Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Kerumunan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Ckiiiittttttt,,,,


Kendaraan baja roda empat mewah mengerem mendadak hingga memaksa si baja itu berhenti. Untungnya jalanan sepi karena sudah memasuki kawasan tempat tinggal atau perumahan elite yang memang terbilang sangat tenang suasananya.


Beberapa rumah mewah yang berjejer di sepanjang jalannya bagai membisu melihat sebuah mobil yang kalau suasana jalanan rame maka akan membahayakan pengemudinya sendiri dan yang lain juga.


Bahkan satpam di beberapa rumah mewah itu pun hanya melongokkan kepalanya sekedar ingin melihat apa yang terjadi. Melihat hanya sebuah mobil berhenti dan bukan kecelakaan, maka mereka kembali ke posnya masing masing.


"Palingan juga pengemudinya hanya sedang ingat sesuatu atau ponselnya terjatuh saat digunakan."


Begitu pikir mereka. Namun tidak dengan satpam yang bekerja tepat di rumah yang halamannya terdekat dengan mobil itu. Satpam itu memilih keluar dari gerbang raksasa milik tuannya dan menghampiri mobil itu.


Satpam itu mendekati pintu sopir. Melihat ke dalam kaca gelap itu dengan menutup dua sisi wajahnya agar bisa menembus kegelapan kaca mobil itu. Samar samar ia melihat pengemudinya tidak bergerak dan kepalanya menempel di kemudinya dengan pandangan ke bawah.


Tok tok tok,,, Satpam itu mengetuk kaca mobil. Beberapa kali mengetuk tetap tidak ada respon dari pengemudi itu. Menyadari ada sesuatu yang aneh, satpam itu mulai meminta pertolongan.


"Mang bantuin mang. Kayaknya mah ini orangnya pingsan atau kenapa itu yah,,," teriak satpam itu kepada satpam rumah sebelah dengan logat kentalnya.


"Waahhh apa meninggal apa gimana tuh,,," sahut si satpam sebelah sembari cepat cepat membuka pintu pagar yang tak kalah mewahnya.


Beberapa satpam lain yang mendengar mereka pun kembali melongokkan kepalanya dan kali ini mereka memilih keluar dari zona masing masing.


"Ada apa ini??"


"Ini mobil yang ngerem mendadak barusan kan??" tanya yang lainnya yang juga mendekat.


"Buka paksa saja. Kasihan kalau kenapa kenapa orangnya."

__ADS_1


"Telpon polisi juga sebaiknya. Nanti kalau meninggal kita kita juga yang repot kan." Ada yang tidak setuju karena takut kena masalah.


"Jadi gimana ini?? Bantu buka tidak???" tanya satpam pertama yang sangat berniat membantu.


"Tenang kan ada cctv yang bisa menunjukkan kronologinya kalau ada yang memberatkan kita." sahut salah satunya sambil menunjuk ke cctv rumah terdekat yang mengarah kepada mereka saat ini.


Akhirnya ada jawaban yang menenangkan. Persetujuan pun diambil sembari ada yang menghubungi polisi juga ada yang bantu membuka pintu mobil. Tapi nampaknya usahanya gagal karena mobil mewah yang tampilannya masih sangat baru itu mengunci dengan kuat.


Polisi di pos terdekat yang dipanggil pun segera tiba di lokasi saat mobil itu tetap tidak mau terbuka. Polisi itu menenangkan dan berusaha menghubungi seseorang yang dirasa bisa membantu membuka pintu mobil.


Kerumunan pun akhirnya makin banyak karena mengundang perhatian beberapa mobil atau orang yang lewat. Tidak banyak dan bukan orang orang umum melainkan orang orang yang tinggal di kawasan itu saja.


Termasuk Darwin yang melintas dengan mobil keluarga Dion. Ia baru menjemput Mela di pasar.


"Ada apa itu ya kok rame rame?" gumamnya.


"Kecelakaan mungkin bang." sahut Mela yang duduk di kursi sebelahnya.


"Kecelakaan?? Jalanan sepi gini???" Darwin tidak terima dengan jawaban Mela.


"Loh baaaanggg,,, Itu mobil tuan!!!" pekiknya.


"Haahhh masak??? Yakin kamu???" Darwin jadi panik dan memaksa kendaraan yang ditumpanginya itu berhenti untuk memastikan.


"Iya bang yakin. Buruan turun!!!" Mela tidak sabar.


"Iya iya tapi cari parkir dulu biar gak ganggu mobil lain yang mau lewat." Darwin masih tak hilang akal.


Begitu mendapat tempat yang pas untuk parkir, ia dan Mela pun segera turun menembus kerumunan itu.


"Astaghfirullah ini benar tuan." ucap Darwin.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Tuan kenapa ini??" Mela tak tahan untuk tidak menangis.


Rasa sayang, hormat sekaligus menganggap bahwa tuan yang selalu baik hati kepadanya itu membuat Mela tidak bisa untuk tidak menangis meski belum tau pasti kejadiannya bagaimana. Tapi ia yakin tuannya itu pasti sedang tidak baik baik saja.


"Bisa minta tolong untuk Buka paksa saja bapak bapak. Rusak juga tidak apa apa yang penting korban segera bisa diselamatkan. Saya yang tanggung jawab. Saya kenal dengan pengemudinya. Ini tuan saya." ucap Darwin kepada polisi yang mengurus kejadian ini.


"Baik."


Polisi yang juga gelisah menunggu yang ditelpon tak kunjung tiba akhirnya menyetujui. Dengan mengerakkan orang orang itu untuk menarik paksa atau memecahkan kaca mobil bagian belakang agar ada yang bisa masuk ke dalam mobil itu untuk membuka kunci dari dalam.


Beberapa menit kemudian kaca belakang pun pecah dan Darwin adalah orang yang memilih untuk masuk. Tak peduli ada beberapa bagian sikunya yang tergores karena memaksakan diri masuk melalui jendela mobil yang lumayan sempit untuk ukuran tubuhnya yang menggemuk saat ini.


"Ya Allah tuan,,, kenapa tuan?? Tuan,,, Tuan,,," Ia menegakkan tubuh Dion yang sudah lemas agar menyandar di jok mobil.


Tak ada jawaban dari Dion. Ia tetap memejamkan matanya. Dengan hati berdebar, Darwin memberanikan diri meletakkan jarinya tepat di hidung Dion agar bisa merasakan hembusan nafasnya.


"Buka bang,,, Bukaaaa,,," Mela sudah menggedor kaca pintu sopir.


Darwin terkejut sekaligus ingat bahwa misinya masuk tadi memang untuk membuka pintu. Dimatikannya mesin mobil yang masih menyala lalu membuka kunci otomatisnya. Mela langsung membuka pintu.


"Bang tuan gimana???" tanyanya begitu pintu terbuka.


"Tolong kami bapak bapak. Bantu saya menurunkan tuan saya dan masuk ke mobil itu. Saya akan segera bawa ke rumah sakit." Darwin tak menjawab Mela melainkan meminta bantuan pada orang orang.


"Minggir mbak. Beri jalan." titah seorang bapak bapak kepada Mela.


Mela menyingkir dengan perasaan tak menentu karena tak mendapat jawaban dari Darwin. Segera ia menyusul Darwin yang dibantu oleh bapak bapak mengangkat tubuh Dion ke mobil yang dipakai Darwin tadi.


"Kamu pulang saja Mel. Kabari mbak Karin. Ingat jangan sambil nangis. Bilang saja untuk segera menyusul ke rumah sakit B tempat biasa tuan." titah Darwin begitu tubuh Dion sudah masuk mobil.


Mela yang tadinya mau ikut naik mobil langsung mengangguk cepat dan juga dengan langkah seribunya berlarian menuju rumah Dion yang sudah tidak seberapa jauh dari lokasi. Namun yang namanya sedang panik, meski rasanya sudah berlari sekuat tenaga tetap saja dirasa jarak yang biasanya terasa dekat kini semakin jauh saja.

__ADS_1


"Ya tuhan,,, lindungi tuan tuhan. Apa puj yang terjadi dan menimpanya saat ini, semoga tuan kuat. Kasihan mbak Karin dan anak anak tuhan. Mereka masih kecil kecil." begitu saja Mela berdoa sambil berlarian.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2