
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Kenapa harus pergi? Aku kan baru merintis usaha cateringku." protes Karin saat Yusuf mengutarakan rencananya mengajak ia dan Delvara serta pak Adi pindah ke luar negeri.
"Kamu masih bisa kok memulai yang baru di sana. Ada aku yang selalu mendukungmu." bujuk Yusuf.
"Tapi kenapa begitu tiba tiba?" Karin tak langsung bisa menerima ajakan itu.
"Ya karena,,,," Yusuf sepertinya tak punya alasan tepat menjawab pertanyaan Karin itu.
Seminggu sejak pembicaraannya dengan Hana itu,,, Yusuf memang lebih disibukkan dengan urusan bisnis yang sekarang di merge dengan perusahaan yang Hana pimpin hasil mengambil alih dari Dion.
Yusuf sampai tak punya waktu banyak bersama Karin akhir akhir ini. Dan itu membuat ia baru punya kesempatan untuk bicara pada Karin mengenai keputusannya untuk pindah.
Hana memang terlalu pandai untuk tidak begitu saja melepaskan Yusuf begitu saja. Ada saja akalnya untuk membuat Yusuf harus berlama lama dengannya.
"Karena apa??" Karin menyadarkan Yusuf dari diamnya.
"Karena,,, Karena aku ingin kita memulai hidup baru. Aku,,,kamu,,, Delvara,,, dan om Adi tentunya. Di tempat ini kita bertemu dengan seribu lukamu,,,aku tidak ingin kamu terus terbayangi masa kelam itu. Aku ingin kamu melupakannya."
Jawaban sekenanya dari Yusuf itu membuat Karin diam. Ia paham maksud pria itu. Yusuf tentu sudah sangat ingin memperistri dirinya. Meski Karin belum pernah benar benar mengiyakan.
"Aku tau maksudmu baik. Aku juga tidak pernah memungkiri bahwa kamulah yang membantuku bangkit lagi,,, tapi bukan berarti aku tidak boleh memikirkan segala sesuatunya dulu bukan? Apalagi kita juga bukan,,,,"
"Segera,,, kita akan segera jadi suami istri. Tinggal kamu katakan satu kata saja." potong Yusuf cepat.
"Yusuf aku,,," Karin sungguh berat menerima semua itu begitu saja.
"Nak,,, Boleh papa ijin bicara?" pak Adi dengan sopan menengahi.
__ADS_1
Beliau merasa keduanya butuh saran. Selama ini beliau memang menyerahkan segala keputusan pada keduanya karena yakin keduanya sudah sama sama dewasa.
"Silahkan pa." ucap Karin sembari mengambil alih Delvara dari gendongan opanya itu.
"Kalian sudah cukup lama saling mengenal. Kalian juga sudah cukup lama saling terkait satu sama lain. Papa rasa memang sudah cukup juga waktunya untuk kalian menyudahi hubungan tidak pasti ini. Harus ada kepastian dan papa harap kamu tau seperti apa kepastian yang papa maksud Rin. Nak Yusuf sudah lama menunggu kepastian itu. Begitu juga cucu papa ini,,," ucap pak Adi halus.
"Pa,,,Karin,,,"
"Papa juga sudah menunggu lama untuk melihatmu kembali bahagia nak. Punya rumah tangga yang utuh. Pendamping yang senantiasa siaga untukmu. Papa semakin tua,,,umur tidak pernah ada yang tau. Papa takut papa tidak bisa menemanimu lebih lama. Setidaknya kalau kalian sudah ada kejelasan,,,maka papa akan jauh lebih tenang."
"Pa,,," Karin begitu sedih mendengarnya.
"Tidakkah kamu ingin buat papa bahagia juga nak? Papa tau kamu begitu menyayangi suamimu itu,,, begitu ingin berbakti dengan terus menunggunya,,, tapi apa rasa sayangmu untuk papa sudah tidak tersisa lagi??Tidakkah kamu ingin melihat wajah tua ini tersenyum lagi melihatmu bahagia dengan keluarga kecil barumu??"
Pertanyaan yang halus namun menyudutkan itu sukses membuat airmata bening yang sudah dibendung sejak tadi oleh Karin akhirnya tumpah. Bersamaan dengan didekapnya tubuh pak Adi hingga Delvara agak terjepit.
Yusuf yang kasihan pun mengambil Delvara agar makin tak terjepit dan membiarkan ayah dan anak itu saling mengungkapkan kasih sayangnya. Bagaimana pun juga Yusuf juga senang dengan apa yang dikatakan pak Adi itu.
"Karin sayang papa." hanya itu yang keluar dari bibir Karin.
Karin berhenti menangis. Tanpa melepas dekapannya dari pak Adi,,,Karin pun menoleh ke arah Yusuf yang tengah menggendong Delvara dan tegang menunggu jawaban.
"Iya,,, Karin mau menerima Yusuf sebagai suami dan ayah Delvara." akhirnya kalimat yang walau lirih itu membuat Yusuf bersorak dalam hati.
Ia telah memenangkan hati wanita pujaan hati yang sudah sangat lama diinginkannya menjadi istrinya itu. Kalau saja tidak malu,,, ia sudah melompat kegirangan.
"Kamu serius Rin?" tanyanya menahan luapan kebahagiaan.
Melihat Karin mengangguk ia makin tak bisa menahan rasa bahagianya itu. Ia mendekat dan ingin memeluk wanita kesayangan yang sebentar lagi resmi menjadi miliknya itu.
"Belum waktunya." ucap Karin yang tau gerak gerik Yusuf itu.
__ADS_1
"Benar itu nak." kata pak Adi sembari tersenyum simpul.
"Hehehe,,, jadi malu. Terima kasih ya Rin. Terima kasih om sudah merestui Yusuf." Yusuf benar benar bahagia.
"Sama sama nak. Kalau begitu papa tinggal kalian berdua ya. Silahkan dibicarakan lebih serius bagaimana rencana kalian ke depannya. Rin,,,setelah kalian resmi menikah nanti,,,sebagai seorang istri,,, kamu juga berkewajiban untuk ikut kemana pun perginya suamimu ini nantinya." pesan pak Adi lalu membawa Delvara keluar dari ruangan itu.
Itu membuat Karin ingat bahwa Yusuf ingin membawanya pergi.
"Kita jadi pergi?" tanyanya.
"Jadi dong." sahut Yusuf senang.
"Setidaknya tunda beberapa hari saja biar aku bisa siap siap." pinta Karin.
"Karena kamu sudah menerima lamaranku,,,maka aku rela menghanguskan tiket yang sudah kubeli ini." Yusuf merobek tiket pesawat yang sedianya akan digunakannya untuk meninggalkan negara ini bersama Karin.
"Terima kasih." Karin tersenyum tipis.
"Bukan kamu yang harus berterima kasih tapi aku. Terima kasih sudah memberi ending yang manis dalam penantianku selama ini. Terima kasih sudah bersedia jadi istriku dan ibu dari anak anakku nantinya,,, Kamu adalah segalanya bagiku Rin. Kamu tau itu,,,"
Karin kembali tersenyum tipis. Dibiarkannya Yusuf pulang dengan seribu senyum bahagia tersungging di wajahnya.
"Apa aku bahagia dengan semua ini? Tuhan,,,maafkan hamba yang masih mendua hati. Maafkan hamba yang masih berharap masih ada keajaiban saat hamba sudah mengiyakan lamaran pria lain."
Karin meraih foto kebersamaannya dengan Dion. Dipandanginya baik baik wajah yang masih selalu memenuhi angan angannya itu.
"Om papa,,, Dosakah Karin? Maukah om papa memaafkan Karin karena keputusan Karin ini?" lirihnya.
Dibukanya jendela kamarnya hingga angin meniup manja wajahnya yang sudah sangat basah oleh airmata kerinduannya kepada Dion.
"Dimana pun om papa berada,,, Karin selalu mencintai om papa. Tuhan,,, Jika kami masih berjodoh,,, maka hempaskanlah semua penghalang di depan kami. Tapi jika memang sudah habis jodoh kami,,, maka ijinkanlah hamba tetap menyimpan cinta untuk suami hamba ini meski nantinya ada pria lain yang menggantikannya."
__ADS_1
Alih alih membuka jendela agar bisa membuat otak dan pikirannya lebih segar,,, Entah kenapa Angin lembut yang bertiup itu malah membuat Karin makin berat meninggalkan tempat ini seakan ada sesuatu yang menariknya untuk tetap berada di sini.
...❤️❤️❤️❤️...