Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 39


__ADS_3


Alea tengah melakukan panggilan video pada saudara kembarnya Dannis yang lebih memilih tinggal di negara asal opa nya Turki, lelaki tampan yang merupakan sulung dari pasangan Eliana dan Kemal ini masih harus menyelesailan pendidikannya di sana, Dannis tinggal bersama oma dan opa nya.


"Kau jahat....kenapa tidak pulang ketika aku menikah, kau bahkan jarang menghubungiku sekarang" kesal Alea menatap wajah bangun tidur saudaranya di layar ponsel.


'Maaf.....aku sibuk ujian, salah sendiri menikah mendadak begitu, aku tidak menyangka kau berjodoh dengan bang Abrar, sungguh lucu bukan'


"Apanya yang lucu, kami saling mencintai makanya menikah....kau tahu sendiri aku memang bercita-cita menikah muda, cepatlah bangun kau bilang ada seminar?"


'Iya......aku akan bangun, lantas kau kenapa masih di kasur saat ini? apa kau tidak ke rumah sakit?' tanya Dannis namun belum juga beranjak dari ranjangnya.


"Huh....aku baru saja pulang dari berjaga malam, aku mengantuk ingin tidur sepanjang hari ini, Delila akan kesana lusa dia sedang libur kuliah, aku tidak mau tahu ketika dia pulang kau harus membelikan ku oleh-oleh yang banyak"


'Astaga kenapa lagi si princess itu kemari, aku akan menghabiskan banyak uang jika dia berlibur disini, menyebalkan' ucap Dannis kesal, karena jika adiknya Delila berlibur ke sana sudah dipastikan ia akan menghabiskan uang yang banyak untuk memenuhi keinginan gadis yang suka memakai barang mahal itu, Delila bisa dikatakan princess syahrini nya keluarga Kemal.


"Ck....bukankah kau ikut membantu opa disana, jadi tentu uangmu banyak Dannis dia hanya sesekali kesana kenapa kau mengeluh"


'Uangku akan cepat habis jika Delila yang datang kesini, kau seperti tidak tahu bocah itu saja, baiklah....aku akan mandi, titip salam pada bang Abrar'


"Hmmm iya.....aku menyayangi Dannis, sering-seringlah menghubungiku, awas kau jika lupa oleh-oleh ku, titip salam pada oma dan opa aku merindukan kalian semua"


'Iya....cerewet, meski kau sama menyebalkan dengan Delila tapi aku juga menyayangimu Alea'


Alea terkekeh, dan mereka mengakhiri penggilan video tersebut.


"Huh.....aku akan balas dendam begadang semalam, saatnya tidur cantik" gumam Alea memeluk gulingnya dengan senyum.


******


Namun belum juga bisa berkelana dalam mimipi, Alea merasakan kasurnya bergoyang seperti ada yang ikut naik, terpaksa ia kembali membuka mata, senyumnya mengembang ketika menyadari suaminya sudah memeluknya dari arah belakang.


"Sayang....kenapa kau kembali?" ucap Alea mengambil satu lengan suaminya agar mendekapnya lebih erat.


"Aku tidak fokus, aku merindukanmu.....biar Reza saja yang bekerja" jawab Abrar seraya wajahnya menyusup leher cantik sang istri disela rambut panjang Alea.


"Sayang itu geli.....bulu roma ku berdiri" Alea bergidik ketika Abrar menggoda lehernya dengan lidah.


"Aku menginginkanmu sekarang, apa kau keberatan?" ucap Abrar pelan seraya berbisik mesra sambil terus menempel lebih dekat pada tubuh bagian belakang istrinya membuat Alea memejamkan mata merasakan sebuah gairah yang muncul seiring dengan tangan suaminya ikut bergerilya di balik bajunya bagian dada, Alea menjawab lewat desahan manja yang lolos dari bibirnya menandakan bahwa ia juga menginginkan hal yang lebih daripada itu.


Alea berbalik badan menghadap wajah suaminya, mereka saling menautkan bibir dalam dan semakin dalam, Alea menggila ketika tangan Abrar memainkan dadanya, tidak memakan waktu lama untuk melepaskan diri dari pakaian yang melekat pada keduanya, kembali bergumul di bawah selimut menjadi aktivitas mereka pada hari menjelang siang itu.


*****

__ADS_1


"Sayang kita mampir ke toko rotinya Naura dulu boleh?"


"Apapun untukmu sayang" jawab Abrar, mereka tengah dalam perjalanan ingin berkunjung ke rumah mama Bella untuk makan malam bersama disana sekaligus merayakan tinggalnya Vina disana.


Seperti biasa, Abrar menunggu istrinya dari dalam mobil saja sambil memeriksa ponselnya jika ada kabar dari rekan kerjanya.


Alea heran malam ini tidak ada Naura disana, Alea pikir mungkin saja gadis itu libur atau mendapat shift pagi tadi jadi sekarang pasti sudah pulang.


"Maaf apa Naura sudah pulang?" tanya Alea pada teman kerja Naura.


"Tidak nona, Naura tidak masuk hari ini ayahnya sakit lagi dan harus di rawat tadi pagi, jadi dia izin untuk tidak bekerja hari ini" jawab gadis yang merupakan teman kerja Naura.


Alea terkejut akan hal itu.


"Terimakasih atas informasinya, berapa belanjaanku?" tanya Alea tidak ingin berlama disana.


Setelah menyebutkan total belanjaan Alea, segera Alea membayarnya dan segera keluar dar toko.


"Kau sudah selesai? cepat sekali" tanya Abrar heran karena biasanya Alea akan lama berada di dalam untuk mengobrol dengan teman barunya itu.


"Naura tidak masuk bekerja sayang....ayahnya jatuh sakit lagi, kasihan dia" jawab Alea pelan sambil meletakkan belanjaannya di bangku penumpang.


"Kau bisa menjenguknya besok bukan"


"Iya....kau benar, aku akan menjenguknya besok aku rasa dia di rawat di rumah sakit yang sama dengan biasa ayahnya berobat"


Kedatangan Alea dan Abrar sudah ditunggu-tunggu Bella dan Ricko.


"Sayang.....mama merindukanmu" ucap Bella memeluk menantunya dengan sayang.


"Aku juga merindukan kalian" jawab Alea dalam pelukan mertuanya.


Namun pemandangan itu tampak tidak menyenangkan bagi Vina, terlihat jelas bahwa Bella menyambut Alea dengan girang. Entah karena ia iri atau hanya karena hormon kehamilan yang membuatnya merasa sensitif.


"Bagaimana kabarmu Vina?" tanya Alea memeluk iparnya itu dan mengusap perut Vina dengan senyum tulus.


"Aku baik Alea" jawab Vina datar.


Kemudian Alea menyapa Arkan yang juga ada di sana dengan sebuah kode Alea menatap tajam pada pria itu, Arkan hanya tersenyum canggung.


Bergantian dengan Abrar memeluk kedua orangtua yang ia rindukan.


Mereka duduk bersama dan makan malam dengan tenang, Alea sangat senang karena mertuanya masak makanan kesukaannya dan Abrar malam ini dengan sangat istimewa.

__ADS_1


"Ayo sayang makan yang banyak, kita jarang makan bersama seperti ini" ajak Bella mengusap punggung menantunya dengan lembut.


"Ma....Atthar mana?"


"Biasa anak itu ada kerja kelompok dengan teman-temannya jadi tidak ikut makan bersama malam ini" jawab Bella.


Vina terus memperhatikan gerak gerik mertua yang menurutnya berlebihan dalam menyambut Alea dan Abrar, terlebih ketika Alea bermanja-manja dengan mama Bella seperti anak kandung sendiri.


Pada kenyataannya memang Alea dan Bella sudah dekat sejak dulu, jadi tentu tidak canggung dalam hal apapun mereka tidak tampak seperti mertua dan menantu. Setelah makan malam mereka duduk bersama di ruang keluarga, dimana Abrar dan Arkan tengah membahas masalah pekerjaan dengan papa Ricko.


Vina hanya diam saja sejak tadi memperhatikan Alea berceloteh panjang pada mama mertuanya, mereka bercerita banyak hal sesekali bergurau, Vina hanya sesekali saja menanggapi.


"Ma....tunggu sebentar, aku melupakan sesuatu aku tadi membeli roti di toko tempat temanku bekerja, aku akan mengambilnya di mobil" ucap Alea yang segera di angguki oleh Bella.


Selang beberapa menit Alea pun kembali dengan sekantong roti yang ia beli dari toko tempat Naura bekerja.


"Ini roti di toko tempat teman baru ku bekerja ma, ini enak....coba mama cicipi" Alea membuka satu kemasan dan memberikannya pada mama Bella.


"Ini enak...." kunyah mama Bella yang disuapi Alea.


"Vina cobalah, kau kan sedang hamil harus banyak makan, setelah makan nasi di lanjut makan roti ini lagi" canda Alea.


"Alea aku sedang hamil, kau memberiku roti yang bahkan kemasannya saja tidak ada merk disana, apa kau membelinya dipinggir jalan? nanti jika tidak cocok dengan kandunganku bagaimana? kita tidak tahu itu bersih atau tidak"


"Vina, ini enak....rasanya tidak kalah dengan roti terkenal" sambung mama Bella.


"Aku sedang hamil ma, tidak bisa makan sembarangan" jawab Vina kesal.


"Astaga.....Vina, ini roti terjamin kebersihannya aku melihatnya sendiri meski toko kecil namun mereka membuatnya secara aman dan bersih, aku ini calon dokter tidak mungkin memberimu makanan sembarangan" jawab Alea tak kalah kesal.


"Sudah....jika kau tidak mau tidak apa-apa Vina, kami tidak memaksa hanya saja benar kata Alea ini roti memang enak dan tidak kalah rasanya dengan roti terkenal di mall"


"Aku tidak mau ma....aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kandunganku nantinya, Alea kan baru calon dokter belum menjadi dokter" jawab Vina seraya meninggalkan mereka.


Alea menatap Vina dengan kesal.


"Sabar sayang....harap maklum perempuan yang sedang hamil memang suka sensitif" ucap Bella menenangkan Alea.


"Huh....kenapa Vina sekarang jadi menyebalkan, tidak suami tidak istri sama saja menyebalkannya" cebik Alea menggigit bibir bawahnya kesal.


Bella tersenyum melihat menantunya berwajah menggemaskan baginya Alea tidak pernah berubah masih seperti gadis kecil yang sering bermain bersama kedua putranya di rumah ini ketika dulu.


***

__ADS_1


lanjut yaaa ini author kasih visualnya Dannis agar kita tidak lupa dengan saudara kembarnya alea yang nurun tampannya kemal banget dah...



__ADS_2