Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 28


__ADS_3

Alea berjalan dengan mata sayu, ia berniat akan menunggu suaminya menjemput di halte depan rumah sakit seperti kemarin, Nazli sudah menawari akan mengantarkan Alea pulang namun ia tolak karena sudah berjanji akan di jemput sang pujaan hati.


Baru saja ia keluar dari gerbang rumah sakit, senyumnya mengembang tatkala suami tampannya sudah menunggu berdiri di samping mobil namun prianya tengah menelepon seseorang di seberang jalan yang berjarak sekitar dua puluh meter saja dari gerbang rumah sakit tempat Alea berdiri sekarang.


"Bang Abrar selalu membuatku jatuh cinta setiap hari" gumamnya sambil terus mengulum senyum melangkah ke arah suaminya berada.


Namun di luar dugaan, Alea yang kurang fokus menyeberang karena tatapannya tertuju pada sang suami saja, lalu lintas depan rumah sakit mulai ramai karena jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi itu artinya saat seperti ini sudah mulai banyak pasien yang datang berobat hingga jalan menjadi ramai oleh pengendara yang akan masuk ke lingkungan rumah sakit.


Alea terkejut ketika tubuhnya serasa melayang dan ia menyadari bahwa hampir saja ia tertabrak seorang pengendara motor yang melaju kencang jika tidak diselamatkan oleh seorang gadis yang berada disampingnya saat ini.


Alea memegang dadanya serasa jantungnya akan lepas, ia menarik napas dalam kemudian ia mengumpulkan kesadaran menatap gadis itu.


"Nona tidak apa?" tanya gadis itu.


"Tidak....terimakasih sudah menyelamatkan ku" ucap Alea sambil menunduk terimakasih.


"Syukurlah, memang sangat ramai sekarang jadi kita harus hati-hati menyeberang" jawab gadis itu.


Alea kembali mengangguk dan tersenyum, lama ia menatap gadis itu.


"Kenapa nona melihatku seperti itu?"


"Astaga.....apa kau lupa, kita baru bertemu tempo hari, kau gadis yang hampir tertabrak oleh mobil suamiku itu kan?"


Lama gadis itu berpikir seperti mengingat sesuatu.


"Iya....nona masih mengingat ku?"


"Tentu saja aku ingat, aku sangat baik dalam mengingat sesuatu tidak seperti mamaku" jawab Alea terkekeh.


Gadis itu pun tersenyum.


"Siapa namamu?" tanya Alea kembali.


"Aku Naura nona"


"Naura...nama yang bagus, aku Alea senang berkenalan denganmu Naura, terimakasih banyak sudah menolongku, kenapa kau ada di sini? siapa yang sakit?"


"Aku datang untuk menemani papa ku fisioteraphy nona, beliau sudah menunggu di sana bersama mama ku, kebetulan aku baru saja membeli minuman" tunjuk Naura pada minuman ditangannya.


"Oke baiklah, semoga papamu segera pulih, aku juga akan pulang suamiku sudah menunggu disana, terimakasih sekali lagi untukmu Naura" Alea pamit sambil memegang bahu gadis itu.


Naura hanya mengangguk dan membalas lambaian tangan Alea ketika menyeberang menuju Abrar berada, setelah itu Naura pun segera masuk kembali ke rumah sakit.


"Sayang....." panggil Alea pada Abrar, pria itu langsung mengakhiri teleponnya ketika istrinya sudah datang.


"Maaf, aku menunggumu disini saja tadi ada yang menghubungiku jadi tidak bisa menjemputmu masuk ke dalam" jawab Abrar membelai wajah istrinya.


"Tidak masalah, ayo pulang...." ajak Alea.

__ADS_1


Mereka masuk mobil dan melaju dari sana.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Alea.


"Teman kuliah ku, dia akan kembali ke tanah air besok"


"Perempuan?" lirik Alea tajam, membuat Abrar terkekeh.


"Tidak sayang, dia lelaki seumurku....tapi dia masih lajang"


"Benarkah, apa dia tampan?" tanya Alea berbinar.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, baiklah akan ku bunuh dia jika sampai kau terpesona padanya"


"Aku bercanda sayang....oke lupakan, ayo mampir aku lapar" rengek Alea.


"As you wish nyonya Abrar"


Alea kembali tersenyum mendengarnya, mereka mencari tempat sarapan sebelum pulang.


*****


Setelah sarapan, Abrar yang mendapat telepon dari kantornya segera mengantarkan Alea pulang agar ia bisa kembali ke kantor karena ada tamu yang menunggunya disana.


"Sayang kau langsung ku antar pulang saja ya, ada tamu menunggu ku di kantor, maaf aku tidak bisa berlama-lama bersamamu hari ini" sesal Abrar.


"Aku tidak mau...." jawab Alea ketus.


Alea masih menggeleng, ia merasa kurang waktu jika bersama suaminya pada siang hari seperti ini karena Abrar harus disibukkan oleh urusan kantor yang sama sekali tidak ia sukai.


"Alea...." ucap Abrar sendu, pria ini juga tidak ingin berpisah.


"Abang jahat, selalu saja sibuk....huh menyebalkan, aku bosan menunggu mu di rumah, bolehkah aku ikut?" tatap Alea dengan mata memohonnya.


"Sayang kau lelah dari berjaga semalam, kau harus tidur dan istirahat aku tidak mau kau sakit"


"Tidak....aku tidak lelah jika bersamamu, ayolah bang Abrar, aku ikut ke kantormu aku bisa menunggu mu di sana, maksudku yang penting kita tidak terpisah jarak, aku tidak mau pulang" jawab Alea geli sendiri.


"Huh....baiklah" ucap Abrar singkat, ia tidak ingin memaksa Alea pulang dalam keadaan seperti ini, ia paham betul sifat pemaksa istrinya yang mau tidak mau harus di turuti.


"Love you bang Abrar" cium Alea pada pipi suaminya sebelum mereka masuk mobil.


Abrar hanya membalasnya dengan senyuman sambil mengusap kepala istrinya gemas.


*****


Di kantor, Alea dibuat tercengang dengan berbagai kesibukan suaminya mengurus segala sesuatu yang membutuhkan persetujuan pria itu, beberapa staff dan tamu dari perusahaan lain yang datang untuk bekerja sama, belum lagi harus memimpin rapat, Abrar sedikit lebih sibuk karena Arkan telah mengambil cuti untuk menikah minggu ini.


Alea kagum melihat suaminya dalam bekerja, beruntung Gina memang sudah tidak disana lagi, gadis itu mau tidak mau ditempatkan pada bagian lain di lantai yang berbeda, setidaknya itu sangat melegakan bagi Alea.

__ADS_1


"Aku sangat bersyukur akan menjadi dokter saja, aku rasa perusahaan papaku akan bangkrut jika aku yang meneruskannya, huh.....beruntungnya aku tidak jadi kuliah perkantoran" gumam Alea sambil geleng kepala melihat suasana kantor pada jam sibuk seperti ini.


Perempuan cantik ini, hanya duduk diam menunggu di ruangan suaminya sambil terus memandangi pria itu fokus bekerja, sesekali Abrar menghampiri istrinya hanya untuk memberi usapan atau sebuah ciuman yang akan membuatnya bersemangat.


Tidak lama seorang mengetuk pintu yang segera diperbolehkan masuk oleh Abrar yang ternyata adalah Vina, calon istri dari Arkan.


"Vina?" sapa Alea.


"Alea"


Mereka berpelukan.


"Kau disini menemani suamimu?" tanya Vina heran, karena memang Alea tidak pernah ke kantor lagi sejak menikah.


"Iya....aku baru pulang dari rumah sakit langsung kesini, sesekali ingin menemani suamiku bekerja" jawab Alea melirik Abrar.


"Oke baiklah, seperti inilah lingkungan kerja kami orang kantoran tidak sepertimu di rumah sakit, aku kesini ingin mengantarkan surat cutiku" ucap Vina.


"Vina, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja Alea, kau mau bertanya apa?"


"Apa kemarin kau datang kerumah mama Bella untuk bertemu bang Arkan?" tanya Alea tanpa ragu.


"Tidak, memangnya kenapa Alea? aku bahkan sudah tiga hari belum bertemu calon suamiku, kami sama-sama sibuk menyebar undangan untuk teman sekolah masing-masing"


"Begitukah, tidak ada aku kira kau ada bertemu dengan pria gila itu kemarin" jawab Alea bercanda.


"Astaga aku merindukannya Alea, ini semua karena mu" jawab Vina pun bercanda.


Mereka mengakhiri percakapan singkat itu karena Abrar sudah memberi kode agar Vina segera berlalu dari sana.


"Sayang....kau tidak lelah, aku sudah tidak sibuk aku akan mengantarkan mu pulang" Abrar menghampiri istrinya di sofa.


"Jika kau antar aku pulang, kau akan kembali kesini bukan? aku tidak mau" rengek Alea memeluk badan besar suaminya dengan manja.


"Astaga....istriku begitu posesif" ucap Abrar mencium bibir Alea gemas.


"Biar saja, aku melihatmu bekerja dari tadi banyak karyawan wanita yang masuk kesini, itu menyebalkan" jawab Alea kesal.


"Jadi aku harus bagaimana sayang? memang seperti inilah perkantoran"


"Bagaimana jika aku berhenti saja koas? aku bisa ikut dengan mu setiap hari disini, atau aku saja yang jadi sekretarismu menggantikan nona Gina yang sok seksi itu, astaga....kenapa aku begitu cemburu sekarang, pasti aku menyebalkan bagimu kan..." ucap Alea menunduk, ia merasa kesal sendiri kenapa bisa ia punya perasaan seperti ini.


Abrar tersenyum mendengarnya.


"Hei....kau hanya perlu percaya padaku sayang, bukankah suami istri harus saling mempercayai? aku disini bekerja bukan tebar pesona, aku bekerja untukmu sayang" jawab Abrar memengang wajah Alea dengan lembut bersamaan tatapan serius dari manik pria itu.


Alea memeluk Abrar erat, ia teringat akan jawaban Vina tadi membuktikan bahwa wanita yang ia lihat berciuman dengan Arkan kemarin memang bukan Vina, ia menjadi takut sendiri akan hal yang sama terjadi padanya, meski Alea tahu bahwa sifat Arkan dan suaminya sungguh memang berbeda, Arkan terkenal playboy sejak sekolah, namun Alea tidak tahu kehidupan Abrar selama di luar negeri yang tentunya bisa lebih bebas dari sini.

__ADS_1




__ADS_2