
Alea terkejut ketika mama Eliana datang ke rumah sakit bersama mama Bella, Alea belum mengerti akan kedatangan mereka, namun pikirannya segera ditepis ketika mama Eliana mengatakan bahwa mama Bella telah ia beritahu tentang kondisi papa Agung yang tengah terbaring sakit.
Alea menjadi lega karena mama Bella sama sekali tidak marah, sepertinya mertuanya itu telah benar-benar mengikhlaskan dan melupakan masa lalu pahitnya, mama Bella bahkan menjenguk dan sudah memaafkan papa Agung dan juga mama Clara.
Alea tersenyum bahagia melihat para orangtuanya telah sama-sama mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan kembali menyambung tali silaturrahmi yang sempat terputus untuk waktu yang lama bahkan telah memakan waktu 20 tahun lamanya.
Setelah pamit dari ruang rawat papa Agung, mama El dan mama Bella pun pamit akan pulang pada Alea yang mengantar mereka ke depan gedung.
"Sayang.....mama akan membantumu bicara dengan suamimu tentang hal ini, bersabarlah memang tidak mudah namun kita harus usaha, mama juga merasa kasihan melihat papamu dalam keadaan seperti ini, Abrar dan Arkan harus mengetahuinya" ucap mama Bella pada Alea ketika mereka berpelukan.
Alea mengangguk, sungguh ia juga berharap suami dan iparnya Arkan juga akan bersikap seperti mama Bella.
"Yang lalu biarlah berlalu" jawab mama El menimpali.
"Aku akan berusaha membujuk suamiku ma, kasihan papa...." jawab Alea.
"Tentu saja sayang, mama juga merasa kasihan tidak mudah menjalani hidup dalam keadaan sakit seperti itu, dukungan keluarga terutama anak-anak akan sangat membantu dalam penyembuhannya" ujar mama Bella.
Sungguh wanita paruh baya ini memang telah mengikhlaskan apa yang terjadi pada kehidupannya dimasa lalu, hidup dengan dendam tidak akan ada gunanya, apalagi setelah melihat sendiri bagaimana mantan suaminya terbaring lemah dengan penyakit yang benar-benar melumpuhkan keangkuhan seorang manusia bahkan untuk bicara saja tidak bisa.
Alea melambai tangan ketika kedua mamanya sudah memasuki mobil menuju pulang. Alea kembali pada tugasnya yang hanya beberapa jam lagi selesai dan sudah pasti akan pulang dengan cepat karena ia sudah rindu dengan dapurnya, ingin memasak untuk makan malam bersama suami tercinta.
******
Pada kenyataannya Vina yang masih harus memastikan akan kebenaran apa yang telah Alea ucapkan tadi pagi, ia sungguh penasaran apa benar tetangganya selama ini adalah ayah kandung dari suaminya, karena tidak ingin hidup dalam rasa penasaran yang tinggi akhirnya Vina memutuskan akan datang ke kantor suaminya untuk memberitahu hal tersebut.
Kebetulan Arkan tengah berbincang dengan Abrar tentang pekerjaan mereka, tiba-tiba Vina datang seorang diri beruntung mereka sudah tidak ada tamu disana.
"Vina?" ucap Arkan bingung, sebab istri pertamanya ini tidak pernah datang ke kantor sejak mereka menikah terlebih ini sudah sore.
__ADS_1
"Sayang....aku ingin bicara sesuatu" jawab Vina sambil duduk disamping suaminya.
"Kau mau bicara apa? Kenapa tidak di rumah saja? Tidak biasanya kau datang ke kantor, kau sedang hamil Vina sebaiknya lebih banyak istirahat saja" jawab Arkan menatap istrinya heran.
Abrar hanya diam saja, pria itu hendak kembali ke ruangannya karena tidak ingin mengganggu percakapan suami istri itu, mungkin saja Vina ada hal penting yang akan mereka bicarakan.
Namun langkahnya berhenti ketika Vina memanggilnya.
"Bang Abrar disini saja, aku ingin bicara pada kalian berdua, ini sangat penting dan menyangkut istrimu Alea" ucap Vina.
Berhasil membuat Abrar kembali duduk dengan raut penuh tanya.
"Ada apa Vina? Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Abrar penuh selidik, ia curiga bisa saja Vina dan Alea kembali bertengkar seperti kemarin.
"Tidak....kami tidak bertengkar, namun ada sesuatu yang telah disembunyikan oleh Alea dari kita semua" ucap Vina serius.
Vina menatap suaminya bergantian dengan iparnya itu seraya menarik napas dalam, Abrar dan Arkan begitu serius menunggu jawaban Vina.
"Apa benar nama ayah kandung kalian adalah Agung?"
Membuat Abrar dan Arkan saling menoleh satu sama lain setelah mendengar nama yang sudah lama mereka hapus dalam memori, karena memang mereka hanya menganggap papa Ricko lah ayah mereka sampai saat ini.
Kening Abrar mengerut begitupun adiknya, mereka kembali menatap Vina penuh tanya.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini?" ucap Arkan pada istrinya.
"Huh....ternyata benar paman Agung adalah ayah kalian, kenapa aku tidak tahu selama ini....bahkan Alea mengetahuinya lebih dulu padahal orangtuaku sudah lama bertetangga dengan ayah kandung kalian"
Mendengar nama Alea disebutkan membuat wajah Abrar berubah, ia menajamkan pendengaran akan apa yang sudah Vina ucapkan.
__ADS_1
"Vina apa yang kau bicarakan?" tanya Abrar tidak sabar.
"Asal kalian tahu, jika benar paman Agung adalah ayah kandung kalian, Alea sudah mengetahui ini sejak lama, aku diberitahunya pagi tadi ketika Alea menjemput Naura adik tiri kalian yang kebetulan aku tengah berada di rumah orangtuaku yang bertetangga dengan paman Agung" ucap Vina lancar.
Membuat wajah Abrar memerah, bagaimana bisa istrinya mengetahui hal ini dibelakangnya.
"Apa tadi? Naura?" tanya Abrar lagi.
"Iya....Naura adalah anak dari ayah kalian bersama istrinya sekarang, gadis itu bekerja di sebuah toko roti, aku tidak menyangka ini.....Alea benar-benar hebat bagaimana bisa dia menyembunyikan hal sebesar ini dari kalian terutama darimu bang Abrar"
Abrar mengingat Alea begitu dekat dengan Naura bahkan hampir setiap malam membeli roti di toko tersebut, itu artinya Alea memang telah lama mengetahui ini. Abrar berubah menjadi kesal sendiri.
Arkan pun tak kalah terkejut akan apa yang Vina katakan, ia masih menerka-nerka apa benar pria bernama Agung tetangga mertuanya itu adalah ayahnya.
"Vina, kau bisa jelaskan ini baik-baik, kami belum mengerti....memang benar nama papa adalah Agung, tapi apa benar dia tetangga orangtuamu? Dan apa benar Alea mengetahui ini sejak lama?" tanya Arkan penuh makna.
Istrinya mengangguk pasti.
"Iya....aku mendengarnya secara jelas dari mulut kakak iparmu pagi tadi, Alea bahkan sudah terlihat akrab dengan Naura bukankah itu sudah membuktikan bahwa Alea telah lama mengetahui ini?" jawab Vina seolah sangat pasti.
Arkan menatap kakaknya yang sudah berwajah kesal, ia tidak tahu bagaimana bisa Alea mengetahuinya namun ia percaya apa yang Vina katakan sebab tidak mungkin Alea membuat lelucon tentang ayah kandung mereka pada Vina.
Abrar tidak berkata-kata lagi, pria itu segera berlalu dari sana dan kembali ke ruangannya untuk mengambil jas dan kunci mobil, ia sudah tidak bisa menahannya untuk segera pulang dan menanyakan langsung pada istrinya untuk hal ini.
Vina dan Arkan hanya bisa menghela napas, Arkan kembali mengulik tentang apa yang Vina tahu tentang keluarga yang telah lama bertetangga dengan mertuanya itu.
Jawaban Vina seakan menjawab semuanya, lelaki ini membenarkan bahwa benar Agung nama ayahnya dan Clara nama perempuan yang mereka anggap telah merebut ayah kandungnya sejak mereka kecil.
Arkan pikir tidak salah lagi bahwa benar apa yang Alea katakan tadi pagi pada istrinya itu, sungguh Arkan tidak menyangka Alea bisa tahu dan tega menyembunyikan kebenaran ini dari mereka.
__ADS_1