, ditinggal pergi baru tahu rasa, jatuh sakit dan bilang cinta, bukankah itu terlihat seperti drama? iya aku tahu Nara dimana, dia satu kampus dengan ku, aku bahkan setiap hari bertemu", jawab Baim tidak goyah sedikit pun.


Mama El dan papa Kemal terdiam, mereka menatap dua putranya bergantian.


"Sayang kita bisa bicara baik-baik jangan berkelahi, Baim kenapa kau melakukan ini? kau tahu kita semua kehilangan Nara", ucap mama El yang dadanya berdebar akan tatapan tajam kedua lelaki muda itu.


"Kurang ajar kau, itu bukan urusanmu dia istriku", jawab Dannis yang kembali ingin memukul Baim namun dengan cepat papa Kemal mencegah nya.


"Seharusnya yang menikah dengan Nara itu aku, bukan pria pengecut seperti mu", jawab Baim mendorong tubuh Dannis dengan kasar seraya meninggalkan mereka yang tercengang mendengar kata-kata lelaki bungsu itu.


Eliana dan Kemal saling menatap satu sama lain.


Dannis yang seakan tersadar dari lamunan, lalu ia menatap punggung Baim yang menjauh.


"Sial, apa dia menyukai istriku?".


Mama El dan papa Kemal menatap Dannis penuh arti.


####


Maaf slow up, my twins rewel soalnya.

__ADS_1


di lanjut nanti siang ya...


__ADS_2