Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Yakinkah?


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🌸🌸🌸🌸...


"Harus sekarang juga Han??" tanya mama Herna.


"Memangnya mama mau tunggu apa lagi? Mama lihat sendiri kan ini ngurus keberangkatan Dion ke Turki juga semua Hana yang jalan. Bukan mama atau Dion sendiri. Jadi rasanya tidak berlebihan kan kalau Hana minta apa yang jadi hak Hana sesuai kesepakatan kita waktu ini?" cerca Hana.


"Iya maksud mama apa gak bisa satu persatu dulu diselesaikan gitu? Urus keberangkatan Dion dulu baru urusan pemindahan kuasa kepadamu." mama Herna coba menjelaskan apa yang dimaksudkannya.


"Hana ini bukan perempuan bodoh yang gak bisa paham maksud perkataan mama. Jadi gak perlu dijelaskan berkali kali gitu dong ma. Gini ya,,,apa sih bedanya mama segera urus apa yang Hana mau dan mama menunggu sampai urusan Dion selesai dulu? Sama sama juga Hana yang akan jalankan semuanya kan?" Hana makin mendesak.


"Lagipula ya ma,,,Mama tau kan hubungan Hana sama Dion ini belum jelas. Kalau mama mau segera urus semua keperluan Hana itu maka Hana juga mau bergerak apa saja untuk urusan Dion itu juga pantas. Hana gak mau ya ada komentar miring dari orang orang yang mengira Hana ini siapanya Dion sih kok mengurus Dion sampai segitunya padahal Dion punya istri." keluh Hana yang tak mau dapat komentar komentar aneh dari sekeliling.


"Iya iya mama akan segera suruh pengacara mama mengurusnya kalau begitu ya." akhirnya mama Herna menyerah juga dengan rengekan rengekan Hana itu.


"Makasih maaaa,,," Hana memeluk mama Herna saking senangnya.


"Mama gak ingkar janji kan? Mama sudah janji akan beri apa pun padamu demi Dion. Jadi mama harap kamu juga jangan sia siakan kepercayaan mama ini ya Han." pinta mama Herna.


"Mama ini ngomong apa sih? Ragu sekali sama Hana. Ragu dan gak percaya saja nadanya. Kayak Hana ini memang pernah mengecewakan mama saja. Mama lupa? Yang pernah mengecewakan itu bukan Hana melainkan putra mama." Hana yang semula merasa senang jadi terganggu moodnya.


"Bukan begitu maksud mama sayang." mama Herna coba membujuk agar wanita kesayangan itu tak makin merajuk.

__ADS_1


"Sudah sudah,,, segera telpon pengacara saja." titah Hana masih dengan nada merajuk.


"Iya mama telpon dulu ya."


Hana tersenyum membayangkan seberapa besar dan berpengaruhnya posisinya dalam keluarga ini setelah mama Herna memberikan semua kuasa atas keluarga mereka baik itu mencakup bisnis maupun urusan pribadi keluarga Dion.


Terbayang sakitnya saat ia disingkirkan oleh Ratna, istri siri Dion dulu. Saat rumah hadiah pernikahannya dengan Dion juga diambil alih oleh wanita itu. Saat semua hak sebagai istri Dion juga dirampas oleh wanita itu,,, semua terbayang jelas dibenaknya dan masih bisa dirasakannya kekecewaannya saat itu.


Lalu apa dengan begini ia merasa semua terbalaskan? Hana mulai tamak akan harta juga. Ia yang semula hanya ingin membalas sakit hatinya pada Dion kini mulai ingin menguasai semuanya.


"Tapi mengambil alih semua kekuasaan belum lengkap juga rasanya kalau belum merampas kebahagiaan mu Dion. Aku juga ingin kamu merasakan rasanya tersisih dan terhina."


"Han,,,Mama mau ketemu pengacara mama dulu ya. Beliau ingin bicara empat mata sama mama mengenai pemindahan kekuasaan ini." pamit mama Herna membuat Hana tersentak.


"Ya entahlah. Mama juga gak ngerti tapi mama sudah ditunggu nih. Mama segera kesana saja ya. Mama titip Dion." ujar mama Herna yang terburu buru.


Hana hanya ditinggalkan dengan wajah masam. Hana takut dan mulai berpikir pengacara itu pasti akan mempengaruhi mama Herna dan bicara macam macam.


"Bisa gagal semua nanti kalau pengacara keluarga itu ikut campur." batinnya.


Sepanjang perjalanan menggunakan taksi mama Herna juga berpikir keras apakah keputusannya ini sudah paling benar. Memberikan semua kuasa pada Hana apa sudah tepat?


Dan sesampainya di tempat pengacara beliau juga mendapati pertanyaan yang hampir sama.

__ADS_1


"Apa nyonya yakin akan menyerahkan semua kendali pada nona Hana? Masih ada tuan Dion meski kondisinya seperti itu. Tolong nyonya pertimbangkan lagi." ucap Hidayat, pengacara keluarga yang sudah lama selalu mendampingi keluarga Dion.


"Saya tau bapak Hidayat. Tapi seperti yang sudah saya utarakan bahwa Hana juga tidak saya anggap orang lain melainkan sudah seperti putri saya sendiri. Bapak juga sudah tau sendiri siapa Hana sebelumnya bukan? Dia pernah menjadi bagian penting keluarga saya." jawab mama Herna.


"Itu memang benar nyonya. Tapi saya hanya ingin nyonya sekali pertimbangkan apa harus secepat ini mengurus hal ini? Bisa jadi juga nanti menantu asli dan cucu nyonya kembali lalu meminta haknya juga." Hidayat kembali mengingatkan.


"Mana mungkin itu. Lagipula juga bapak Hidayat sendiri yang membuatkan surat pernyataan untuknya kan. Surat yang menyatakan ia tak akan pernah kembali muncul dalam keluarga ini. Bapak juga yakinkan saya kalau mereka sudah menerima tiket pesawat yang sudah saya belikan untuk mereka kan?? Mereka itu jauh sekarang. Mereka ada di bagian lain dunia ini dan tidak akan kembali. Begitu kan isi pernyataan itu?" mama Herna balik mengingatkan isi dari surat pernyataan yang dibuatkan Hidayat untuk ditandatangani Karin tempo hari.


"Benar nyonya. Kemungkinan untuk nona Karin kembali memang sangat minim. Kalau nyonya memang sudah yakin dengan keputusan ini maka akan segera saya urus semuanya." ujar Hidayat kemudian.


"Secepatnya ya." .


"Baik nyonya."


Pertemuan empat mata itu pun berakhir dan mama Herna kembali duduk di kursi belakang taksi yang tadi dibayarnya untuk menunggu. Mama Herna mulai merasakan susahnya tidak punya sopir pribadi tapi untuk mencari pengganti Darwin juga ia tak tau harus kemana mencari. Selama ini semua dikerjakan Papa Hengki atau Dion dan mama Herna tinggal terima beres.


Pikiran mama Herna kembali melayang pada ucapan Hidayat tadi. Yakinkah beliau?


"Tapi anak itu adalah anak baik dan datang dari keluarga terpandang yang bekal agamanya juga sangatlah cukup. Pastinya ia tau batasan mana dosa dan mana tidak. Memang sih belakangan ini sikapnya agak berbeda tapi aku rasa itu karena jiwanya masih terguncang setelah banyak kejadian pilu menimpanya."


Batin dan pikiran mama Herna berkecamuk. Tak terbiasa dihadapkan dalam situasi yang mengharuskannya mengambil keputusan sendiri seperti ini tentu sangat membuat kepalanya pusing sendiri.


"Ah sudahlah. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Dion. Asal Dion sembuh apa pun akan aku pertaruhkan. Lagipula aku yakin aku tidak salah pilih. Hana sudah menunjukkan kualitasnya sebagai menantu sebelumnya. Jadi semua akan baik baik saja." gumamnya kemudian

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2