
"Ayolah jangan marah....", bujuk Dannis pada Nesya yang hanya diam sejak tadi, mereka berada dalam perjalanan pulang dari kediaman Alea.
"Aku bingung padamu Dannis, kau menikah tanpa memberitahuku, aku hanya tidak menyangka kau bisa menikah secepat ini, padahal kata setia dan cinta selalu kau ucapkan di hadapan pusara makam adikku".
"Maaf, tidak semua yang kau dengar adalah kenyataannya.... aku mencintai adikmu selamanya, menikah tidak akan mengubah apapun, aku hanya dijebak oleh gadis itu", jawab Dannis serius.
"Apa dijebak? tidak mungkin, lagipula aku melihat sendiri kau berciuman, itu tandanya kau menyukai gadis itu", ucap Nesya dengan nada kesal.
"Berciuman? kapan?", tanya Dannis heran, ia mengingat ketika mencium paksa Nara hanya ketika mereka sedang berdua saja.
"Huh.... jangan berpura-pura, aku melihatnya jelas dalam sebuah video di ponsel Sheira".
Dannis berdecak, ia tahu ini pasti ulahnya Sheira, karena hanya adik perempuannya inilah yang paling menyukai Nara dan mendukung pernikahan mereka.
"Jangan dengarkan dia", jawab Dannis cuek.
"Kau bahkan terlihat biasa saja Dannis, oh kau menyebalkan, kau bahkan tidak memberiku kesempatan yang sama, sekarang kau sudah menikah dengan gadis itu setidaknya dia menang selangkah dariku".
"Dia sungguh beruntung", gerutu Nesya lagi.
"Kau salah, dia bahkan akan menyesal telah menikah denganku", ucap Dannis lagi seraya mengemudi dengan fokus.
"Teruslah berbohong", kesal Nesya.
Dannis hanya bisa menghela napas, ia tidak mengambil pusing saat teman baiknya itu merajuk.
*****
Dannis pulang setelah mengantarkan Nesya, pria itu kembali dengan membawa sebuah kantong berisi makanan.
Ia terkejut ketika tubuhnya hampir bertabrakan dengan seseorang yang memakai sweater dan berwajah pucat itu.
"Astaga.....", Dannis terbelalak ketika melihat Nara berpenampilan lain.
"Kau kenapa?", tanya Dannis.
__ADS_1
"Aku rasa kau tahu jawabannya", jawab Nara datar seraya melewati Dannis begitu saja.
Gadis itu menuju dapur mengambilkan air minum untuk ia bawa ke kamarnya, terdengar beberapa kali ia bersin.
Dannis menatapnya lama, ia tidak mengira bahwa perbuatannya tadi pagi bisa membuat gadis itu terserang flu mendadak.
Setelah mengambilkan air, kembali Nara melewati tubuh Dannis tanpa basa basi, hal itu membuat Dannis menjadi heran.
"Ini ku bawakan kau kue".
Nara berhenti melangkah dan berbalik menatap Dannis dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
Gadis itu melirik sebuah kantong makanan di tangan pria itu.
"Jangan GR, aku tidak membelinya untukmu.... ini titipan Aira, dia mengingat mu sebagai gurunya bernyanyi", ucap Dannis cepat.
Nara tidak menjawab, ia mendekat lalu berniat ingin menerima makanan itu namun Dannis menariknya lagi ke atas.
Nara memejamkan mata sejenak, "Aku sakit tuan, aku sedang tidak ingin bercanda", Nara berkata lesu.
"Apa kau berenang seharian hingga kau sakit seperti ini? kau itu pelayan, tidak boleh sakit, jika kau sakit siapa yang akan mengurus rumah ini?".
Nara hanya diam menatap Dannis berbicara, gadis itu sedang tidak ingin meladeni pria yang berusaha mencari kesalahannya.
"Aku hanya flu, aku akan bekerja seperti biasa.... jadi kau jangan takut, aku pasti akan mengurus rumah ini tanpa kau minta sekalipun", jawab Nara pelan.
"Bagus..... Oh iya, apa kau menemukan kalungnya?", tanya Dannis seraya tersenyum mengejek.
Nara menggeleng.
"Oh kasihan sekali, ini makanlah dahulu kue pemberian keponakan ku agar kau punya energi untuk menemukan kalung itu, asal kau tahu aku tidak membuangnya di kolam, seingatku aku membuangnya di taman samping kolam renang, aku rasa kalung mu terdapat di sela-sela rerumputan".
Nara sudah bisa menebaknya, karena ia sudah berusaha menemukan kalung itu di kolam namun tidak juga mendapatkan hasil meski gadis itu menyelam berkali-kali.
"Baik.... terimakasih atas petunjuk mu tuan", jawab Nara pelan, kepalanya pusing akibat flu.
__ADS_1
"Ck..... kau menyebalkan", entah kenapa Dannis menjadi kesal sendiri saat Nara tidak meladeninya.
Pria itu menaruh makanan yang ia bawa tadi di atas meja dengan kasar, lalu ia pun meninggalkan Nara yang mematung di sana.
Nara menatap sayu punggung Dannis.
"Mungkin bagimu hanya kalung biasa tuan, namun bagiku itu satu-satunya kenangan yang masih ku punya tentang mendiang ibuku".
Nara berkata dengan pelan. Nara memutuskan ingin kembali ke kamarnya saja, namun ia urung ketika mengingat bahwa Dannis baru saja mengatakan bahwa pria itu membuang kalungnya di rerumputan.
Nara segera menuju taman kecil di samping kolam renang.
Dannis membuka kemejanya hingga hanya bertelanjang dada saja, ia menatap wajahnya di cermin.
"Kenapa aku jadi suka mengerjai gadis itu sekarang, seakan ini menjadi kebiasaan baru bagiku....", gumam Dannis tersenyum sungging.
"Tentu saja aku akan mengerjainya sampai puas, setelah itu baru akan ku lepas", gumamnya lagi.
Dannis meminum air yang berada di nakas, ia memegang gelas seraya berjalan ke arah jendela, ia menengadahkan kepalanya menatap beberapa bintang yang terlihat menghiasi langit kelam.
"Aku merindukanmu Khanaya Saraswati", gumam Dannis sambil menarik napas dalam.
Lalu penglihatannya beralih ke arah bawah, dimana ia melihat seorang perempuan yang ia yakini itu adalah istrinya.
"Huh..... Kenapa dia sebodoh itu, bahkan bisa ku tipu untuk kedua kalinya hari ini", Dannis tertawa pelan menatap Nara yang sibuk menyibak rumput demi menemukan kalungnya.
"Sampai kapanpun kau tidak akan menemukannya bodoh, seberapa pentingkah kalung ini?", ucap Dannis pada dirinya sendiri.
Dannis mengeluarkan kalung yang disimpannya di saku celana yang ia pakai, ia membuka liontin berbentuk hati itu.
"Apa ini ayah dan ibunya?", tanya Dannis beralih menatap Nara.
"Kau merasakan bagaimana kehilangan barang berharga sebagai kenangan dari orang yang sudah meninggal, itu sebagai balasan kau telah lancang menyentuh beberapa barang kenangan kekasihku, kau bahkan menghasut keluarga serta keponakan-keponakanku untuk menyukaimu, tapi sayangnya aku tidak.".
"Ada harga yang harus kau bayar istriku".
__ADS_1