Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Hanya Sedang Tersesat


__ADS_3

...Selamat membaca 🧁...


...🧁🧁🧁...


Mama Herna menemui papa Hengki yang berdiri agak menjauh dan baru saja mengakhiri obrolannya di telepon.


"Paaa,,, Sini. Ada kabar gembira." seru mama Herna.


"Apa ma?? Jangan tarik tarik gini nanti papa jatuh." papa Hengki takut karena sakit semangatnya mama Herna sampai menariknya paksa.


"Karina sudah setuju."


"Setuju apa dulu ini?" papa Hengki bingung.


"Ish si papa nih mah kagak nyambung kalau diajak ngomong. Ya apalagi kalau bukan setuju Dion menikahi Hana." seru mama Herna.


"Apa?? Siapa yang bilang begitu??" papa Hengki terperangah.


"Barusan mereka ngobrol dan Hana kasih tau mama kalau Rina setuju meski Hana harus tunggu anaknya lahir dulu. Ya seperti kata Rina tadi kalau Hana kan masa itu apa itu namanya pa,,,masa apa???" mama Herna memang bukan orang yang cukup ilmu agamanya sampai menyebut masa iddah saja beliau kesulitan.


"Masa iddah." papa Hengki bantu jawab.


"Nah iya itu dia. Ah apa pun itu yang penting mah Karina setuju saja dulu." mama Herna senang sekali.


Berbeda dengan papa Hengki yang berpikir keras heran dengan pernyataan setuju yang tiba tiba itu.


"Apa benar Karin setuju? Setuju dari hatinya atau dipaksa??"


"Papa,,, Bengong mulu!! Gak senang apa?? Papa itu kudu inget kalau Hana juga menantu yang baik kan dulu. Sayang sama kita. Papa juga dekat sama dia." mama Herna mengingatkan.


"Itu dulu ma."

__ADS_1


"Maksudnya?? Sekarang dia gak baik gitu??" nada suara mama Herna auto meninggi.


"Ya jelas gak baik lah kalau dia sampai minta atau mau menjadi istri kedua Dion. Dion itu sudah punya istri dan wanita atau menantu yang baik itu bukan yang datang saat prianya telah memiliki pasangan."


"Kan Hana masih cinta. Bukan salah Hana dong kalau kejadiannya menuntut dia jadi yang kedua. Coba kalau Dion gak keburu menikahi anak ingusan itu kan Hana bisa tetap jadi satu satunya menantu kita. Mana menikah gak pakai kenalin dulu sama kita tau tau udah menikah saja." mama Herna masih menyayangkan keputusan yang Dion ambil dulu.


Sebenarnya bukan tidak ingin mengenalkan dan tau tau menikah saja tapi Dion sendiri juga sudah menunggu lumayan lama sejak pertama kalinya mengutarakan perasaannya pada Karin hingga hari di mana gadis itu menyambut gayung cintanya.


Mama Herna hanya tidak tau saja. Dikiranya Dion baru kenal dan langsung memutuskan menikah.


"Bisa tidak mama hormati keputusan putra kita?? Dia bukan anak kecil lagi ma.Dia berhak menentukan pilihannya selama itu tidak menyalahi aturan atau menyakiti perasaan orang lain. Mau gadis kecil atau sudah tua bangka,,, kalau Dion cinta dan wanita itu tidak ada yang memiliki,,,itu sah sah saja. Yang justru aneh itu ya malah Hana ini,,,bisa bisanya wanita baik baik itu menurunkan sendiri harkat dan martabatnya sebagai wanita demi bisa mendapatkan cintanya kembali."


Papa Hengki tak berhenti mengecam dan menyayangkan sikap Hana. Bagaimana tidak menyayangkan?? Wanita yang dulu dikenalnya lemah lembut dan baik itu kini hanya demi egonya menjadi tega menyakiti hati wanita lain.


"Papa mau kemana??!!!" teriak mama Herna karena malah ditinggal begitu saja oleh papa Hengki.


Suaminya itu malah setengah berlarian. Mama Herna penasaran apa yang dikejarnya. Ternyata papa Hengki mengejar Karin yang baru keluar dari ruangan Hana ditemani si mbak.


"Karin pulang dulu pa. Papa kenapa ngos ngosan begini? Papa abis ngapain??"


Papa Hengki geleng geleng kepala menghadapi menantu kecilnya itu. Pantas saja putranya begitu tergila gila padanya. Papa Hengki yakin sikap peduli pada orang lain mengalahkan pada dirinya sendiri itulah yang membuat Dion jatuh cinta pada gadis itu.


"Kamu itu Rin,,, Yang seharusnya dicemaskan itu bukan papa melainkan kamu nak." ujar papa Hengki sembari mengusap puncak kepala Karin.


"Karin gak apa apa kok pa. Gak ngos ngosan juga." Karin tidak mengerti.


"Fisikmu mungkin tidak apa apa karena kamu Dan bayimu ini memang kuat. Tapi hatimu yang sakit nak. Tidak hanya Hana tapi juga mama menyakitimu nak." papa Hengki menunduk dan bersedih atas apa yang terjadi.


"Papa,,, Karin tidak apa apa. Pasti mama sudah beritahu papa kalau Karin sudah setuju ya?" tanya Karin.


Papa Hengki mengangguk lemah.

__ADS_1


"Kita lihat saja ke depannya ya pa. Itu masih lama. Ada baby D yang lebih penting untuk Karin pikirkan. Karin tidak mau bulan bulan terakhir yang harusnya dipenuhi kehangatan dan sambutan untuk baby D malah dihabiskan untuk memikirkan hal yang belum tentu benar benar akan terjadi."


"Belum tentu??" tanya papa Hengki.


"Iya belum tentu. Maksud Karin,, sembilan bulan itu masih lumayan lama. Apa pun bisa terjadi dalam rentang waktu selama itu. Sekarang mbak Hana mungkin masih bertahan dengan egonya tapi siapa tau hari esok tuhan akan mengabulkan doa Karin dan berbaik hati pada Karin dan membukakan pintu hati mbak Hana agar dia tidak ada keinginan lagi merebut apa yang jadi milik Karin. Semoga mbak Hana dijauhkan dari perbuatan seperti itu."


Papa Hengki tertegun. Menantu kecilnya itu bukan membenci saingannya melainkan mendoakan yang terbaik untuknya.


"Mulia sekali kamu nak. Kebenciannya kamu lawan dengan kebaikan."


"Karin tidak sebaik itu pa. Karin hanya akan berusaha membantu mbak Hana menemukan kebahagiaannya yang tidak harus didapatnya dari suami Karin. Mbak Hana hanya sedang tersesat saat ini. Mungkin juga ini hanya efek mood yang naik turun selama kehamilan kan pa? Siapa tau setelah melahirkan kelak dia akan paham apa yang diinginkannya itu adalah keliru." kata Karin.


"Baik mbak Hana maupun mama,,, mereka hanya sedang tersesat pa. Jadi kita yang tau mana jalan yang benar,,,sudah sepatutnya menunjukkan jalan itu." lanjutnya.


" Kamu memang bidadari tak bersayap yang dikirimkan tuhan untuk kami nak. Papa selalu dukung kamu."


"Terima kasih pa. Sekarang Karin pamit pulang dulu ya. Om papa sudah menunggu di depan." kata Karin sambil menunjukkan layar ponselnya yang tertera nama suaminya sedang menelpon.


"Dion gak mampir jengukin Hana??" tanya mama Herna yang ikut menghampiri papa Hengki dan Karin.


"Nggak ma. Hari ini cukup Karin yang mewakili. Mama sama papa mau sekalian ikut pulang atau mau di sini dulu??"


"Keterlaluan anak itu. Calon istrinya malah gak dijengukin." sungut mama Herna tanpa mempedulikan ajakan pulang Karin.


"Keterlaluan itu kalau Dion mengabaikan istri sahnya demi menyenangkan calon istrinya." papa Hengki menyahut dengan wajah datarnya.


Mama Herna hanya melirik dengan pandangan tidak suka karena pendapatnya terus disangkal oleh suaminya.


Karin tidak mau menambah suasana jadi lebih memanas. Karenanya ia segera menyalami tangan keduanya bergantian dan menuju ke depan di mana Dion sudah menjemputnya.


...🧁🧁🧁...

__ADS_1


...Dukung author dengan vote, like dan komen. Hadiah juga dong pastinya πŸ˜†πŸŒΉπŸΌπŸŒΈ...


__ADS_2